CorelDraw merupakan salah satu software desain grafis yang sangat terkenal. Berbagai fasilitas untuk mendesain tersedia di sini sehingga memudahkan para penggunanya untuk memanfaatkannya. CorelDraw dapat digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari membuat brosur, membuat pamflet, surat undangan, majalah, brosur dan cover buku yang menarik.
Membuka Corel Draw
Klik Start All Programs pilih CorelDRAW Graphics Suite 12 Klik CorelDraw 12.
Cara lain: Klik shortcut di desktop yang bertuliskan CorelDraw 12.
Tampilan Corel Draw
o Menu utama (1) terdiri dari menu-menu untuk mengoperasikan CorelDraw 12.
o Standar (2) perintah-perintah pada menu utama
o Property bar (3) berisi tombol-tombol perintah tambahan.
o Tool box (4) berisi alat untuk mendesain gambar.
o Ruler (5) sebagai garis pengukur objek
o Color Pallete (6) berisi perintah untuk memilih warna objek.
o Pages (7) sebagai petunjuk halaman yang aktif.
o Lembar kerja (8) halaman tampilan untuk tempat mendesain objek.
Menyimpan Desain File
Klik menu File Save tulis pada filename nama filenya tekan Save.
Menutup File
Klik menu File klik Close.
Menutup Program CorelDraw 12
Klik menu File klik Exit.
Mengatur Ukuran/ Jenis Kertas
Klik menu File New klik kotak Paper Type/Size pada property bar pilih jenis kertas yang anda inginkan. Misalkan letter, legal, tabloid dsb.
Mengatur unit satuan
Klik Drawing Unit pada property bar untuk memilih unit satuan yang anda inginkan. Misalkan: inches, millimeters, dsb.
Menampilkan dan mengatur Grid
Klik menu View Grid garis grid akan ditampilkan.
Jika anda ingin mengubah garis grid menjadi titik-titik, klik menu View Grid and Ruler Setup muncul kotak dialog, pilih Show grid as dots untuk mengubah garis menjadi titik-titik.
Menambah halaman dalam satu file
Klik Pages (halaman yang aktif) misalkan Page 1 Klik kanan, pilih Insert Page After.
Menghapus halaman dalam satu file
Klik Pages (halaman yang aktif) misalkan Page 2 Klik kanan, pilih Delete Page Before.
Mengubah nama halaman dalam satu file
Klik Pages (halaman yang aktif) misalkan Page 1 Klik kanan, pilih Rename.
Membuat objek segi empat
Klik Rectangle Tool pada Tool Box atau tekan F6 pointer akan berubah menjadi tanda (+) drag dan drop mouse pada lembar kerja akan terbentuk persegi panjang.
Jika anda ingin membuat persegi/ bujur sangkar, Langkah sama seperti membuat persegi panjang. Hanya saja pada saat drag tombol kiri mouse sambil tekan Ctrl pada keyboard.
Jika ingin sudut dari segi empat di atas berbentuk melengkung (tidak siku) maka caranya adalah: tekan Pick Tool pada Tool Box pilih objek segi empat tersebut Klik Shape Tool (atau tekan F10) Arahkan pointer pada sudut segi empat lalu drag (geser sedikit) dengan menekan tombol kiri mouse.
Membuat objek lingkaran
Klik Ellipse Tool pada Tool Box atau tekan F7 pointer akan berubah menjadi tanda (+) drag dan drop mouse pada lembar kerja akan terbentuk lingkaran.
Jika anda ingin mengubah lingkaran menjadi variasi yang berbeda, Langkahnya drag lingkaran tersebut klik Shape Tools pada Tool Box. Jika ingin bentuk pie, drag-lah lingkaran dari dalam. Jika ingin bentuk arc, drag-lah lingkaran dari luar.
Membuat objek polygon
Klik Polygon Tool atau tekan Y arahkan pointer yang berbentuk (+) ke lembar kerja tekan tombol kiri mouse geser secara diagonal sambil tekan tombol Ctrl pada keyboard terbentuklah polygon segi lima.
Untuk menambah atau mengurangi segi tersebut, gunakan fasilitas Number of Point on Polygon klik segi yang dikehendaki (missal 3) akan terbentuk segitiga.
Untuk mengubah polygon menjadi bentuk bintang, lakukan langkah berikut. Drag segi lima tekan shape Tool arahkan pointer ke objek tersebut di antara dua segi yang berpotongan tarik kedalam terbentuk segi lima menjadi bintang.
Membuat objek spiral
Klik ke Polygon Tool pilih Spiral Tool atau tekan A pada lembar kerja klik dan geser tombol kiri mouse sambil tekan tombol Ctrl pada keyboard terbentuklah spiral.
Membuat objek table
Klik polygon Tool klik Grap Paper Tool atau tekan D tekan dan geser tombol kiri mouse pada kanvas terbentuklah table
Menggunakan Freehand Tool
Klik Freehand Tool pada Toolbox pada kanvas klik tombol kiri mouse drag kearah yang diinginkan jika sudah sesuai keinginan, tekan tombol Esc pada keyboard untuk mengakhiri.
Apabila ingin melengkungkan garis, klik Shape Tool tempatkan pointer pada garis yang ingin dilengkungkan klik kanan mouse klik pilihan To Curve.
Menggunakan Bezier Tool
Klik Bazier Tool pada Toolbox pada kanvas klik satu kali pointer bertanda (+) pindah ke posisi lain klik lagi di posisi tersebut lanjutkan hingga sesuai dengan objek yang diinginkan.
Bila ingin melengkungkan garis dari objek di atas, klik Shape Tool tempatkan pointer pada garis yang ingin dilengkungkan klik kanan mouse klik pilihan To Curve
Menggunakan Dimension Tool
Buatlah sebuah objek, misalkan persegi panjang berukuran 8×8,5 cm didalamnya buatlah lingkarang berdiameter 8,5 cm pada Toolbox, klik Dimension Tool pada Property Bar pilih Horisontal Tool (untuk menjelaskan garis mendatar) dan pilih Vertical Tool (untuk menjelaskan garis vertical) pada Dimension Style pilih decimal dengan satuan 0 pada Dimension Precission pada Dimension Unit pilih cm aktifkan Show units for Dimension klik tombol Text Position Drop Down klik pilihan, teks dimensi di bagian tengah garis Posisikan pointer pada garis yang akan diberi dimensi / keterangan.
Menggunakan 3 Point Curve Tool
Klik 3 Point Curve Tool pada Toolbox pada kanvas, klik point 1 drag dan lepaskan pada point 2 klik di point 3 terakhir satukan point 2 dengan point 1 dengan pointer.
Menggunakan Smart Drawing Tool
Klik Smart Drawing Tool pada Toolbox pada Property Bar pada Shape Recognition Level, pilih Medium dan pada Smart Smooting Level, pilih Highest. pada kanvas, klik point 1, point 2, point3 dan point 4 Secara otomatis akan terbentuk objek yang simetris.
Posted By: Al-k
Membuat Butiran Air
04-12-2007 | 20:53:51 | Halaman Ini dibaca 48116 kali
Tutorial yang akan saya bawakan kali ini adalah, membuat butiran air dengan aplikasi CorelDraw, saya sengaja menggunakan Coreldraw. Alasannya adalah vector, yang tidak mengalami distorsi walaupun gambar diperbesar beberapa kali.
Langsung saja :
Pada awalnya kita membutuhkan sebuah rectangle yang nantinya digunakan sebagai alas.
Tekan F6 di keyboard untuk langsung membuatnya. Di sini saya membuatnya dengan ukuran 368 x 234 pixel.
Kemudian saya menggunakan elispe tool dengan menekan F7 di keyboard untuk membuat
sebuah elips dengan ukuran 43 x 51 px.
1. Melakukan duplikasi elips tersebut dengan mengopynya ctrl+c lalu mem-pastenya ctrl+v di tempat yang sama.
2. Setelah itu, di luar persegi, buatlah sebuah rectangle ( ukuran bebas ). Kemudian, rectangle yang telah dibuat tadi di taruh di atas elips hasil kopian yang tadi.
3. Dalam keadaan keduanya terpilih. Lakukan trim ( back minus front ).
Sehingga hasilnya seperti ini, setelah fillnya di beri warna putih.
4. Dengan transparency tool, lakukan transparasi gradien, menjadi seperti ini. kemudian lakukan langkah no 1 sebanyak 2 kali. hal ini di gunakan untuk memberi sisi gelap dari butiran air.
5. Perbesarlah salah satu elips yang tadi ... kemudian lakukan trim, seperti di langkah ke 3.
6. Kemudian dengan transparency tool, lakukan transparansi gradien seperti ini ...
7. Setelah itu, hilangkan outline-nya dengan memilih objek yang akan dihilangkan outline, kemudian klik ikon seperti gambar di bawah ini :
8. Kemudian, buatlah elipse dengan ukuran 6 x 6 pixel. Beri fill colornya warna putih. Setelah itu berilah shadow effect, dengan memilih interactive drop shadow tool, shadow ini akan di gunakan sebagai pantulan cahaya putih nantinya.
9. Beri drop shadow colornya berwarna putih, kemudian drop shadow opacitynya 86 persen.
10. Kemudian buatlah kembali elips dengan ukuran 43 x 51 pixel. Beri fillcolornya berwarna putih.
11. Setelah itu, buat kembali elips dengan ukuran 50 x 51 pixel. Elips ke dua ini di taruh di bawah elips sebelumnya.
12. Lakukan trim ( back minus front ) pada kedua elips tersebut sehingga menjadi seperti ini. Kemudian berilah transparasi sebesar 68 persen.
Yup, hasil akhirnya akan seperti ini.
CARA MEMBUAT BERCAK
Dalam Tutorial Kali ini saya mencoba menjelaskan kepada anda bagaimana cara membuat suatu bercak noda, baik itu noda tinta, darah, noda bersejarah, kendaraan bernoda empat, halah! :D walaupun sebetulnya internet menyediakan secara gratis font symbol bercak-bercak tersebut, seperti WC Rhesus A, WC Rhesus B, etc.
Silahkan anda mengawalinya dengan membuat new file, kemudian buatlah sebuah lingkaran ( F7 ), untuk membuat suatu lingkaran anda cukup me-klik ctrl kemudian drag.
Untuk contoh, disini saya memakai diameter 831 pixel
setelah itu klik kanan object tersebut, pilih convert to curve, ini perlu dilakukan untuk mempermudah smudge brush nanti.
kemudian silahkan anda atur object lingkaran tersebut sedemikian rupa , sehingga terlihat seperti sebuah bercak yang jatuh dari atas
saya membuatnya seperti ini :
kemudian pilih smudge brush dan isi enter a fixed value for tilt setting dengan nilai 90
setelah itu anda bisa merubah bentuk object tersebut sedemikian rupa dengan shape tool
dan inilah hasil akhir dari penjelasan tutorial ini.
Anda dapat mendownload file mentahnya dalam format cdr di sini
http://unair.info/img/bercak/bercak.cdr
Ya, cukup sekian saja tutorial design grafis untuk kali ini. Kalo ada pertanyaan langsung aja ditanyakan. :D
Rabu, 23 Maret 2011
Selasa, 22 Maret 2011
Penjaminan Mutu Pada Pendidikan Tinggi
Penjaminan Mutu
Pada Pendidikan Tinggi
Gumilar Rusliwa Somantri*
I
Pendidikan tinggi di Indonesia menghadapi tantangan luar biasa untuk
terus meningkatkan mutu kompetitif tingkat internasional. Mereka dituntut
dari waktu ke waktu untuk mengejar standar mutu yang semakin tinggi
karena inovasi teknologis, dinamika sistemis, dan respon perilaku pasar
pragmatis-rasional.
Banyak lembaga pendidikan tinggi mulai menjalankan reformasi dalam
rangka memperbaiki mutu yang secara komparasi masih relatif
memprihatinkan. Salah satu langkah yang ditempuh, mereka
mengembangkan sistem penjaminan mutu. Namun, pada umumnya lembaga
pendidikan tinggi terjebak oleh kekeliruan mendasar dalam memahami,
merumuskan dan menerapkan sistem penjaminan mutu.
Tulisan ini bermaksud meluruskan kekeliruan tersebut agar penjaminan
mutu tidak menjadi kemewahan yang menambah parah masalah, tetapi ia
benar-benar tampil sebagai solusi.
II
Lembaga pendidikan tinggi di tanah air tumbuh bak jamur di musim
penghujan. Dewasa ini terdapat dua ribuan lembaga pendidikan tinggi
swasta dan 77 lembaga pendidikan tinggi negeri.
Lembaga pendidikan tinggi tersebut, terutama universitas dan institut,
dapat dibedakan pada beberapa kategori kasar seperti kecil, menengah dan
besar. Universitas besar, hampir semuanya berada di pulau Jawa dengan
jumlah dapat dihitung oleh jari. Kebanyakan dari universitas besar tersebut
berstatus negeri.
Empat universitas dan institut negeri terkemuka, yaitu UI, UGM, ITB,
dan IPB sejak Desember tahun 2000 mulai memasuki era tata-kelola yang
lebih otonom. Semangat yang kental mewarnai era baru tersebut adalah
mendorong potensi keempat lembaga pendidikan tingga menjadi motor
penggerak reformasi pendidikan tinggi di tanah air. Diharapkan keempat
lembaga pendidikan tinggi di atas dalam waktu yang tidak terlalu lama
mampu menjadi unggulan di tengah kancah percaturan internasional.
Keempat lembaga pendidikan tinggi tersebut bergiat melakukan
reformasi termasuk memelopori upaya penerapan sistem penjaminan mutu.
Gaung reformasi tersebut mulai dapat dirasakan hingga ke seluruh pelosok
tanah air.
Kini sistem penjaminan mutu menjadi wacana dan praktek yang mulai
ramai dilakukan oleh banyak lembaga pendidikan swasta dan negeri, baik
pada kategori kecil, sedang, maupun besar.
Jika kita cermati respons terhadap wacana dan praktek sistem
penjaminan mutu yang terjadi dewasa kini, kita akan mendapati tiga corak
ekstrim sebagai berikut.
Ekstrim pertama, mereka mencampur-adukan pemahaman konsep dan
praktek sistem penjaminan mutu dengan akreditasi. Dengan mengikuti
prosedur akreditasi, mereka beranggapan telah menerapkan sistem
penjaminan mutu. Nilai akreditasi memang dapat mencerminkan potret
mutu pada saat tertentu, menurut standar yang telah ditentukan oleh badan
terkait. Namun, ia sebenarnya tidak langsung terkait dengan komitmen
internal lembaga pendidikan tinggi yang bersangkutan untuk menjalankan
tata-kelola berdasarkan sistem dan prosedur baku yang dirumuskan sendiri.
Singkat kata, akreditasi merupakan instrumen birokratis untuk “kendali
mutu”. Sedangkan sistem penjaminan mutu merupakan mekanisme internal
organisasi yang menjadi cetak-biru seperti apa mutu prediktif dihasilkan
dan dikembangkan.
Ekstrim kedua, ditengah-tengah ketidakjelasan mengenai kedua hal
tersebut di atas, lembaga pendidikan tinggi tergoda untuk mendirikan badan
struktural penjaminan mutu. Namun, namun secara konsep dan peran tidak
lain dan tidak bukan lembaga ini merupakan miniatur dari badan akreditasi
yang terdapat di tingkat supra-struktur.
Ekstrim ketiga, meskipun pemahaman mengenai penjaminan mutu telah
relatif jelas, namun mereka terperangkap pada perspektif deduktifgeneralistik
serta salah kaprah di tataran operasional.
Setidak-tidaknya kita akan menemukan dua pola kekeliruan dari
kelompok ekstrim ketiga ini. Pola pertama, lembaga pendidikan tinggi
membentuk badan struktural tersendiri yang menjalankan tugas
penjaminan mutu. Biasanya tugas pertama yang mereka jalankan adalah
merumuskan sistem dan prosedur baku yang bersifat general dan
diberlakukan untuk semua unit.
Sistem dan prosedur generalistis memuat kelemahan fatal dalam hal
rigiditas dan akomodasi pola-pola unit yang bersifat tipikal, namun
produktif. Sementara itu, keterlibatan unit dalam perumusan sistem dan
prosedur biasa sangat terbatas dan bersifat tambahan.
Pola kedua adalah lembaga pendidikan tinggi mencari jalan pintas
dengan ”membeli” sistem dan prosedur untuk diterapkan. Langkah seperti
ini biasanya menjebak lembaga pendidikan tinggi pada harapan berlebihan
dan politis dari sertifikasi, yang tipis batasnya dengan strategi semu
mengelabui pasar. Lebih parah lagi, kastemisasi menjadi suatu persoalan
yang luar biasa sulit dilakukan, ditengah sosok sistem yang kaku dan umum.
Singkat kata, ketiga ekstrim pemahaman dan praktek penjaminan mutu
pendidikan tinggi seperti diuraikan di atas merepresentasikan kegagalan kita
semua dalam mengambil solusi masalah akut daya saing rendah.
III
Istilah “mutu” pendidikan tinggi idealnya difahami pada mata rantai
proses produksi, konsumsi, dan reproduksi akademis. Sering kita terjebak
melihat mutu universitas hanya secara indikatif-kuantitatif pada produk
akademis semata seperti lulusan, hasil riset, publikasi, serta “pelayanan”
masyarakat.
Padahal, mutu produk akademis tersebut sangat ditentukan oleh proses
produksi dalam suatu kompleks struktur akademis dan non-akademis.
Proses produksi akademis tersebut melibatkan subjek ajar, staf akademis,
2
staf non-akademis; nilai bersama, kepemimpinan, infrastruktur, kapital
kebudayaan, kekuatan finasial, jejaring, komunikasi, dan sebagainya.
Selain itu, mutu pendidikan tinggi dapat ditelusuri jauh pada relevansi
serta kepuasan pemakai; bahkan pada proses reproduksi lembaga maupun
aktor yang terkait di dalamnya. Proses reproduksi difahami sebagai
“pemulihan tenaga” dari lembaga dan aktor demi kesinambungan proses
produksi itu sendiri.
Memang dalam proses tata kelola mutu pendidikan tinggi dilihat hanya
pada dua hal: produk akademis dan proses produksi yang merahiminya.
Agar mutu produk akademis dapat diprediksi dan dapat dikembangkan
menurut penaraan tertentu, proses produksinya perlu ditopang oleh sistem
dan prosedur “baku” dari aspek akademik maupun non-akademik.
Istilah baku merujuk pada sistem dan prosedur akademik atau non
akademik yang dirumuskan secara cermat dan ringkas atas dasar cara kerja
yang ada. Jadi, ia berbeda dengan generalisasi yang umumnya menggunakan
pendekatan dari atas kebawah, dan menutup ruang tipikalitas.
Sistem dan prosedur baku tersebut menjamin terjadinya efisiensi dan
efektivitas tata-kelola akademis dan non akademis, sekaligus menjamin
konsistensi mutu proses dan produk dari universitas. Penjaminan mutu
pendidikan tinggi, dengan demikian, berjalan dengan sendirinya, melekat
pada penerapan sistem dan prosedur baku baik di bidang akademis maupun
non-akademis.
Agar komitmen lembaga dan aktor yang terkait konsisten dalam
menjalankan sistem dan prosedur yang telah dirumuskan sendiri, dapat
menggunakan lembaga sertifikasi profesional untuk melakukan evaluasi.
Esensi sertifikasi di sini tidak lain adalah “penegasan” komitment dari
lembaga pendidikan tinggi untuk menjalankan sistem dan prosedur yang
disepakati. Sekaligus, wujud pertanggungjawaban lembaga pendidikan
tinggi kepada publik berkepentingan untuk memberikan layanan bermutu.
Sebenarnya, kita dengan menerapkan sistem dan prosedur baku itu
sendiri, tanpa sertifikasi, sudah lebih dari cukup. Publik berkepentingan
cukup cerdas untuk menilai mutu produk dan proses dari suatu lembaga
pendidikan tinggi.
IV
Sebaiknya penjaminan mutu dilakukan secara “total”, yaitu menjangkau
aspek akademik maupun non akademik, serta mengintegrasikan keduanya.
Perumusan sistem dan prosedur dapat paralel atau salah satu didahulukan.
Menurut pengalaman, lebih besar manfaat membangun sistem dan
prosedur non akademik terlebih dahulu dari pada sebaliknya. Hal ini terkait
dengan logika mendasar strategi membangun kepercayaan dan merangsang
keterlibatan semua unit yang menjadi ujung tombak operasional.
Sistem dan prosedur, baik akademik maupun non akademik, perlu
dirumuskan secara partisipatif dengan pendekatan dari “bawah” ke “atas”.
Artinya, cara kerja akademik dan non akademik yang ada di unit terkecil
universitas, yaitu program studi, diidentifikasi per komponen dan dipetakan.
Cara umum pemetaan adalah dengan menggambarkan cara kerja dari
semua komponen, dari awal (masuk) hingga akhir (file), dengan
menggunakan “bahasa” flow-chart. Dengan melihat peta di atas, kita dapat
3
mendiskusikan dan mengevaluasi cara kerja yang selama ini dijalankan.
Biasanya kita akan terkejut, melihat bagaimana selama ini sumber-daya
manusia, waktu, dan sebagainya dihambur-hamburkan karena proses terlalu
panjang atau prosedur yang berbelit-belit. Kita, melalui evaluasi cara kerja,
intinya merumuskan operation-line yang ringkas dan akurat untuk setiap
komponen yang ada.
Agar operation-line dapat dijalankan secara manual, kita pertama-tama
perlu merumuskan sistem menu untuk setiap komponen dan langkah.
Sebaiknya, operation-line diuji-cobakan secara manual, baru kemudian
dilakukan dijitalisasi. Proses tersebut dilakukan dengan menterjemahkan
operation-line pada bahasa pemograman IT.
Sistem dan prosedur yang dijalankan seperti diuraikan di atas, baik
digital maupun manual, pada dasarnya memuat secara embedded mekanisme
penjaminan mutu.
V
Sebagai penutup, lembaga pendidikan tinggi jika ingin benar-benar
keluar dari lingkaran setan masalah rendahnya mutu, perlu melakukan
penjaminan mutu total.
Kita sepakat di sini, istilah total lebih merujuk pada upaya yang
mendasar, integratif, dan menyeluruh; sebagai kebalikan dari upaya
permukaan, .tambal-sulam, dan parsial.
Langkah penjaminan mutu seperti dikemukakan di atas akan berhasil
dengan baik apabila ditopang oleh gaya kepemimpinan tertentu dari semua
level hierarkhi lembaga pendidikan.
Diperlukan kepemimpinan yang jeli melihat prioritas, disiplin dalam
merajut sistem secara menyeluruh, fasilitatif, inspiratif, pekerja keras, serta
konsisten dalam menegakan berperspektif good-governance.
4
**Penulis adalah Dekan pada FISIP-UI, Jakarta
Pada Pendidikan Tinggi
Gumilar Rusliwa Somantri*
I
Pendidikan tinggi di Indonesia menghadapi tantangan luar biasa untuk
terus meningkatkan mutu kompetitif tingkat internasional. Mereka dituntut
dari waktu ke waktu untuk mengejar standar mutu yang semakin tinggi
karena inovasi teknologis, dinamika sistemis, dan respon perilaku pasar
pragmatis-rasional.
Banyak lembaga pendidikan tinggi mulai menjalankan reformasi dalam
rangka memperbaiki mutu yang secara komparasi masih relatif
memprihatinkan. Salah satu langkah yang ditempuh, mereka
mengembangkan sistem penjaminan mutu. Namun, pada umumnya lembaga
pendidikan tinggi terjebak oleh kekeliruan mendasar dalam memahami,
merumuskan dan menerapkan sistem penjaminan mutu.
Tulisan ini bermaksud meluruskan kekeliruan tersebut agar penjaminan
mutu tidak menjadi kemewahan yang menambah parah masalah, tetapi ia
benar-benar tampil sebagai solusi.
II
Lembaga pendidikan tinggi di tanah air tumbuh bak jamur di musim
penghujan. Dewasa ini terdapat dua ribuan lembaga pendidikan tinggi
swasta dan 77 lembaga pendidikan tinggi negeri.
Lembaga pendidikan tinggi tersebut, terutama universitas dan institut,
dapat dibedakan pada beberapa kategori kasar seperti kecil, menengah dan
besar. Universitas besar, hampir semuanya berada di pulau Jawa dengan
jumlah dapat dihitung oleh jari. Kebanyakan dari universitas besar tersebut
berstatus negeri.
Empat universitas dan institut negeri terkemuka, yaitu UI, UGM, ITB,
dan IPB sejak Desember tahun 2000 mulai memasuki era tata-kelola yang
lebih otonom. Semangat yang kental mewarnai era baru tersebut adalah
mendorong potensi keempat lembaga pendidikan tingga menjadi motor
penggerak reformasi pendidikan tinggi di tanah air. Diharapkan keempat
lembaga pendidikan tinggi di atas dalam waktu yang tidak terlalu lama
mampu menjadi unggulan di tengah kancah percaturan internasional.
Keempat lembaga pendidikan tinggi tersebut bergiat melakukan
reformasi termasuk memelopori upaya penerapan sistem penjaminan mutu.
Gaung reformasi tersebut mulai dapat dirasakan hingga ke seluruh pelosok
tanah air.
Kini sistem penjaminan mutu menjadi wacana dan praktek yang mulai
ramai dilakukan oleh banyak lembaga pendidikan swasta dan negeri, baik
pada kategori kecil, sedang, maupun besar.
Jika kita cermati respons terhadap wacana dan praktek sistem
penjaminan mutu yang terjadi dewasa kini, kita akan mendapati tiga corak
ekstrim sebagai berikut.
Ekstrim pertama, mereka mencampur-adukan pemahaman konsep dan
praktek sistem penjaminan mutu dengan akreditasi. Dengan mengikuti
prosedur akreditasi, mereka beranggapan telah menerapkan sistem
penjaminan mutu. Nilai akreditasi memang dapat mencerminkan potret
mutu pada saat tertentu, menurut standar yang telah ditentukan oleh badan
terkait. Namun, ia sebenarnya tidak langsung terkait dengan komitmen
internal lembaga pendidikan tinggi yang bersangkutan untuk menjalankan
tata-kelola berdasarkan sistem dan prosedur baku yang dirumuskan sendiri.
Singkat kata, akreditasi merupakan instrumen birokratis untuk “kendali
mutu”. Sedangkan sistem penjaminan mutu merupakan mekanisme internal
organisasi yang menjadi cetak-biru seperti apa mutu prediktif dihasilkan
dan dikembangkan.
Ekstrim kedua, ditengah-tengah ketidakjelasan mengenai kedua hal
tersebut di atas, lembaga pendidikan tinggi tergoda untuk mendirikan badan
struktural penjaminan mutu. Namun, namun secara konsep dan peran tidak
lain dan tidak bukan lembaga ini merupakan miniatur dari badan akreditasi
yang terdapat di tingkat supra-struktur.
Ekstrim ketiga, meskipun pemahaman mengenai penjaminan mutu telah
relatif jelas, namun mereka terperangkap pada perspektif deduktifgeneralistik
serta salah kaprah di tataran operasional.
Setidak-tidaknya kita akan menemukan dua pola kekeliruan dari
kelompok ekstrim ketiga ini. Pola pertama, lembaga pendidikan tinggi
membentuk badan struktural tersendiri yang menjalankan tugas
penjaminan mutu. Biasanya tugas pertama yang mereka jalankan adalah
merumuskan sistem dan prosedur baku yang bersifat general dan
diberlakukan untuk semua unit.
Sistem dan prosedur generalistis memuat kelemahan fatal dalam hal
rigiditas dan akomodasi pola-pola unit yang bersifat tipikal, namun
produktif. Sementara itu, keterlibatan unit dalam perumusan sistem dan
prosedur biasa sangat terbatas dan bersifat tambahan.
Pola kedua adalah lembaga pendidikan tinggi mencari jalan pintas
dengan ”membeli” sistem dan prosedur untuk diterapkan. Langkah seperti
ini biasanya menjebak lembaga pendidikan tinggi pada harapan berlebihan
dan politis dari sertifikasi, yang tipis batasnya dengan strategi semu
mengelabui pasar. Lebih parah lagi, kastemisasi menjadi suatu persoalan
yang luar biasa sulit dilakukan, ditengah sosok sistem yang kaku dan umum.
Singkat kata, ketiga ekstrim pemahaman dan praktek penjaminan mutu
pendidikan tinggi seperti diuraikan di atas merepresentasikan kegagalan kita
semua dalam mengambil solusi masalah akut daya saing rendah.
III
Istilah “mutu” pendidikan tinggi idealnya difahami pada mata rantai
proses produksi, konsumsi, dan reproduksi akademis. Sering kita terjebak
melihat mutu universitas hanya secara indikatif-kuantitatif pada produk
akademis semata seperti lulusan, hasil riset, publikasi, serta “pelayanan”
masyarakat.
Padahal, mutu produk akademis tersebut sangat ditentukan oleh proses
produksi dalam suatu kompleks struktur akademis dan non-akademis.
Proses produksi akademis tersebut melibatkan subjek ajar, staf akademis,
2
staf non-akademis; nilai bersama, kepemimpinan, infrastruktur, kapital
kebudayaan, kekuatan finasial, jejaring, komunikasi, dan sebagainya.
Selain itu, mutu pendidikan tinggi dapat ditelusuri jauh pada relevansi
serta kepuasan pemakai; bahkan pada proses reproduksi lembaga maupun
aktor yang terkait di dalamnya. Proses reproduksi difahami sebagai
“pemulihan tenaga” dari lembaga dan aktor demi kesinambungan proses
produksi itu sendiri.
Memang dalam proses tata kelola mutu pendidikan tinggi dilihat hanya
pada dua hal: produk akademis dan proses produksi yang merahiminya.
Agar mutu produk akademis dapat diprediksi dan dapat dikembangkan
menurut penaraan tertentu, proses produksinya perlu ditopang oleh sistem
dan prosedur “baku” dari aspek akademik maupun non-akademik.
Istilah baku merujuk pada sistem dan prosedur akademik atau non
akademik yang dirumuskan secara cermat dan ringkas atas dasar cara kerja
yang ada. Jadi, ia berbeda dengan generalisasi yang umumnya menggunakan
pendekatan dari atas kebawah, dan menutup ruang tipikalitas.
Sistem dan prosedur baku tersebut menjamin terjadinya efisiensi dan
efektivitas tata-kelola akademis dan non akademis, sekaligus menjamin
konsistensi mutu proses dan produk dari universitas. Penjaminan mutu
pendidikan tinggi, dengan demikian, berjalan dengan sendirinya, melekat
pada penerapan sistem dan prosedur baku baik di bidang akademis maupun
non-akademis.
Agar komitmen lembaga dan aktor yang terkait konsisten dalam
menjalankan sistem dan prosedur yang telah dirumuskan sendiri, dapat
menggunakan lembaga sertifikasi profesional untuk melakukan evaluasi.
Esensi sertifikasi di sini tidak lain adalah “penegasan” komitment dari
lembaga pendidikan tinggi untuk menjalankan sistem dan prosedur yang
disepakati. Sekaligus, wujud pertanggungjawaban lembaga pendidikan
tinggi kepada publik berkepentingan untuk memberikan layanan bermutu.
Sebenarnya, kita dengan menerapkan sistem dan prosedur baku itu
sendiri, tanpa sertifikasi, sudah lebih dari cukup. Publik berkepentingan
cukup cerdas untuk menilai mutu produk dan proses dari suatu lembaga
pendidikan tinggi.
IV
Sebaiknya penjaminan mutu dilakukan secara “total”, yaitu menjangkau
aspek akademik maupun non akademik, serta mengintegrasikan keduanya.
Perumusan sistem dan prosedur dapat paralel atau salah satu didahulukan.
Menurut pengalaman, lebih besar manfaat membangun sistem dan
prosedur non akademik terlebih dahulu dari pada sebaliknya. Hal ini terkait
dengan logika mendasar strategi membangun kepercayaan dan merangsang
keterlibatan semua unit yang menjadi ujung tombak operasional.
Sistem dan prosedur, baik akademik maupun non akademik, perlu
dirumuskan secara partisipatif dengan pendekatan dari “bawah” ke “atas”.
Artinya, cara kerja akademik dan non akademik yang ada di unit terkecil
universitas, yaitu program studi, diidentifikasi per komponen dan dipetakan.
Cara umum pemetaan adalah dengan menggambarkan cara kerja dari
semua komponen, dari awal (masuk) hingga akhir (file), dengan
menggunakan “bahasa” flow-chart. Dengan melihat peta di atas, kita dapat
3
mendiskusikan dan mengevaluasi cara kerja yang selama ini dijalankan.
Biasanya kita akan terkejut, melihat bagaimana selama ini sumber-daya
manusia, waktu, dan sebagainya dihambur-hamburkan karena proses terlalu
panjang atau prosedur yang berbelit-belit. Kita, melalui evaluasi cara kerja,
intinya merumuskan operation-line yang ringkas dan akurat untuk setiap
komponen yang ada.
Agar operation-line dapat dijalankan secara manual, kita pertama-tama
perlu merumuskan sistem menu untuk setiap komponen dan langkah.
Sebaiknya, operation-line diuji-cobakan secara manual, baru kemudian
dilakukan dijitalisasi. Proses tersebut dilakukan dengan menterjemahkan
operation-line pada bahasa pemograman IT.
Sistem dan prosedur yang dijalankan seperti diuraikan di atas, baik
digital maupun manual, pada dasarnya memuat secara embedded mekanisme
penjaminan mutu.
V
Sebagai penutup, lembaga pendidikan tinggi jika ingin benar-benar
keluar dari lingkaran setan masalah rendahnya mutu, perlu melakukan
penjaminan mutu total.
Kita sepakat di sini, istilah total lebih merujuk pada upaya yang
mendasar, integratif, dan menyeluruh; sebagai kebalikan dari upaya
permukaan, .tambal-sulam, dan parsial.
Langkah penjaminan mutu seperti dikemukakan di atas akan berhasil
dengan baik apabila ditopang oleh gaya kepemimpinan tertentu dari semua
level hierarkhi lembaga pendidikan.
Diperlukan kepemimpinan yang jeli melihat prioritas, disiplin dalam
merajut sistem secara menyeluruh, fasilitatif, inspiratif, pekerja keras, serta
konsisten dalam menegakan berperspektif good-governance.
4
**Penulis adalah Dekan pada FISIP-UI, Jakarta
Siksaan Dunia Akhirat (Bagi Pemutus Silaturrahim dan Penzhalim)
Mukaddimah
Ada dua hal yang seringkali terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat dan tidak banyak diketahui oleh orang padahal keduanya memiliki implikasi yang tidak ringan terhadap si pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat.
Hal pertama dilarang oleh agama karena asy-Syâri', Allah Ta'ala sendiri telah mengharamkannya atas diriNya. Ia adalah kezhaliman yang sangat dibenci dan tidak disukai oleh sang Khaliq bahkan oleh manusia sendiri karena bertentangan dengan fithrah mereka yang cenderung untuk dapat hidup di lingkungannya secara berdampingan, rukun dan damai. Fithrah yang cenderung kepada perbuatan baik dan saling menolong serta mencela perbuatan jahat dan tindakan yang merugikan orang lain.
Dalam berinteraksi dengan lingkungannya, manusia tak luput dari rasa saling membutuhkan satu sama lainnya sehingga terjadilah komunikasi dan hubungan langsung satu sama lainnya. Hal tersebut membuahkan rasa saling percaya dan ikatan yang lebih dekat lagi. Maka dalam tataran seperti inilah kemudian terjadi keterkaitan dan keterikatan dalam berbagai hal. Mereka, misalnya, saling meminjamkan barang atau harta, menggadaikan, berjual-beli dan lain sebagainya.
Manakala hal tersebut berlanjut sementara manusia memiliki sifat yang berbeda-beda serta memiliki kecenderungan untuk serakah -kecuali orang yang dirahmati olehNya- sebagaimana yang disinyalir oleh sebuah hadits shahih bahwa bila manusia itu diberikan sebuah lembah berisi emas, maka pasti dia akan meminta dua buah, dan seterusnya; maka tidak akan ada yang menghentikannya dari hal itu selain terbujur di tanah alias mati. Manakala hal itu terjadi, maka terjadilah pula tindakan yang merugikan orang lain alias perbuatan zhalim tersebut. Tak heran misalnya, terdengar berita bahwa si majikan menzhalimi pembantunya, sang pemilik perusahaan menzhalimi buruhnya, orang tua tega menzhalimi anaknya sendiri, suami menzhalimi isterinya, tetangga menzhalimi tetangganya yang lain dan sebagainya.
Perbuatan semacam ini kemudian dapat membuahkan hal kedua, yaitu pemutusan rahim alias hubungan kekeluargaan baik antara sesama tetangga, sesama komunitas masyarakat bahkan sesama hubungan darah daging sendiri padahal agama melarang hal itu dan memerintahkan agar menyambung dan memperkokohnya.
Oleh karena besarnya implikasi dan dampak dari kedua hal tersebut, maka agama tak tanggung-tanggung menggandengkan keduanya ke dalam satu paket yang para pelakunya nanti akan dikenakan siksaan yang pedih.
Bila dilihat dari sisi jenis siksaannya, hal pertama memang lebih besar siksaannya ketimbang hal kedua, karena disamping ia telah diharamkan oleh sang Khaliq sendiri terhadap diriNya, juga taubat dari hal tersebut tidak sempurna kecuali bila telah diselesaikan pula oleh si pelakunya terhadap orang yang terkaitnya dengannya. Artinya, dalam batasan dosa terhadap Allah taubat tersebut diterima bila memang taubat yang nashuh, namun bila masih terkait dengan bani Adam, maka harus diselesaikan dahulu.
Sedangkan hal yang kedua, bisa terhindari dari siksaan yang terkait dengannya bila disambung kembali bahkan dampaknya amat positif bagi pelakunya.
Namun begitu, keduanya adalah sama-sama menjerumuskan pelakunya ke dalam siksaan yang pedih, karenanya tidak ada artinya pembedaan dari sisi jenis siksaannya atau sisi lainnya bila hal yang dirasakan adalah sama, yakni "pedihnya siksaan"-Nya.
Mengingat betapa urgennya kedua permasalahan ini, maka dalam kajian hadits kali ini (naskah aslinya adalah berbahasa Arab) kami mengangkatnya dengan harapan dapat menggugah kita semua agar kembali kepada jalan yang benar dan menyadari kesalahan yang telah diperbuat, bak kata pepatah "selagi hayat masih dikandung badan".
Seperti biasa, kajian ini tak luput dari kekhilafan dan kekeliruan manusiawi, karenanya bila ada yang mendapatkannya -dan itu pasti ada- maka kami sangat mengharapkan masukannya, khususnya masukan yang membangun dan positif guna perbaikan di kemudian hari. Wamâ taufîqi illâ billâh. Wallaahu a'lam.
Naskah Hadits
Dari Abu Bakrah -radhiallaahu 'anhu-, dia berkata:Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:" Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan oleh Allah siksaannya terhadap pelakunya di dunia beserta siksaan yang disimpan (dikemudiankan/ditangguhkan) olehNya untuknya di akhirat daripada kezhaliman dan memutuskan rahim (hubungan kekeluargaan)' ". (H.R. at-Turmuziy, dia berkata:"hadits hasan").
Sekilas tentang Periwayat hadits
Beliau adalah Abu Bakrah, seorang shahabat yang agung, Namanya Nufai' bin al-Hârits, maula Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam.. Ketika terjadi pengepungan terhadap Thâif, dia mendekati suatu tempat bernama Bakrah, lalu melarikan diri dan meminta perlindungan kepada Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam . Dia pun kemudian masuk Islam di tangan beliau. Dia juga memberitahukan bahwa kondisinya sebagai seorang budak, lalu beliau memerdekakannya. Dia meriwayatkan sejumlah hadits dan termasuk Faqîh para shahabat. Dia wafat di kota Bashrah pada masa kekhilafahan Mu'awiyah bin Abu Sufyan.
Faedah-Faedah dan Hukum-Hukum Terkait
1. Substansi kezhaliman dan dalil-dalil yang mencelanya
Kezhaliman adalah kegelapan di dunia dan akhirat. Pelakunya pantas mendapatkan siksaan yang disegerakan baginya di dunia dan dia akan melihatnya sebelum meninggal dunia. Karenanya, banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang memperingatkan agar menjauhinya. Allah Ta'ala berfirman: "…Orang-orang yang zhalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa'at yang diterima syafa'atnya". (QS. 40/al-Mu'min:18). Allah juga berfirman:" Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim..". (QS. 14/Ibrâhim: 42). Dalam firmanNya yang lain: "Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata:'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul' ". (QS.25/al-Furqân:27).
Asy-Syaikhân meriwayatkan dari Abu Musa radhiallaahu 'anhu bahwasanya dia berkata: Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah menunda/mengulur-ulur terhadap orang yang zhalim (memberikannya kesempatan-red) sehingga bila Dia menyiksanya maka dia (orang yang zhalim tersebut) tidak dapat menghindarinya (lagi) ". Kemudian beliau membacakan ayat (firmanNya): "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras". (QS. 11/Hûd: 102).
2. Macam-Macamnya
Kezhaliman itu ada beberapa macam dan yang paling besar adalah syirik kepada Allah Ta'ala sebagaimana firmanNya -ketika menyinggung wasiat-wasiat Luqman kepada anaknya- : "…Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS.31/Luqmân: 13).
Diantara kezhaliman yang lain adalah:
o Kezhaliman terhadap keluarga dan anak-anak; yaitu tidak mendidik mereka dengan pendidikan islam yang benar.
o Kezhaliman terhadap manusia secara umum; yaitu berbuat hal yang melampaui batas dan menyakiti mereka, mengurangi hak-hak serta melecehkan kehormatan mereka.
o Kezhaliman yang berupa kelalaian dalam melaksanakan hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, seperti tidak bekerja secara optimal sesuai dengan tuntutan pekerjaan atau selalu mengundur-undur kepentingan orang banyak, dan lain-lain.
o Kezhaliman yang terkait dengan para pekerja dan buruh; yaitu dengan mengurangi hak-hak mereka serta membebani mereka dengan sesuatu yang tak mampu mereka lakukan.
3. Tentang Silaturrahim dan dalilnya
Rahim merupakan masalah yang besar dalam dienullah karenanya wajib menyambungnya dan diharamkan memutuskannya.
Diantara indikasinya adalah sabda Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam : "Sesungguhnya Allah Ta'ala (manakala) menciptakan makhlukNya hingga Dia selesai darinya, maka tegaklah rahim sembari berkata:'inilah saat meminta perlindunganMu dari pemutusan'. Dia Ta'ala berfirman: "Ya, apakah engkau rela agar Aku sambungkan dengan orang yang menyambungnya denganmu dan Aku putus orang yang memutuskannya darimu?". Ia (R ahim) berkata:'tentu saja, (wahai Rabb-ku-red)!'. Dia Ta'ala berfirman: "hal itu adalah untukmu". Kemudian Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: "maka bacalah, jika kalian mau (firmanNya) : "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan rahim (hubungan kekeluargaan) [22]. Mereka itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka [23]". (QS.47/Muhammad: 22-23).
4. Bentuk-Bentuk silaturrahim
Silaturrahim dapat berupa :
o Kunjungan, bertanya tentang kondisi masing-masing, memberikan spirit kepada kerabat dekat serta lemah-lembut dalam bertutur kata.
o Memberikan hadiah yang pantas, saling mengucapkan selamat bila mendapatkan kebaikan, membantu orang yang berutang dan kesulitan dalam membayarnya, menawarkan diri untuk hal-hal yang positif, memenuhi hajat orang, mendoakan agar diberikan taufiq dan maghfirahNya, dan lain sebagainya.
5. Faedah silaturrahim dan implementasinya
Silaturrahim dapat memanjangkan umur, memberikan keberkahan padanya, menambah harta dan mengembangkannya, disamping ia sebagai penebus keburukan-keburukan dan pelipat-ganda kebaikan-kebaikan. Hal ini dapat diimplementasikan dengan berupaya mendapatkan keridhaan dari Sang Pencipta, Allah Ta'ala.
Imam al-Bukhâriy meriwayatkans dari Anas radhiallaahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:"Barangsiapa yang ingin agar dibentangkan baginya dalam rizkinya dan ditangguhkan dalam usianya (panjang usia), maka hendaklah ia menyambung rahimnya (silaturrahim)".
6. Bentuk siksaan bagi pemutus silaturrahim
Siksaan-siksaan yang Allah timpakan kepada sebagian hambaNya terkadang berlaku di dunia, terkadang juga ditangguhkan dan berlaku di akhirat; oleh karena itu hendaklah seorang muslim berhati-hati terhadap dirinya dan tidak menghina dosa dan maksiat sekecil apapun adanya manakala tidak melihat siksaannya di dunia.
7. Renungan
Muslim yang sebenarnya adalah orang yang mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Jadi, dia senantiasa melaksanakan hak-hak mereka, tidak menyakiti atau menzhalimi serta tidak semena-mena terhadap mereka baik secara fisik maupun maknawi
Ada dua hal yang seringkali terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat dan tidak banyak diketahui oleh orang padahal keduanya memiliki implikasi yang tidak ringan terhadap si pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat.
Hal pertama dilarang oleh agama karena asy-Syâri', Allah Ta'ala sendiri telah mengharamkannya atas diriNya. Ia adalah kezhaliman yang sangat dibenci dan tidak disukai oleh sang Khaliq bahkan oleh manusia sendiri karena bertentangan dengan fithrah mereka yang cenderung untuk dapat hidup di lingkungannya secara berdampingan, rukun dan damai. Fithrah yang cenderung kepada perbuatan baik dan saling menolong serta mencela perbuatan jahat dan tindakan yang merugikan orang lain.
Dalam berinteraksi dengan lingkungannya, manusia tak luput dari rasa saling membutuhkan satu sama lainnya sehingga terjadilah komunikasi dan hubungan langsung satu sama lainnya. Hal tersebut membuahkan rasa saling percaya dan ikatan yang lebih dekat lagi. Maka dalam tataran seperti inilah kemudian terjadi keterkaitan dan keterikatan dalam berbagai hal. Mereka, misalnya, saling meminjamkan barang atau harta, menggadaikan, berjual-beli dan lain sebagainya.
Manakala hal tersebut berlanjut sementara manusia memiliki sifat yang berbeda-beda serta memiliki kecenderungan untuk serakah -kecuali orang yang dirahmati olehNya- sebagaimana yang disinyalir oleh sebuah hadits shahih bahwa bila manusia itu diberikan sebuah lembah berisi emas, maka pasti dia akan meminta dua buah, dan seterusnya; maka tidak akan ada yang menghentikannya dari hal itu selain terbujur di tanah alias mati. Manakala hal itu terjadi, maka terjadilah pula tindakan yang merugikan orang lain alias perbuatan zhalim tersebut. Tak heran misalnya, terdengar berita bahwa si majikan menzhalimi pembantunya, sang pemilik perusahaan menzhalimi buruhnya, orang tua tega menzhalimi anaknya sendiri, suami menzhalimi isterinya, tetangga menzhalimi tetangganya yang lain dan sebagainya.
Perbuatan semacam ini kemudian dapat membuahkan hal kedua, yaitu pemutusan rahim alias hubungan kekeluargaan baik antara sesama tetangga, sesama komunitas masyarakat bahkan sesama hubungan darah daging sendiri padahal agama melarang hal itu dan memerintahkan agar menyambung dan memperkokohnya.
Oleh karena besarnya implikasi dan dampak dari kedua hal tersebut, maka agama tak tanggung-tanggung menggandengkan keduanya ke dalam satu paket yang para pelakunya nanti akan dikenakan siksaan yang pedih.
Bila dilihat dari sisi jenis siksaannya, hal pertama memang lebih besar siksaannya ketimbang hal kedua, karena disamping ia telah diharamkan oleh sang Khaliq sendiri terhadap diriNya, juga taubat dari hal tersebut tidak sempurna kecuali bila telah diselesaikan pula oleh si pelakunya terhadap orang yang terkaitnya dengannya. Artinya, dalam batasan dosa terhadap Allah taubat tersebut diterima bila memang taubat yang nashuh, namun bila masih terkait dengan bani Adam, maka harus diselesaikan dahulu.
Sedangkan hal yang kedua, bisa terhindari dari siksaan yang terkait dengannya bila disambung kembali bahkan dampaknya amat positif bagi pelakunya.
Namun begitu, keduanya adalah sama-sama menjerumuskan pelakunya ke dalam siksaan yang pedih, karenanya tidak ada artinya pembedaan dari sisi jenis siksaannya atau sisi lainnya bila hal yang dirasakan adalah sama, yakni "pedihnya siksaan"-Nya.
Mengingat betapa urgennya kedua permasalahan ini, maka dalam kajian hadits kali ini (naskah aslinya adalah berbahasa Arab) kami mengangkatnya dengan harapan dapat menggugah kita semua agar kembali kepada jalan yang benar dan menyadari kesalahan yang telah diperbuat, bak kata pepatah "selagi hayat masih dikandung badan".
Seperti biasa, kajian ini tak luput dari kekhilafan dan kekeliruan manusiawi, karenanya bila ada yang mendapatkannya -dan itu pasti ada- maka kami sangat mengharapkan masukannya, khususnya masukan yang membangun dan positif guna perbaikan di kemudian hari. Wamâ taufîqi illâ billâh. Wallaahu a'lam.
Naskah Hadits
Dari Abu Bakrah -radhiallaahu 'anhu-, dia berkata:Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:" Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan oleh Allah siksaannya terhadap pelakunya di dunia beserta siksaan yang disimpan (dikemudiankan/ditangguhkan) olehNya untuknya di akhirat daripada kezhaliman dan memutuskan rahim (hubungan kekeluargaan)' ". (H.R. at-Turmuziy, dia berkata:"hadits hasan").
Sekilas tentang Periwayat hadits
Beliau adalah Abu Bakrah, seorang shahabat yang agung, Namanya Nufai' bin al-Hârits, maula Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam.. Ketika terjadi pengepungan terhadap Thâif, dia mendekati suatu tempat bernama Bakrah, lalu melarikan diri dan meminta perlindungan kepada Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam . Dia pun kemudian masuk Islam di tangan beliau. Dia juga memberitahukan bahwa kondisinya sebagai seorang budak, lalu beliau memerdekakannya. Dia meriwayatkan sejumlah hadits dan termasuk Faqîh para shahabat. Dia wafat di kota Bashrah pada masa kekhilafahan Mu'awiyah bin Abu Sufyan.
Faedah-Faedah dan Hukum-Hukum Terkait
1. Substansi kezhaliman dan dalil-dalil yang mencelanya
Kezhaliman adalah kegelapan di dunia dan akhirat. Pelakunya pantas mendapatkan siksaan yang disegerakan baginya di dunia dan dia akan melihatnya sebelum meninggal dunia. Karenanya, banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang memperingatkan agar menjauhinya. Allah Ta'ala berfirman: "…Orang-orang yang zhalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa'at yang diterima syafa'atnya". (QS. 40/al-Mu'min:18). Allah juga berfirman:" Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim..". (QS. 14/Ibrâhim: 42). Dalam firmanNya yang lain: "Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata:'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul' ". (QS.25/al-Furqân:27).
Asy-Syaikhân meriwayatkan dari Abu Musa radhiallaahu 'anhu bahwasanya dia berkata: Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah menunda/mengulur-ulur terhadap orang yang zhalim (memberikannya kesempatan-red) sehingga bila Dia menyiksanya maka dia (orang yang zhalim tersebut) tidak dapat menghindarinya (lagi) ". Kemudian beliau membacakan ayat (firmanNya): "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras". (QS. 11/Hûd: 102).
2. Macam-Macamnya
Kezhaliman itu ada beberapa macam dan yang paling besar adalah syirik kepada Allah Ta'ala sebagaimana firmanNya -ketika menyinggung wasiat-wasiat Luqman kepada anaknya- : "…Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS.31/Luqmân: 13).
Diantara kezhaliman yang lain adalah:
o Kezhaliman terhadap keluarga dan anak-anak; yaitu tidak mendidik mereka dengan pendidikan islam yang benar.
o Kezhaliman terhadap manusia secara umum; yaitu berbuat hal yang melampaui batas dan menyakiti mereka, mengurangi hak-hak serta melecehkan kehormatan mereka.
o Kezhaliman yang berupa kelalaian dalam melaksanakan hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, seperti tidak bekerja secara optimal sesuai dengan tuntutan pekerjaan atau selalu mengundur-undur kepentingan orang banyak, dan lain-lain.
o Kezhaliman yang terkait dengan para pekerja dan buruh; yaitu dengan mengurangi hak-hak mereka serta membebani mereka dengan sesuatu yang tak mampu mereka lakukan.
3. Tentang Silaturrahim dan dalilnya
Rahim merupakan masalah yang besar dalam dienullah karenanya wajib menyambungnya dan diharamkan memutuskannya.
Diantara indikasinya adalah sabda Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam : "Sesungguhnya Allah Ta'ala (manakala) menciptakan makhlukNya hingga Dia selesai darinya, maka tegaklah rahim sembari berkata:'inilah saat meminta perlindunganMu dari pemutusan'. Dia Ta'ala berfirman: "Ya, apakah engkau rela agar Aku sambungkan dengan orang yang menyambungnya denganmu dan Aku putus orang yang memutuskannya darimu?". Ia (R ahim) berkata:'tentu saja, (wahai Rabb-ku-red)!'. Dia Ta'ala berfirman: "hal itu adalah untukmu". Kemudian Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: "maka bacalah, jika kalian mau (firmanNya) : "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan rahim (hubungan kekeluargaan) [22]. Mereka itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka [23]". (QS.47/Muhammad: 22-23).
4. Bentuk-Bentuk silaturrahim
Silaturrahim dapat berupa :
o Kunjungan, bertanya tentang kondisi masing-masing, memberikan spirit kepada kerabat dekat serta lemah-lembut dalam bertutur kata.
o Memberikan hadiah yang pantas, saling mengucapkan selamat bila mendapatkan kebaikan, membantu orang yang berutang dan kesulitan dalam membayarnya, menawarkan diri untuk hal-hal yang positif, memenuhi hajat orang, mendoakan agar diberikan taufiq dan maghfirahNya, dan lain sebagainya.
5. Faedah silaturrahim dan implementasinya
Silaturrahim dapat memanjangkan umur, memberikan keberkahan padanya, menambah harta dan mengembangkannya, disamping ia sebagai penebus keburukan-keburukan dan pelipat-ganda kebaikan-kebaikan. Hal ini dapat diimplementasikan dengan berupaya mendapatkan keridhaan dari Sang Pencipta, Allah Ta'ala.
Imam al-Bukhâriy meriwayatkans dari Anas radhiallaahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:"Barangsiapa yang ingin agar dibentangkan baginya dalam rizkinya dan ditangguhkan dalam usianya (panjang usia), maka hendaklah ia menyambung rahimnya (silaturrahim)".
6. Bentuk siksaan bagi pemutus silaturrahim
Siksaan-siksaan yang Allah timpakan kepada sebagian hambaNya terkadang berlaku di dunia, terkadang juga ditangguhkan dan berlaku di akhirat; oleh karena itu hendaklah seorang muslim berhati-hati terhadap dirinya dan tidak menghina dosa dan maksiat sekecil apapun adanya manakala tidak melihat siksaannya di dunia.
7. Renungan
Muslim yang sebenarnya adalah orang yang mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Jadi, dia senantiasa melaksanakan hak-hak mereka, tidak menyakiti atau menzhalimi serta tidak semena-mena terhadap mereka baik secara fisik maupun maknawi
Senin, 21 Maret 2011
arti lambang kabupaten bandung
I. Bagian kanan atas berlatar kuning emas
Dengan gambar gunung (Gb. Tangkuban Perahu) berwarna hijau, melambangkan bahwa Kabupaten Bandung termasyhur karena tanahnyayang subur di daerah bergunung-gunung, dan sebagai cirri memiliki gunung Tangkuban Perahu yang sangat terkenal dengan legenda Sangkuriang.
II. Bagian melintang bergerigi
Merupakan bentuk bendungan kokoh kuat berwrna hitam. Melambangkan masyarakat Kabupaten Bandung memiliki pendirian yang kokoh dan kuat, baik secara fisik dalam membendung hawa nafsu.
III. Pohon kina berwarna hijau dan berlatar belakang merah
Melambangkan di Kabupaten Bandung kaya akan air, baik air maupun air danau. Kabupaten Bandung di lintasi oleh sungai Citarum, sungai Cikapundung, dab sungai-sungai kecil lainnya. Kabupaten Bandung danau/situ Patengang, Situ Cileunca, Situ Lembang, Situ Ciburuy, dan danau-danau lainnya.
IV. Dibawah perisai tertulis dalam pita kuning : REPEH RAPIH KERTARAHARJA
Artinya :
• REPEH : Suasana kehidupan yang aman dan tentram.
• RAPIH : Suasana kehidupan yang rukun dan tertib dalam lingkungan yang bersih, sehat dan asri.
• KERTARAHARJA : Tatanan kehidupan yang sejahtera lahir dan batin secara seimbang, serasi adil dan merata.
Dengan gambar gunung (Gb. Tangkuban Perahu) berwarna hijau, melambangkan bahwa Kabupaten Bandung termasyhur karena tanahnyayang subur di daerah bergunung-gunung, dan sebagai cirri memiliki gunung Tangkuban Perahu yang sangat terkenal dengan legenda Sangkuriang.
II. Bagian melintang bergerigi
Merupakan bentuk bendungan kokoh kuat berwrna hitam. Melambangkan masyarakat Kabupaten Bandung memiliki pendirian yang kokoh dan kuat, baik secara fisik dalam membendung hawa nafsu.
III. Pohon kina berwarna hijau dan berlatar belakang merah
Melambangkan di Kabupaten Bandung kaya akan air, baik air maupun air danau. Kabupaten Bandung di lintasi oleh sungai Citarum, sungai Cikapundung, dab sungai-sungai kecil lainnya. Kabupaten Bandung danau/situ Patengang, Situ Cileunca, Situ Lembang, Situ Ciburuy, dan danau-danau lainnya.
IV. Dibawah perisai tertulis dalam pita kuning : REPEH RAPIH KERTARAHARJA
Artinya :
• REPEH : Suasana kehidupan yang aman dan tentram.
• RAPIH : Suasana kehidupan yang rukun dan tertib dalam lingkungan yang bersih, sehat dan asri.
• KERTARAHARJA : Tatanan kehidupan yang sejahtera lahir dan batin secara seimbang, serasi adil dan merata.
panduan PRAMUKA
ASAS, TUGAS POKOK, FUNGSI, TUJUAN, DAN
SIFAT GERAKAN PRAMUKA
1. Fungsi
Manusia berkepribadian, tinggi moral beriman dan berwatak dan berbudi pekerti luhur yang :
2. Asas
Pancasila adalah satu-satunya asas ger-pram untuk mencapai tujuan gerakan pramuka. Ger-pram berusaha supaya penghayatan dan pengamalan pancasila di wujudkan dalam perbuatan dan tindakan setiap anggota ger-pram.
3. Tujuan
a. Kuat mental, tinggi moral, beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME.
b. Tinggi kecerdasannya dan mutu keterampilannya.
c. Kuat jasmani dan sehat rohaninya.
WNI yang berjiwa pancasila, setia dan patuh kepada negara kesatuan Republik Indonesia, menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa dan negara.
4. Tugas pokok
Menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia guna menumbuhkan tunas bangsa agar menjadi generasi yang lebih baik yang sanggup bertanggung jawab dan mampu membin serta mengisi kemerdekaan nasional.Serta mempunyai tugas pokok pula membentuk kader pembangunan di segala bidang.
5. Fungsi
Sebagai lembaga pendidikan luar sekolah serta sebagai wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda dengan menggunakan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan
Sebagai wadah untuk meningkatkan motipasinya melaksanakan kegiatan nyata dan produktip. Sehingga memberi bekal pengabdiannya pada masyarakat bangsa dan negara.
6. Sifat
a. Pendidikan Kepanduan nasional
b. Membantu pemerintah dan masyartakat dalam pembangunan dalam bidang pendidikan diluar sekolah bukan organisasi kekuatan sosial politik dan tidak menjalankan dan tidak menjalankan kegiatan politik praktis
c. Menjamin kemerdekaan tiap-tiap anggota pemeluk agama dan kepercayaan.
SALAM PRAMUKA
a. Salam biasa
Dipergunakan apabila seorang pramuka bertemu dengan pramuka lain untuk pertama kali atau yang terakhir pada saat itu yang terlebih dahulu melihat maka dialah yang memberi salam secara otomatis tanpa aba-aba
Caranya : Mengayunkan tangan kanan kearah pelipis kanan, lengan keatas membuat siku-siku pada ketiak di angkat siku agak kedepan sedikit.
Bermaksud :
- Sebagai tanda saling menghormati, menghargai, menyayangi antar sesama pramuka.
- Saling mendoakan keselamatan baik yang memberi atau yang menerima salam
- Bukti menjalankan pancasila dan mengamalkan kode kehormatan.
b. Salam hormat
- Dengan presiden, Wapres, Mentri, Gubernur, Walikota, Bupati, Camat, Lurah, Pejabat, tokoh masyarakat dan Ortu.
- Melihat bendera sedang berkibar atau diturunkan berhenti sebentar dari kesibukannya.
- Dalam suatu upacara lagu Indonesia Raya Tapi kalau bernyanyi tidak ikut salam hormat.
- Bertemu dengan jenazah.
c. Salam janji
Apabila seorang pramuka dalam suatu upacara mendengar janji trisatya, upacara pelantikan, yang hadir wajib memberi salam janji otomatis tanpa aba.
PENGGOLONGAN PESERTA DIDIK BERDASARKAN USIA DAN
TANDA KECAKAPAN UMUM
Siaga : 7-10 Th. Siaga Mula
Bantu
Tata
Penggalang : 11-15 Th. P. Ramu
Rakit
Terap
Penegak : 16-20 Th. T. Bantara
Laksana
Pandega : 21-25 Th. D. Pandega
HYMNE PRAMUKA
Lagu : H. Mutahar
Gubahan : R.A.J Sudjasman
Kami pramuka indonesia
Manusia pancasila
Satyaku kudarmakan
Darmaku kubaktikan
Agar jaya indonesia.Indonesia
Tanah airku kami jadi pandumu
LAMBANG GERAKAN PRAMUKA
Lampiran Surat Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
Nomor :06/KN/72 Tahun 1972
TENTANG LAMBANG GERAKAN PRAMUKA
Gambar Shilhoute Tunas Kelapa
1. Tunas : ‘Cikal Bakal” arti penduduk asli yang menurunksn generasi baru “ buah nyiur” artinya setiap pramuka merupakan inti bagi kelangsungan hidup bangsa indonesia.
2. Dapat bertahan lama dalam keadaan yang bagaimanapun juga anggota pramuka yang sehat jasmani / rohani , kuat, ulet, serta besar ekadnya dalam menghadapi sgala tantangan tuk mengabdi pada tanaha air.
3. Dapat tumbuh dimana saja hal itu membuktikan besarnya daya upaya dalam menyesuaikan diri dengan keadaan sekelilingnya. Jadi, dapat menyesuaikan dalam masyarakat dimanapun berada dan dalam keadaan apapun juga.
4. Tumbuh menjulang tinggi keatas dan merupakan tumbuhan tertinggi di Indonesia. Artinya anggota pramuka itu mempunyai cita-cita yang tinggi dan lurus yakni maha dan jujur. Ia tetap tegak tidak terombang ambing oleh arus.
5. Akar yang kuat dan erat dalam tanah, artinya tekad dan keyakinan tiap Pramuka yang berpegang pada dasar dan landasan yang baik dan benar kuat dan nyata.
6. Pohon yang serba guna dari ujung sampai akarnya artinya, tiap anggota Pramuka adalah manusia yang berguna serta membuktikan diri dan kegunaan pada kepentingan tanah air, bangsa dan negara/umat manusia.
SIFAT GERAKAN PRAMUKA
1. Fungsi
Manusia berkepribadian, tinggi moral beriman dan berwatak dan berbudi pekerti luhur yang :
2. Asas
Pancasila adalah satu-satunya asas ger-pram untuk mencapai tujuan gerakan pramuka. Ger-pram berusaha supaya penghayatan dan pengamalan pancasila di wujudkan dalam perbuatan dan tindakan setiap anggota ger-pram.
3. Tujuan
a. Kuat mental, tinggi moral, beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME.
b. Tinggi kecerdasannya dan mutu keterampilannya.
c. Kuat jasmani dan sehat rohaninya.
WNI yang berjiwa pancasila, setia dan patuh kepada negara kesatuan Republik Indonesia, menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa dan negara.
4. Tugas pokok
Menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia guna menumbuhkan tunas bangsa agar menjadi generasi yang lebih baik yang sanggup bertanggung jawab dan mampu membin serta mengisi kemerdekaan nasional.Serta mempunyai tugas pokok pula membentuk kader pembangunan di segala bidang.
5. Fungsi
Sebagai lembaga pendidikan luar sekolah serta sebagai wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda dengan menggunakan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan
Sebagai wadah untuk meningkatkan motipasinya melaksanakan kegiatan nyata dan produktip. Sehingga memberi bekal pengabdiannya pada masyarakat bangsa dan negara.
6. Sifat
a. Pendidikan Kepanduan nasional
b. Membantu pemerintah dan masyartakat dalam pembangunan dalam bidang pendidikan diluar sekolah bukan organisasi kekuatan sosial politik dan tidak menjalankan dan tidak menjalankan kegiatan politik praktis
c. Menjamin kemerdekaan tiap-tiap anggota pemeluk agama dan kepercayaan.
SALAM PRAMUKA
a. Salam biasa
Dipergunakan apabila seorang pramuka bertemu dengan pramuka lain untuk pertama kali atau yang terakhir pada saat itu yang terlebih dahulu melihat maka dialah yang memberi salam secara otomatis tanpa aba-aba
Caranya : Mengayunkan tangan kanan kearah pelipis kanan, lengan keatas membuat siku-siku pada ketiak di angkat siku agak kedepan sedikit.
Bermaksud :
- Sebagai tanda saling menghormati, menghargai, menyayangi antar sesama pramuka.
- Saling mendoakan keselamatan baik yang memberi atau yang menerima salam
- Bukti menjalankan pancasila dan mengamalkan kode kehormatan.
b. Salam hormat
- Dengan presiden, Wapres, Mentri, Gubernur, Walikota, Bupati, Camat, Lurah, Pejabat, tokoh masyarakat dan Ortu.
- Melihat bendera sedang berkibar atau diturunkan berhenti sebentar dari kesibukannya.
- Dalam suatu upacara lagu Indonesia Raya Tapi kalau bernyanyi tidak ikut salam hormat.
- Bertemu dengan jenazah.
c. Salam janji
Apabila seorang pramuka dalam suatu upacara mendengar janji trisatya, upacara pelantikan, yang hadir wajib memberi salam janji otomatis tanpa aba.
PENGGOLONGAN PESERTA DIDIK BERDASARKAN USIA DAN
TANDA KECAKAPAN UMUM
Siaga : 7-10 Th. Siaga Mula
Bantu
Tata
Penggalang : 11-15 Th. P. Ramu
Rakit
Terap
Penegak : 16-20 Th. T. Bantara
Laksana
Pandega : 21-25 Th. D. Pandega
HYMNE PRAMUKA
Lagu : H. Mutahar
Gubahan : R.A.J Sudjasman
Kami pramuka indonesia
Manusia pancasila
Satyaku kudarmakan
Darmaku kubaktikan
Agar jaya indonesia.Indonesia
Tanah airku kami jadi pandumu
LAMBANG GERAKAN PRAMUKA
Lampiran Surat Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
Nomor :06/KN/72 Tahun 1972
TENTANG LAMBANG GERAKAN PRAMUKA
Gambar Shilhoute Tunas Kelapa
1. Tunas : ‘Cikal Bakal” arti penduduk asli yang menurunksn generasi baru “ buah nyiur” artinya setiap pramuka merupakan inti bagi kelangsungan hidup bangsa indonesia.
2. Dapat bertahan lama dalam keadaan yang bagaimanapun juga anggota pramuka yang sehat jasmani / rohani , kuat, ulet, serta besar ekadnya dalam menghadapi sgala tantangan tuk mengabdi pada tanaha air.
3. Dapat tumbuh dimana saja hal itu membuktikan besarnya daya upaya dalam menyesuaikan diri dengan keadaan sekelilingnya. Jadi, dapat menyesuaikan dalam masyarakat dimanapun berada dan dalam keadaan apapun juga.
4. Tumbuh menjulang tinggi keatas dan merupakan tumbuhan tertinggi di Indonesia. Artinya anggota pramuka itu mempunyai cita-cita yang tinggi dan lurus yakni maha dan jujur. Ia tetap tegak tidak terombang ambing oleh arus.
5. Akar yang kuat dan erat dalam tanah, artinya tekad dan keyakinan tiap Pramuka yang berpegang pada dasar dan landasan yang baik dan benar kuat dan nyata.
6. Pohon yang serba guna dari ujung sampai akarnya artinya, tiap anggota Pramuka adalah manusia yang berguna serta membuktikan diri dan kegunaan pada kepentingan tanah air, bangsa dan negara/umat manusia.
pendidikan masa kini
KATA PENGANTAR
Pendidikan merupakan upaya sadar orang dewasa (terencana ataupun tidak), bertujuan untuk mewujudkan peserta didik secara aktif, mengembangkan potensi dirinya guna memiliki kekuatan kecerdasan (intelektual, emosional dan spiritual), berupaya membentuk akhlak mulia dan menumbuhkan keterampilan-keterampilan yang diperlukan. Baik untuk dirinya, masyarakat ataupun lingkungan di mana mereka berada. Sejalan dengan itu, sistem pendidikan nasionalpun telah berupaya menjawab dan mengendalikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisensi manajemen pendidikan sesuai dengan tuntutan perkembangan zamannya. Di samping itu juga, sistem pendidikan berupaya mengendalikan pemerataan kesempatan pendidikan secara serasi, selaras dan seimbang.
Sistem pendidikan nasional tersebut direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan amanat Pembukaan Undang- Undang Dasar Negara Indonesia tahun 1945, yakni Pemerintah Negara Indonesia merlindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
BAB I
PENDAHULUAN
Gambaran umum kehidupan masyarakat masa kini, banyak kemajuan yang dirasakan, baik dalam ilmu pengetahuan, teknologi ataupun komunikasi mulai dari yang sifatnya tradional hingga yang paling canggih. Di balik semua itu banyak pula dilihat, dirasakan dan didengar orang tua (langsung/tidak langsung) telah menyatakan keluhan terhadap keperihatinan terhadap anak-anaknya. Keluhan-keluhan tersebut meliputi ;
1. Pekerjaan terbatas dan tenaga kerja yang melimpah ruah, pengangguran terjadi di mana-mana, premanisasi semakin menjadi-jadi dari kalangan kaum muda.
2. Pergaulan bebas sudah tidak bisa dibatasi.
3. Model-model pakaian yang memicu kepada gairah seks.
4. Pergaulan anak dan orang tua kurang memperhatikan moral, akan tetapi lebih mementingkan kepada materi dan keilmuan.
5. Persoalan agama hanya merupakan simbol-simbol ritual, sedangkan amaliyah dan syari'atnya kurang dikerjakan. Sehingga umat beragama nyaris kehilangan identitas keagamaannya.
Di samping persoalan di atas, pendidikan juga tidak lepas dari persoalan orang tua, di sana sini terkandung beban yang sangat berat guna membina generasi muda yang memiliki "BOM" (Basic of Material). Banyak orang tua yang tidak bisa menyesuaikan harga (pembiayaan) pendidikan yang cukup mahal.
Berbicara tentang pendidikan, tidak hanya berbicara tentang ilmu dan keterampilan, akan tetapi juga menyangkut soal akhlak (moral). DR. Miqdad Yeljen mengungkapkan : "Persoalan Akhlak, cukup mencolok dengan semakin bertambahnya angka kriminilitas dan berbagai macam bentuk penyimpangan moral. Seperti ; pemalsuan, penipuan, pencurian, pengkhianatan, tidak loyal pada janji dan tidak pula komitmen dengan hal-hal lainnya
Contoh lain adalah merajalelanya mabuk-mabukan, pencandu obat-obatan terlarang, perzinaan, pelanggaran terhadap kehormatan dan membudayanya perkataan kotor dan cacian, penyimpangan-penyimpangan moral ini semakin hari semakin bertambah dan bukan malah menurun (berkurang)
Belum lagi kita bicara tentang pergolakan sosial, politik dan peradaban. Kesemua sangat berpengaruh pada prilaku, perbuatan, sikap dan sudut pandang berpikir dalam diri individu dan kelompok yang berdalih kepentingan orang banyak.
Semua peristiwa atau sekandal-sekandal yang berkembang di masyarakat erat kaitanya dengan keberhasilan pendidikan. Betapa banyak lembaga-lembaga pendidikan, baik secara pormal (Pendidikan sekolah) ataupun pendidikan Non Formal (Pendidikan luar Sekolah), dalam pendidikan luar sekolah semakin hari tumbuh dan berkembang majelis-majelis ta'lim, bagaikan jamur di musim hujan. Akan tetapi semua itu belum mampu memecahkan atau menemukan solusi terbaik untuk pembinaan umat (generasi) yang lebih baik.
BAB II
DASAR PENDIDIKAN DI NEGARA INDONESIA
Sehubungan dengan kehendak mencerdaskan kehidupan bangsa, sesuai dengan UUD'45 pasal 31 ayat 1 dan 2, menyatakan;
1. Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran.
2. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang.
Realisasi dari UUD'45 ini lahirlah UU RI tentang pendidikan nasional. Berdasarkan UU Republik Indonesia No. 22 Th. 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), Bab II pasal 2 Perdidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Ripublik Indonesia Tahun 1945, dan pasal 3 Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Manusia sebagai makhluk Tuhan yang dijadikan-Nya paling sempurna di antara makhluk lainnya. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya :
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?
Dari ayat ini jelas memberikan gambaran bahwa manusia yang dijadikan Allah dengan sebaik-baik bentuk akan berbalik kepada bentuk yang serendah-rendahnya. Artinya jika kejadian yang sempurna bagi manusia itu bila tidak dipelihara dengan sebaik-baiknya, maka manusia tersebut akan menjadi tidak baik. Untuk memelihara kebaikan bentuk tersebut, maka diperlukan latihan dan kebiasaan-kebiasaan untuk berbuat baik, selalu memperhatikan dirinya agar tidak melakukan perbuatan yang merusak bentuk kejadian yang baik.
Memahami akan ayat tadi, maka manusia dituntut untuk memelihara bentuk kejadiannya yang sempurna itu. Salah satu alternatif yang menjadi pokok perhatiannya adalah melalui "pendidikan".selanjutnya Allah memperingatkan :
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran .
Disebutkan dalam al-qur'an sebanyak 65 kali, seluruhnya untuk tujuan-tujuan pendidikan yang disertai dengan seruan kepada kebajikan dan pencegahan dari yang mungkar. Semua itu disampaikan dalam bentuk peringatan tentang penciptaannya atau dengan mengemukakan fitrahnya, atau menjauhkannya dari penyelewengan-penyelewengan, keangkuhan dan kekufurannya, atau dengan menggambarkan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya serta pendidikan yang diberikan Allah kepadanya.
Memahami akan makna pendidikan, kiranya perlu direnungkan surat pertama yang diturunkan Allah untuk melihat sikap yang jelas sisi kebaikan dan keburukan manusia, yakni :
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu).
Pada ayat ini terkandung maksud bahwa manusia dididik untuk memperhatikan Allah atau selalu menyebut nama Allah, dan memperhatikan pelajarannya, membuka mata hati untuk mengerti semua ciptaannya dan memahami hakikat kejadiannya..
Telah digambarkan bahwa Allah telah menciptakan dunia dan akhirat agar manusia untuk menjadi tempat tinggalnya, sebagai khalifah dan mengerti bahwa akan ada suatu hari perhitungan atau hari pertanggung jawaban. Bagi mereka yang berpikir sudah barang tentu akan selalu waspada dan mawas diri agar setelah tiba masa hari perhitungan tidak mendapat kesulitan.
Upaya menyelamatkan manusia dari serendah-rendahnya derajat manusia, maka manusia memerlukan agama dan pendidikan. Agama yang benar adalah yang berpedoman pada Al-Qur'an dan Al-Hadits. Dan untuk memahami agama itu maka manusia memerlukan pendidikan. Pendidikan adalah pertolongan orang-orang yang bertanggung-jawab atas perkembangan anak agar mereka menjadi dewasa. Semua kebaikan memang tidak bisa kita harapkan karena banyaknya pengetahuan atau resep-resep pendidikan. Ketidak tahuan adalah merupakan penyakit yang paling mudah disembuhkan, akan tetapi membentuk pribadi yang sempurna adalah amat sulit.
Pembentukan perilaku seseorang sangat ditentukan oleh lingkungnan terbesar, yakni Rumah tangga, Sekolah dan masyarakat. Ketiga-tiganya harus berjalan selaras dan seimbang. Di lingkungan rumah tangga pendidikannya berjalan dengan baik dan benar, juga di sekiolah sudah terprogram dengan baik, namun di lingkungan masyarakat tidak baik, maka pendidikan perilakupun tidak menjadi sempurna. Sebaliknya di lingkungan masyarakat baik dan juga disekolah baik, akan tetapi sdi lingkungan rumah tangga tidak terurus sengan baik , maka perilaku yang diharapkan juga tidak akan muncul.
PENTINGNYA PENDIDIKAN DALAM KEHIDUPAN
Gambaran tentang pentingnya pendidikan, maka dapat dilihat pada diagram di bawah ini.
HAL HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PENDIDIKAN
PENDIDIKAN
PERTOLONGAN
TUJUAN
Suatu gambaran bahwa pelaksanaan pendidikan harus jelas dan bersifat pertolongan, pertolongan itu sendiri diperlukan ke arah kedewasaan untuk mencapai tujuan pendidikan, baik yang bersifat umum ataupun secara khusus, yakni pembentukan manusia yang berkualitas untuk selanjutnya menjadi pribadi muslim sejati. Artinya tujuan akhir dari pendidikan itu adalah kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Banyak orang yang berhasil mendidik anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi, berhasil dalam urusan dunianya, akan tetapi urusan akhiratnya gagal. Sebaliknya banyak orang tua yang berhasil mendidik urusan ahkirat, akan tetapi gagal dalam urusan dunia.
Dengan demikian kebijaksanaan dalam memilih pendidikan terhadap generasinya merupakan hal penting, karena gejala pendidikan itu sendiri sebenarnya merupakan kebutuhan bagi setiap orang, tanpa pendidikan seseorang tidak akan dapat tumbuh dan berkembangan dengan baik. Pendidikan secara umum saja belum cukup membekali kehidupan seseorang, sebaliknya pendidikan agama saja juga belum cukup membekali hidup seseorang, pendidikan yang edial adalah kedua-duanya.
Upaya mendapatkan pendidikan umum ataupun agama, diperlukan ilmu yang didapatkan melalui proses pendidikan itu sendiri, baik dalam sekolah ataupun luar sekolah, output pendidikan sangat berhubungan dengan berhubungan pembentukan pribadi.
Selanjutnya untuk memperjelas tentang pentingnya pendidikan dalam kehidupan manusia dan hubungannya dengan kewajiban menuntut ilmu serta hubungannya pendidikan dengan pembentukan keperibadian.
Gambar di atas memberikan penjelasan bahwa pendidikan (Umum dan atau Agama) yang diperoleh manusia baik melalui pendidikan sekolah, rumah tangga dan masyarakat pada hakikatnya untuk menciptakan manusia berkualitas/muslim sejati untuk mencapai tujuan, yakni hidup bahagia di dunia ataupun di akhirat. Upaya memenuhi keinginan tersebut, maka manusia membutuhkan pendidikan yang dipengaruhi oleh ilmu, iman dan amal sebagai lingkungan strategis yang turut mensukseskan tercapainya tujuan tersebut.
Oleh karena itulah manusia tidak bisa lepas dari pendidikan, baik sifatnya umum ataupun khusus (agama). Kedua jenis pendidikan tersebut akan membuahkan suatu pribadi hakiki. Bagi pendidikan yang bersifat umum akan berusaha mencapai pribadi manusia yang berkualitas. Sedangkan pendidikan yang bersifat khusus (Agama) akan mengantarkan peserta didiknya untuk mencapai pribadi hakiki dalam arti manusia muslim sejati.
Untuk sampai kepada suatu tujuan tersebut, maka manusia memerlukan ilmu, iman dan amal. Secara psikologis, kejadian manusia yang dibentuk oleh Tuhan adalah dalam kesempurnaan yang meliputi elemen-elemen rohaniah dan jasmaniah. Kesempurnaannya menyebabkan manusia menjadi makhluk yang paling mampu dalam ikhtiar menciptakan keseimbangan hidup rohaniah dan jasmani sehingga dapat mengalami hidup yang tegak dalam masyarakat
Dalam sejarah lahirnya manusia, bahwa ia dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan pada dirinya terdapat benih-benih kejiwaan yang mempunyai kemungkinan untuk berkembang ke arah yang baik (positif), namun demikian manusia juga tidak lepas dari kemungkinan untuk berkembang ke arah yang lebih buruk lagi merugikan diri dan masyarakatnya.
Pendidikan diperoleh yang terbanyak adalah melalui mata (83 %), kemudian telinga (11 %), un tuk selanjutnya melalui hidung, mulut dan tangan hanya (6 %).
Dari gambar di atas bahwa keteladanan memegang peranan penting dalam proses pendidikan, karena melalui penglihatan sangat besar prosestasinya, yakni mencapai 83 %, sedangkan pemberian nasehat kecil peranannya, dan melalui hidung dan mulut serta tangan sangat kecil sekali, hanya mencapai 6 %. selanju
Oleh karena itulah, orang tua yang bijaksana sudah barang tentu harus lebih banyak memberikan contoh teladan yang baik, baik hubungannya dengan hablum minanllah ataupun hambumminnas. Sedangkan pemberian nasehat hendaknya diperkecil, karena anak cenderung membahas dan bahkan menolak apa yang dinasehatkan kepadanya. Namun demikian bukan berarti kita tidak perlu memberikan nasehat kepada anak-anak. Akan tetapi nasehat harus diimbangi dengan contoh teladan yang benar.
Selanjutnya, walaupun pada gambar di atas dinyatakan bahwa pendidikan melalui hidung, mulut dan tangan sangat kecil peranannya, namun juga turut menentukan. Misalnya hidung, hidung merupakan indera penciuman yang harus kita gunakan untuk mencium sesuatu yang baik bukan digunakan untuk hal-hal yang tidak baik. Oleh karenanya kesalahan dalam mencium sesuatu, maka akan berakibat sala pula dalam mengartikan sesuatu. Mulut yang di dalamnya terdapat lidah, pepatah mengatakan lidah kadang-kadang lebih tajam dari pisau, karena melalui mulut orang dapat mencelakaan seseorang, meelalui mulut dapat menyebabkan perkelahian atau permusuhan. Kemudian tangan, dengan tangan dapat membentuk sesuatu yang terbuang menjadi bermanfaat, sebalik dengan tangan dapat merusak sesuatu yang baik menjadi rusak/hancur berantakan. Walaupun dalam gambar tersebut terdapat kelasifikasi yang cukup tajam, namun semua itu harus berhubungan satu sama lainnya.
Selanjutnya ada satu hal lagi yang perlu kita pahami dan perhatikan secara seksama, bahwa pendidikan kita sekarang lebih mengutamakan kepada segi kecerdasan intelektual, sedangkan segi kecerdasan emosional dan spiritual kurang menjadi perhatian. Pada hal intelektual hanya maksimal 20% dapat mempengaruhi kesuksesan seseorang, dan yang terbanyak justeru ada pada kecerdasan emosional dan spiritual mencapai maksimal 80%.
Itulah sebabnya manusia diwajibkan untuk menuntut ilmu, karena Ilmu Pengetahuan mempunyai tujuan untuk memahami, meramalkan, serta mengendalikan kondisi dan situasi yang dialami manusia dalam lingkungan hidupnya dan dalam dirinya sendiri.
Melalui ilmu pengetahuan dan dorongan instink "curiosity" (dorongan ingin tahu) telah mendorong manusia untuk belajar. Akibat dari keingin-tahuan itulah pula yang menyebabkan manusia menguasai ilmu yang sangat berguna bagi dirinya, juga masyarakat lingkungannya. Ilmu pengetahuan itu sendiri telah tertampung melalui tiga lingkungan, yakni Rumah Tangga, Sekolah dan masyarakat. Semakin baik ilmu yang dituangkan dalam rumah tanggal, sekolah dan masyarakat, maka akan semakin sempurna pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia. Ketiga lingkungan tersebut hendaknya berjalan serasi, selaras dan seimbang. Karena bila salah satu di antara ketiganya, maka akan berakibat salah dalam menafsirkan hidup. Ketidak seimbangan antara pengalaman pendidikan di rumah tangga, sekolah dan masyarakat dapat menyebabkan manusia salah dalam menggunakan ilmunya. Sebagai contoh : sebuah pisau yang tajam apabila dipegang oleh seorang penjahat akibat pendidikan yang salah akan digunakannya untuk membunuh, akan tetapi bila pisau itu dipegang oleh orang baik-baik dengan pendidikan yang benar, maka pisau itu tidak digunakannya untuk membunuh."
Dengan demikian pendidikan sangat memegang peranan penting terhadap pembentukan pribadi seseorang. Oleh karenanya bila semakin baik dan terarah pendidikan yang dilakukan oleh orang dewasa, maka semakin jelas tujuan yang ingin dicapainya, dan pada gilirannya akan mendekati kepada suatu keperibadian yang sempurna. Sebaliknya semakin banyak kesalah dalam mendidik, maka semakin besar pula kekeliruan pribadi yang dibuahkan.
Kewajiban kita sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna dibanding makhluk lainnya adalah melengkapi diri dengan berbagai ilmu pengetahuan. Karena dengan ilmu pengetahuan itulah iman dan Islam seseorang menjadi sah dan sempurna. Rasulullah saw bersabda :
"Menuntut Ilmu Pengetahuan adalah kewajiban setiap Muslim" Selanjutnya Rasulullah menegaskan dalam sabdanya :
"Tuntutlah ilmu pengetahuan, sekalipun ke negeri Cina"
Berdasarkan dari dua hadits di atas, maka kewajiban menuntut ilmu itu merupakan fardhu a'in, oleh karenanya kewajiban menuntut ilmu ini harus diketahui oleh setiap orang Muslim.
Satu kenyataan dimasyarakat bahwa oerang yang tidak pernah memiliki ilmu mereka tidak pernah mengenal lelah untuk mencari dan mengumpulkan harta kekayaan dunia sepanjang siang dan malam, senantiasa memburu dan menyibukan diri untuk mengumpulkan dan menahannya. Mereka lebih mengutamakan kesenangan dunia dengan harta kekayaannya.
Selanjutnya bagi mereka yang tidak berpikir dan sama sekali tidak tahu tentang agama, maka merekapun tidak pernah meluangkan waktunya untuk menuntut ilmu pengetahuan keagamaan, bahkan enggan hadir dalam majelis-majelis. Sebaliknya orang yang demikian itu bila ada urusan dunia maka iapun berjuang sekuat tenaga bahkan beranai mati untuk mendapatkannya.
Allah memperingatkan dalam firmanNya : (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.
Hasan al-Bishiri ra, berkata : "Lantaran terlampau mengenal dunia dan urusannya, seseorang bisa mengenal berat uang satu dirham tanpa melihatnya. Tetapi manakala ditanyakan tentang syarat-syarat bersuci dan shalat, ia hanya bisa mengelengkan kepala karena tidak tahu"
Memperhatikan kepada perkataan al Bashiri tersebut, bila seseorang ingin hidup bahagia di dunia dan di akhirat, maka harus memiliki ilmunya. Dan kepadaorang yang terlampau mencintai dunia, maka yang dia ketahui hanyalah urusan dunia saja sedangkan urusan akhirat sama sekali tidak dikenal dalam dirinya.
Oleh karena itu antara ilmu, iman dan amal harus berjalan secara berimbang dalam kehidupan seseorang. Karena dengan ilmulah pula dapat mengenalkan iman dan dengan ilmu dan iman itulah pula seseorang dapat melakukan amal dengan baik dan sempurna.
]Kenyataan di dunia sekarang banyak orang yang berilmu tapi tapi tidak beriman, maka ilmunya hanya dapat diigunakan untuk mencintai dunia dan harta kekayaannya saja. Loqmanulhakim telah memperingatkan kepada anaknya :
"Hai anakku, sesungguhnya dunia ini lautan yang dalam dan manusia telah banyak karam di dalamnya. Oleh karena itu, jadikanlah kapalmu di dunia ini berbakti kepada Allah, muatannya iman dan layarnya tawakkal kepada allah, mudah mudahan engkau selamat"
Luqman memberikan gambar bahwa hidup tanpa ilmu adalah buta, dan hidup tanpa iman adalah bagaikan kapal tanpa kemudi. Untuk selanjutnya hidup tanpa amal tak ada bekal yang akan dibawa untuk mencapai suatu kehidupan yang hakiki.
Apabila ilmu, iman dan amal mantap dalam diri kita, maka hasil dari pendidkan betul betul dapat membentuk keperibadian seseorang. Oleh karenanya pengalaman pendidikan yang diperoleh mulia dari lingkungan kehidupan rumah tanggan hingga pada lingkgungan masyarakat baik, maka besar kemungkinan dapat terbentuknya keperibadian yang baik pula. Karena pengalaman pendidikan itu sendiri erat hubungannya dengan pembentukan pribadi seseorang.
Bila kita gambarkan hubungan pendidikan dengan kepribadian, adalah sebagai berikut :
Pada gambar di atas jelas bahwa pendidikan dan kepribadian, terbentuk oleh lingkungan Rumah Tangga, Sekolah ataupun Lingkungan Masyarakat. Oleh karena hidup dalam ketiga lingkungan tersebut dalam keadaan baik maka dapat dipastikan bahwa pendidikan dan keperibadian akan terbimbingan oleh ilmu, iman dan amal yang baik pula. Sebaliknya bila hidup seseorang tumbuh dan berkembangan dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat yang tidak baik, maka pendidikan dan kepribadiannya akan terbentuk dalam keadaan yang bermasalah. Karena pengalaman hidup yang tidak baik akan melahirkan sesuatu yang tidak baik pula.
Dengan demikian, bila pengalaman pendidikan yang tumbuh dan berkembangan dalam pengawasan ilmu, iman dan amal yang baik serta tanggung jawab, baik hubungannya dengan pendidikan umum terlebih-lebih dalam pendidikan agama (Islam), dan hidup dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat yang berpendidikan lagi agamis, maka keperibadian akan tumbuh dan berkembangan dengan sempurna sesuai dengan ilmunya.
Oleh karenanya kepribadian seseorang tidak pernah lepas dari pendidikan dan pendidikan itu sendiri bertujuan untuk membantuk keperibadian yang dikehendaki oleh ilmunya.
Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa pendidikan telah menduduki peranan penting dalam pembentukan keperibadian seseorang. Kekeliruan dalam melakukan pendidikan, baik dalam lingkungan rumah tangga, sekolah ataupun dalam lingkungan masyarakat, maka besar kemungkinan pula melahirkan perilaku yang tidak baik.
Oleh karenanya pendidikan yang dilakukan dalam rumah tangga, sekolah dan masyarakat harus berjalan secara terpadu. Orang tua tidak bisa melepaskan atau mengharapkan pendidikan itu kepada tugas guru semata-mata. Sebaliknya seorang guru tidak bisa hanya mengandalkan ilmunya untuk mendidik keperibadian anak didiknya bila tidak mendapat dukungan dari orang tua di rumah tangga dan masyarakat sebagai lingkungan pergaulan anak-anak.
Akhirnya dapat kita pahami bahwa tugas mendidik keperibadian seseorang adalah menjadi tugas semua orang dewasa, apakah mereka sebagai pendidik, orang tua ataupun sebagai tokoh masyarakat, baik yang berprofesi sebagai pendidik secara umum ataupun yang berprofesi sebagai tokoh agama.
Semoga kita termasuk orang yang mengerti akan tanggung jawab, terutama hubungan pendidikan dengan keperibadian generasi muda kita.
PANDANGAN PENDIDIKAN MASA KINI
Pendidikan nasional berdasarkan UU RI No. 20 Th. 2003, Bab VI, Jalur, Jenjang dan Jenis Pendidikan, Bagian kesatu, Umum, pasal 13, jalur pendidikan terdiri atas pendidiknan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya
Yang dimaksud dengan pendidikan formal adalah jalur, jenjang dan jenis pendidikan yang dikelola oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat. Adapun pendidikan nonformal adalah pendidikan yang dikelola oleh masyarakat, Sedangkan pendidikan informal adalah pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
Memperhatikan kepada UU tersebut sudah cukup jelas maksud dan tujuan yang hendak dicapai . Namun yang menjadi masalah adalah nuansa-nuansa pendidikan di luar ketiga jalur pendidikan di atas, yakni pendidikan yang secara tidak langsung seperti kegiatan politik yang tidak sehat, kegiatan-kegiatan yang berlangsung di masyarakat, siaran atau berita yang disampaikan melalui mess media cetak, audio visual telah membantuk moral baru bagi generasi muda, cenderung merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagai bentuk keperihatinan pendidikan yang merusak atau cenderung mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara yang kurang baik terhadap pembentukan moral bangsa adalah adanya persoalan-persoalan material, spritual, sosial, politik dan peradaban serta pemahaman sempit tentang pendidikan. Yang selama ini belum terpecahkan telah menganggu ketertiban pelaksanaan pendidikan.
Dengan demikian muncul persoalan-persoalan baru, yakni persoalan rasialisme, keamanan dabn meningkatkan angka kriminalitas, lapangan kerja, dan hilangnya berbagai standar nilai kemanusiaan. Di mana-mana terjadi kerusuhan, musibah silih berganti, semua itu telah mempengaruhi terhadap perkembangan jiwa generasi.
Disadari atau tidak bahwa efik samping kejadian dan peristiwa tersebut telah berpengaruh terhadap perkembangan moral/akhlak, sehingga dewasa ini sering muncul bentuk-bentuk kejahatan yang dirasakan dan cukup meresahkan kehidupan masyarakat, yakni menjamurnya bentuk-bentuk pemalsuan, penipuan, pencurian, penghianatan, tidak loyal pada janji dan tidak pula komitmen terhadap kebijakan, dan lain sebagainya. Belum bicara tentang merajalelanya mabuk-mabukan, pecandu obata-obatan terlarang, berkosaan, dan bentuk-bentuk pelanggaran terhadap kehormatan dan membudayanya perkataan kotor dan cacian, dan lain sebagainya.
Persoalan tersebut tidak lepas dari persoalan pendidikan yang kurang memperhatikan kepada pendidikan moral, di sekolah-sekolah mata pelajaran sejarah sudah ditiadakan, yang mana secara tidak langsung telah memberikan pengalaman hidup berbangsa dan bernegara yang seyogyanya menjadi bahan renungan bagi generasi muda untuk memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara.
Secara UU pendidikan nasional memang pemerintah telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelenggarakan pendidikan dengan sebaik-baiknya, setiap tahun dan setiap ada pergantian pimpinan selalu berupaya menyempurnakan kurikulum, pola dan starategi pembelajaran, namun demikian penyempurnaan tersebut hanya terarah kepada pembinaan pengetahuan dan keterampilan, terarah pada pembinaan pola dan sterategi pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan. Akan tetapi menyangkut moral kurang perhatian, guru-guru agama di sekolah-sekolah umum kurang berperan dan jam/alokasi pelajarannyapun sangat terbatas. Dalam waktu 2 (dua) jam perminggu tidaklah cukup untuk menyelenggarakan pendidikan agama plus akhlak/kepribadian. Di samping itu pendidikan agama belum mampu mengimbangi kemajuan ilmu dan teknologi serta komunikasi.
BAB III KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa :
1. Pendidikan merupakan hal penting yang harus diperhatikan, tidak saja di kalangan pemerintah, akan tetapi menjadi perhatian bagi semua komponen bangasa.
2. Penyelenggaraan pendidikan hendaknya tidak terfokos pada peningkatan mutu ilmu dan keterampilan saja melainkan juga harus memperhatikan segi moral yang didasarkan pada agama.
3. Penyelenggaraan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pada pendidik saja, melainkan juga orang tua khususnya dan masyarakat pada umumnya.
4. Nuansa-nuansa pendidikan yang disiarkan dalam mess media cetak dan audio visual tidak hanya mengejar segi material saja, akan tetapi juga hendaknya dapat menunjang segi moral kehidupan berbangsa dan bernegara,
DAFTAR PUSTAKA
A.W.Wijaya, Pedoman Pokok-Pokok dan Materi Perkuliahan Pancasila pada perguruan Tinggi, PT. Milton Putera, Jakarta, 1984.
Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahnya, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur'an, Pelita III/Tahun V/1983/1984
Floyd L. Ruch, Psikology and Life, dikutip oleh H.M. Arifin, Ibid,
H.M. Arifin, Psikologi dan Beberapa Aspek Kehidupan rohaniah manusia, Bulan Bintang, Jakarta, 1976,
Hadijah Salim, Apa Arti Hidup, PT. Alma'arif, Bandung, Cetakan 1, 1972,
Hasan al-Bushiri ra, dikutip oleh Imam Habib Abdullah Haddad, Nasehat Agama dan Wasiat Uman, CV. Toha Putra, Semarang, 1993
Miqdad Yeljen, Globalitas Persoalan Manusia Modern (Solusi Tarbiyah Islamiyah), Risalah Gusti, Surabaya, 1995.
Perquin, Russen dan Carp, Pendidikan Keluarga dan Masalah Kewibawaan, IKIP, Bandung, tt,
UURI No. 20 Th. 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), Citra Umbara, Bandung, 2003.
Pendidikan merupakan upaya sadar orang dewasa (terencana ataupun tidak), bertujuan untuk mewujudkan peserta didik secara aktif, mengembangkan potensi dirinya guna memiliki kekuatan kecerdasan (intelektual, emosional dan spiritual), berupaya membentuk akhlak mulia dan menumbuhkan keterampilan-keterampilan yang diperlukan. Baik untuk dirinya, masyarakat ataupun lingkungan di mana mereka berada. Sejalan dengan itu, sistem pendidikan nasionalpun telah berupaya menjawab dan mengendalikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisensi manajemen pendidikan sesuai dengan tuntutan perkembangan zamannya. Di samping itu juga, sistem pendidikan berupaya mengendalikan pemerataan kesempatan pendidikan secara serasi, selaras dan seimbang.
Sistem pendidikan nasional tersebut direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan amanat Pembukaan Undang- Undang Dasar Negara Indonesia tahun 1945, yakni Pemerintah Negara Indonesia merlindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
BAB I
PENDAHULUAN
Gambaran umum kehidupan masyarakat masa kini, banyak kemajuan yang dirasakan, baik dalam ilmu pengetahuan, teknologi ataupun komunikasi mulai dari yang sifatnya tradional hingga yang paling canggih. Di balik semua itu banyak pula dilihat, dirasakan dan didengar orang tua (langsung/tidak langsung) telah menyatakan keluhan terhadap keperihatinan terhadap anak-anaknya. Keluhan-keluhan tersebut meliputi ;
1. Pekerjaan terbatas dan tenaga kerja yang melimpah ruah, pengangguran terjadi di mana-mana, premanisasi semakin menjadi-jadi dari kalangan kaum muda.
2. Pergaulan bebas sudah tidak bisa dibatasi.
3. Model-model pakaian yang memicu kepada gairah seks.
4. Pergaulan anak dan orang tua kurang memperhatikan moral, akan tetapi lebih mementingkan kepada materi dan keilmuan.
5. Persoalan agama hanya merupakan simbol-simbol ritual, sedangkan amaliyah dan syari'atnya kurang dikerjakan. Sehingga umat beragama nyaris kehilangan identitas keagamaannya.
Di samping persoalan di atas, pendidikan juga tidak lepas dari persoalan orang tua, di sana sini terkandung beban yang sangat berat guna membina generasi muda yang memiliki "BOM" (Basic of Material). Banyak orang tua yang tidak bisa menyesuaikan harga (pembiayaan) pendidikan yang cukup mahal.
Berbicara tentang pendidikan, tidak hanya berbicara tentang ilmu dan keterampilan, akan tetapi juga menyangkut soal akhlak (moral). DR. Miqdad Yeljen mengungkapkan : "Persoalan Akhlak, cukup mencolok dengan semakin bertambahnya angka kriminilitas dan berbagai macam bentuk penyimpangan moral. Seperti ; pemalsuan, penipuan, pencurian, pengkhianatan, tidak loyal pada janji dan tidak pula komitmen dengan hal-hal lainnya
Contoh lain adalah merajalelanya mabuk-mabukan, pencandu obat-obatan terlarang, perzinaan, pelanggaran terhadap kehormatan dan membudayanya perkataan kotor dan cacian, penyimpangan-penyimpangan moral ini semakin hari semakin bertambah dan bukan malah menurun (berkurang)
Belum lagi kita bicara tentang pergolakan sosial, politik dan peradaban. Kesemua sangat berpengaruh pada prilaku, perbuatan, sikap dan sudut pandang berpikir dalam diri individu dan kelompok yang berdalih kepentingan orang banyak.
Semua peristiwa atau sekandal-sekandal yang berkembang di masyarakat erat kaitanya dengan keberhasilan pendidikan. Betapa banyak lembaga-lembaga pendidikan, baik secara pormal (Pendidikan sekolah) ataupun pendidikan Non Formal (Pendidikan luar Sekolah), dalam pendidikan luar sekolah semakin hari tumbuh dan berkembang majelis-majelis ta'lim, bagaikan jamur di musim hujan. Akan tetapi semua itu belum mampu memecahkan atau menemukan solusi terbaik untuk pembinaan umat (generasi) yang lebih baik.
BAB II
DASAR PENDIDIKAN DI NEGARA INDONESIA
Sehubungan dengan kehendak mencerdaskan kehidupan bangsa, sesuai dengan UUD'45 pasal 31 ayat 1 dan 2, menyatakan;
1. Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran.
2. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang.
Realisasi dari UUD'45 ini lahirlah UU RI tentang pendidikan nasional. Berdasarkan UU Republik Indonesia No. 22 Th. 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), Bab II pasal 2 Perdidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Ripublik Indonesia Tahun 1945, dan pasal 3 Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Manusia sebagai makhluk Tuhan yang dijadikan-Nya paling sempurna di antara makhluk lainnya. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya :
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?
Dari ayat ini jelas memberikan gambaran bahwa manusia yang dijadikan Allah dengan sebaik-baik bentuk akan berbalik kepada bentuk yang serendah-rendahnya. Artinya jika kejadian yang sempurna bagi manusia itu bila tidak dipelihara dengan sebaik-baiknya, maka manusia tersebut akan menjadi tidak baik. Untuk memelihara kebaikan bentuk tersebut, maka diperlukan latihan dan kebiasaan-kebiasaan untuk berbuat baik, selalu memperhatikan dirinya agar tidak melakukan perbuatan yang merusak bentuk kejadian yang baik.
Memahami akan ayat tadi, maka manusia dituntut untuk memelihara bentuk kejadiannya yang sempurna itu. Salah satu alternatif yang menjadi pokok perhatiannya adalah melalui "pendidikan".selanjutnya Allah memperingatkan :
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran .
Disebutkan dalam al-qur'an sebanyak 65 kali, seluruhnya untuk tujuan-tujuan pendidikan yang disertai dengan seruan kepada kebajikan dan pencegahan dari yang mungkar. Semua itu disampaikan dalam bentuk peringatan tentang penciptaannya atau dengan mengemukakan fitrahnya, atau menjauhkannya dari penyelewengan-penyelewengan, keangkuhan dan kekufurannya, atau dengan menggambarkan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya serta pendidikan yang diberikan Allah kepadanya.
Memahami akan makna pendidikan, kiranya perlu direnungkan surat pertama yang diturunkan Allah untuk melihat sikap yang jelas sisi kebaikan dan keburukan manusia, yakni :
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu).
Pada ayat ini terkandung maksud bahwa manusia dididik untuk memperhatikan Allah atau selalu menyebut nama Allah, dan memperhatikan pelajarannya, membuka mata hati untuk mengerti semua ciptaannya dan memahami hakikat kejadiannya..
Telah digambarkan bahwa Allah telah menciptakan dunia dan akhirat agar manusia untuk menjadi tempat tinggalnya, sebagai khalifah dan mengerti bahwa akan ada suatu hari perhitungan atau hari pertanggung jawaban. Bagi mereka yang berpikir sudah barang tentu akan selalu waspada dan mawas diri agar setelah tiba masa hari perhitungan tidak mendapat kesulitan.
Upaya menyelamatkan manusia dari serendah-rendahnya derajat manusia, maka manusia memerlukan agama dan pendidikan. Agama yang benar adalah yang berpedoman pada Al-Qur'an dan Al-Hadits. Dan untuk memahami agama itu maka manusia memerlukan pendidikan. Pendidikan adalah pertolongan orang-orang yang bertanggung-jawab atas perkembangan anak agar mereka menjadi dewasa. Semua kebaikan memang tidak bisa kita harapkan karena banyaknya pengetahuan atau resep-resep pendidikan. Ketidak tahuan adalah merupakan penyakit yang paling mudah disembuhkan, akan tetapi membentuk pribadi yang sempurna adalah amat sulit.
Pembentukan perilaku seseorang sangat ditentukan oleh lingkungnan terbesar, yakni Rumah tangga, Sekolah dan masyarakat. Ketiga-tiganya harus berjalan selaras dan seimbang. Di lingkungan rumah tangga pendidikannya berjalan dengan baik dan benar, juga di sekiolah sudah terprogram dengan baik, namun di lingkungan masyarakat tidak baik, maka pendidikan perilakupun tidak menjadi sempurna. Sebaliknya di lingkungan masyarakat baik dan juga disekolah baik, akan tetapi sdi lingkungan rumah tangga tidak terurus sengan baik , maka perilaku yang diharapkan juga tidak akan muncul.
PENTINGNYA PENDIDIKAN DALAM KEHIDUPAN
Gambaran tentang pentingnya pendidikan, maka dapat dilihat pada diagram di bawah ini.
HAL HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PENDIDIKAN
PENDIDIKAN
PERTOLONGAN
TUJUAN
Suatu gambaran bahwa pelaksanaan pendidikan harus jelas dan bersifat pertolongan, pertolongan itu sendiri diperlukan ke arah kedewasaan untuk mencapai tujuan pendidikan, baik yang bersifat umum ataupun secara khusus, yakni pembentukan manusia yang berkualitas untuk selanjutnya menjadi pribadi muslim sejati. Artinya tujuan akhir dari pendidikan itu adalah kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Banyak orang yang berhasil mendidik anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi, berhasil dalam urusan dunianya, akan tetapi urusan akhiratnya gagal. Sebaliknya banyak orang tua yang berhasil mendidik urusan ahkirat, akan tetapi gagal dalam urusan dunia.
Dengan demikian kebijaksanaan dalam memilih pendidikan terhadap generasinya merupakan hal penting, karena gejala pendidikan itu sendiri sebenarnya merupakan kebutuhan bagi setiap orang, tanpa pendidikan seseorang tidak akan dapat tumbuh dan berkembangan dengan baik. Pendidikan secara umum saja belum cukup membekali kehidupan seseorang, sebaliknya pendidikan agama saja juga belum cukup membekali hidup seseorang, pendidikan yang edial adalah kedua-duanya.
Upaya mendapatkan pendidikan umum ataupun agama, diperlukan ilmu yang didapatkan melalui proses pendidikan itu sendiri, baik dalam sekolah ataupun luar sekolah, output pendidikan sangat berhubungan dengan berhubungan pembentukan pribadi.
Selanjutnya untuk memperjelas tentang pentingnya pendidikan dalam kehidupan manusia dan hubungannya dengan kewajiban menuntut ilmu serta hubungannya pendidikan dengan pembentukan keperibadian.
Gambar di atas memberikan penjelasan bahwa pendidikan (Umum dan atau Agama) yang diperoleh manusia baik melalui pendidikan sekolah, rumah tangga dan masyarakat pada hakikatnya untuk menciptakan manusia berkualitas/muslim sejati untuk mencapai tujuan, yakni hidup bahagia di dunia ataupun di akhirat. Upaya memenuhi keinginan tersebut, maka manusia membutuhkan pendidikan yang dipengaruhi oleh ilmu, iman dan amal sebagai lingkungan strategis yang turut mensukseskan tercapainya tujuan tersebut.
Oleh karena itulah manusia tidak bisa lepas dari pendidikan, baik sifatnya umum ataupun khusus (agama). Kedua jenis pendidikan tersebut akan membuahkan suatu pribadi hakiki. Bagi pendidikan yang bersifat umum akan berusaha mencapai pribadi manusia yang berkualitas. Sedangkan pendidikan yang bersifat khusus (Agama) akan mengantarkan peserta didiknya untuk mencapai pribadi hakiki dalam arti manusia muslim sejati.
Untuk sampai kepada suatu tujuan tersebut, maka manusia memerlukan ilmu, iman dan amal. Secara psikologis, kejadian manusia yang dibentuk oleh Tuhan adalah dalam kesempurnaan yang meliputi elemen-elemen rohaniah dan jasmaniah. Kesempurnaannya menyebabkan manusia menjadi makhluk yang paling mampu dalam ikhtiar menciptakan keseimbangan hidup rohaniah dan jasmani sehingga dapat mengalami hidup yang tegak dalam masyarakat
Dalam sejarah lahirnya manusia, bahwa ia dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan pada dirinya terdapat benih-benih kejiwaan yang mempunyai kemungkinan untuk berkembang ke arah yang baik (positif), namun demikian manusia juga tidak lepas dari kemungkinan untuk berkembang ke arah yang lebih buruk lagi merugikan diri dan masyarakatnya.
Pendidikan diperoleh yang terbanyak adalah melalui mata (83 %), kemudian telinga (11 %), un tuk selanjutnya melalui hidung, mulut dan tangan hanya (6 %).
Dari gambar di atas bahwa keteladanan memegang peranan penting dalam proses pendidikan, karena melalui penglihatan sangat besar prosestasinya, yakni mencapai 83 %, sedangkan pemberian nasehat kecil peranannya, dan melalui hidung dan mulut serta tangan sangat kecil sekali, hanya mencapai 6 %. selanju
Oleh karena itulah, orang tua yang bijaksana sudah barang tentu harus lebih banyak memberikan contoh teladan yang baik, baik hubungannya dengan hablum minanllah ataupun hambumminnas. Sedangkan pemberian nasehat hendaknya diperkecil, karena anak cenderung membahas dan bahkan menolak apa yang dinasehatkan kepadanya. Namun demikian bukan berarti kita tidak perlu memberikan nasehat kepada anak-anak. Akan tetapi nasehat harus diimbangi dengan contoh teladan yang benar.
Selanjutnya, walaupun pada gambar di atas dinyatakan bahwa pendidikan melalui hidung, mulut dan tangan sangat kecil peranannya, namun juga turut menentukan. Misalnya hidung, hidung merupakan indera penciuman yang harus kita gunakan untuk mencium sesuatu yang baik bukan digunakan untuk hal-hal yang tidak baik. Oleh karenanya kesalahan dalam mencium sesuatu, maka akan berakibat sala pula dalam mengartikan sesuatu. Mulut yang di dalamnya terdapat lidah, pepatah mengatakan lidah kadang-kadang lebih tajam dari pisau, karena melalui mulut orang dapat mencelakaan seseorang, meelalui mulut dapat menyebabkan perkelahian atau permusuhan. Kemudian tangan, dengan tangan dapat membentuk sesuatu yang terbuang menjadi bermanfaat, sebalik dengan tangan dapat merusak sesuatu yang baik menjadi rusak/hancur berantakan. Walaupun dalam gambar tersebut terdapat kelasifikasi yang cukup tajam, namun semua itu harus berhubungan satu sama lainnya.
Selanjutnya ada satu hal lagi yang perlu kita pahami dan perhatikan secara seksama, bahwa pendidikan kita sekarang lebih mengutamakan kepada segi kecerdasan intelektual, sedangkan segi kecerdasan emosional dan spiritual kurang menjadi perhatian. Pada hal intelektual hanya maksimal 20% dapat mempengaruhi kesuksesan seseorang, dan yang terbanyak justeru ada pada kecerdasan emosional dan spiritual mencapai maksimal 80%.
Itulah sebabnya manusia diwajibkan untuk menuntut ilmu, karena Ilmu Pengetahuan mempunyai tujuan untuk memahami, meramalkan, serta mengendalikan kondisi dan situasi yang dialami manusia dalam lingkungan hidupnya dan dalam dirinya sendiri.
Melalui ilmu pengetahuan dan dorongan instink "curiosity" (dorongan ingin tahu) telah mendorong manusia untuk belajar. Akibat dari keingin-tahuan itulah pula yang menyebabkan manusia menguasai ilmu yang sangat berguna bagi dirinya, juga masyarakat lingkungannya. Ilmu pengetahuan itu sendiri telah tertampung melalui tiga lingkungan, yakni Rumah Tangga, Sekolah dan masyarakat. Semakin baik ilmu yang dituangkan dalam rumah tanggal, sekolah dan masyarakat, maka akan semakin sempurna pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia. Ketiga lingkungan tersebut hendaknya berjalan serasi, selaras dan seimbang. Karena bila salah satu di antara ketiganya, maka akan berakibat salah dalam menafsirkan hidup. Ketidak seimbangan antara pengalaman pendidikan di rumah tangga, sekolah dan masyarakat dapat menyebabkan manusia salah dalam menggunakan ilmunya. Sebagai contoh : sebuah pisau yang tajam apabila dipegang oleh seorang penjahat akibat pendidikan yang salah akan digunakannya untuk membunuh, akan tetapi bila pisau itu dipegang oleh orang baik-baik dengan pendidikan yang benar, maka pisau itu tidak digunakannya untuk membunuh."
Dengan demikian pendidikan sangat memegang peranan penting terhadap pembentukan pribadi seseorang. Oleh karenanya bila semakin baik dan terarah pendidikan yang dilakukan oleh orang dewasa, maka semakin jelas tujuan yang ingin dicapainya, dan pada gilirannya akan mendekati kepada suatu keperibadian yang sempurna. Sebaliknya semakin banyak kesalah dalam mendidik, maka semakin besar pula kekeliruan pribadi yang dibuahkan.
Kewajiban kita sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna dibanding makhluk lainnya adalah melengkapi diri dengan berbagai ilmu pengetahuan. Karena dengan ilmu pengetahuan itulah iman dan Islam seseorang menjadi sah dan sempurna. Rasulullah saw bersabda :
"Menuntut Ilmu Pengetahuan adalah kewajiban setiap Muslim" Selanjutnya Rasulullah menegaskan dalam sabdanya :
"Tuntutlah ilmu pengetahuan, sekalipun ke negeri Cina"
Berdasarkan dari dua hadits di atas, maka kewajiban menuntut ilmu itu merupakan fardhu a'in, oleh karenanya kewajiban menuntut ilmu ini harus diketahui oleh setiap orang Muslim.
Satu kenyataan dimasyarakat bahwa oerang yang tidak pernah memiliki ilmu mereka tidak pernah mengenal lelah untuk mencari dan mengumpulkan harta kekayaan dunia sepanjang siang dan malam, senantiasa memburu dan menyibukan diri untuk mengumpulkan dan menahannya. Mereka lebih mengutamakan kesenangan dunia dengan harta kekayaannya.
Selanjutnya bagi mereka yang tidak berpikir dan sama sekali tidak tahu tentang agama, maka merekapun tidak pernah meluangkan waktunya untuk menuntut ilmu pengetahuan keagamaan, bahkan enggan hadir dalam majelis-majelis. Sebaliknya orang yang demikian itu bila ada urusan dunia maka iapun berjuang sekuat tenaga bahkan beranai mati untuk mendapatkannya.
Allah memperingatkan dalam firmanNya : (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.
Hasan al-Bishiri ra, berkata : "Lantaran terlampau mengenal dunia dan urusannya, seseorang bisa mengenal berat uang satu dirham tanpa melihatnya. Tetapi manakala ditanyakan tentang syarat-syarat bersuci dan shalat, ia hanya bisa mengelengkan kepala karena tidak tahu"
Memperhatikan kepada perkataan al Bashiri tersebut, bila seseorang ingin hidup bahagia di dunia dan di akhirat, maka harus memiliki ilmunya. Dan kepadaorang yang terlampau mencintai dunia, maka yang dia ketahui hanyalah urusan dunia saja sedangkan urusan akhirat sama sekali tidak dikenal dalam dirinya.
Oleh karena itu antara ilmu, iman dan amal harus berjalan secara berimbang dalam kehidupan seseorang. Karena dengan ilmulah pula dapat mengenalkan iman dan dengan ilmu dan iman itulah pula seseorang dapat melakukan amal dengan baik dan sempurna.
]Kenyataan di dunia sekarang banyak orang yang berilmu tapi tapi tidak beriman, maka ilmunya hanya dapat diigunakan untuk mencintai dunia dan harta kekayaannya saja. Loqmanulhakim telah memperingatkan kepada anaknya :
"Hai anakku, sesungguhnya dunia ini lautan yang dalam dan manusia telah banyak karam di dalamnya. Oleh karena itu, jadikanlah kapalmu di dunia ini berbakti kepada Allah, muatannya iman dan layarnya tawakkal kepada allah, mudah mudahan engkau selamat"
Luqman memberikan gambar bahwa hidup tanpa ilmu adalah buta, dan hidup tanpa iman adalah bagaikan kapal tanpa kemudi. Untuk selanjutnya hidup tanpa amal tak ada bekal yang akan dibawa untuk mencapai suatu kehidupan yang hakiki.
Apabila ilmu, iman dan amal mantap dalam diri kita, maka hasil dari pendidkan betul betul dapat membentuk keperibadian seseorang. Oleh karenanya pengalaman pendidikan yang diperoleh mulia dari lingkungan kehidupan rumah tanggan hingga pada lingkgungan masyarakat baik, maka besar kemungkinan dapat terbentuknya keperibadian yang baik pula. Karena pengalaman pendidikan itu sendiri erat hubungannya dengan pembentukan pribadi seseorang.
Bila kita gambarkan hubungan pendidikan dengan kepribadian, adalah sebagai berikut :
Pada gambar di atas jelas bahwa pendidikan dan kepribadian, terbentuk oleh lingkungan Rumah Tangga, Sekolah ataupun Lingkungan Masyarakat. Oleh karena hidup dalam ketiga lingkungan tersebut dalam keadaan baik maka dapat dipastikan bahwa pendidikan dan keperibadian akan terbimbingan oleh ilmu, iman dan amal yang baik pula. Sebaliknya bila hidup seseorang tumbuh dan berkembangan dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat yang tidak baik, maka pendidikan dan kepribadiannya akan terbentuk dalam keadaan yang bermasalah. Karena pengalaman hidup yang tidak baik akan melahirkan sesuatu yang tidak baik pula.
Dengan demikian, bila pengalaman pendidikan yang tumbuh dan berkembangan dalam pengawasan ilmu, iman dan amal yang baik serta tanggung jawab, baik hubungannya dengan pendidikan umum terlebih-lebih dalam pendidikan agama (Islam), dan hidup dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat yang berpendidikan lagi agamis, maka keperibadian akan tumbuh dan berkembangan dengan sempurna sesuai dengan ilmunya.
Oleh karenanya kepribadian seseorang tidak pernah lepas dari pendidikan dan pendidikan itu sendiri bertujuan untuk membantuk keperibadian yang dikehendaki oleh ilmunya.
Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa pendidikan telah menduduki peranan penting dalam pembentukan keperibadian seseorang. Kekeliruan dalam melakukan pendidikan, baik dalam lingkungan rumah tangga, sekolah ataupun dalam lingkungan masyarakat, maka besar kemungkinan pula melahirkan perilaku yang tidak baik.
Oleh karenanya pendidikan yang dilakukan dalam rumah tangga, sekolah dan masyarakat harus berjalan secara terpadu. Orang tua tidak bisa melepaskan atau mengharapkan pendidikan itu kepada tugas guru semata-mata. Sebaliknya seorang guru tidak bisa hanya mengandalkan ilmunya untuk mendidik keperibadian anak didiknya bila tidak mendapat dukungan dari orang tua di rumah tangga dan masyarakat sebagai lingkungan pergaulan anak-anak.
Akhirnya dapat kita pahami bahwa tugas mendidik keperibadian seseorang adalah menjadi tugas semua orang dewasa, apakah mereka sebagai pendidik, orang tua ataupun sebagai tokoh masyarakat, baik yang berprofesi sebagai pendidik secara umum ataupun yang berprofesi sebagai tokoh agama.
Semoga kita termasuk orang yang mengerti akan tanggung jawab, terutama hubungan pendidikan dengan keperibadian generasi muda kita.
PANDANGAN PENDIDIKAN MASA KINI
Pendidikan nasional berdasarkan UU RI No. 20 Th. 2003, Bab VI, Jalur, Jenjang dan Jenis Pendidikan, Bagian kesatu, Umum, pasal 13, jalur pendidikan terdiri atas pendidiknan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya
Yang dimaksud dengan pendidikan formal adalah jalur, jenjang dan jenis pendidikan yang dikelola oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat. Adapun pendidikan nonformal adalah pendidikan yang dikelola oleh masyarakat, Sedangkan pendidikan informal adalah pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
Memperhatikan kepada UU tersebut sudah cukup jelas maksud dan tujuan yang hendak dicapai . Namun yang menjadi masalah adalah nuansa-nuansa pendidikan di luar ketiga jalur pendidikan di atas, yakni pendidikan yang secara tidak langsung seperti kegiatan politik yang tidak sehat, kegiatan-kegiatan yang berlangsung di masyarakat, siaran atau berita yang disampaikan melalui mess media cetak, audio visual telah membantuk moral baru bagi generasi muda, cenderung merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagai bentuk keperihatinan pendidikan yang merusak atau cenderung mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara yang kurang baik terhadap pembentukan moral bangsa adalah adanya persoalan-persoalan material, spritual, sosial, politik dan peradaban serta pemahaman sempit tentang pendidikan. Yang selama ini belum terpecahkan telah menganggu ketertiban pelaksanaan pendidikan.
Dengan demikian muncul persoalan-persoalan baru, yakni persoalan rasialisme, keamanan dabn meningkatkan angka kriminalitas, lapangan kerja, dan hilangnya berbagai standar nilai kemanusiaan. Di mana-mana terjadi kerusuhan, musibah silih berganti, semua itu telah mempengaruhi terhadap perkembangan jiwa generasi.
Disadari atau tidak bahwa efik samping kejadian dan peristiwa tersebut telah berpengaruh terhadap perkembangan moral/akhlak, sehingga dewasa ini sering muncul bentuk-bentuk kejahatan yang dirasakan dan cukup meresahkan kehidupan masyarakat, yakni menjamurnya bentuk-bentuk pemalsuan, penipuan, pencurian, penghianatan, tidak loyal pada janji dan tidak pula komitmen terhadap kebijakan, dan lain sebagainya. Belum bicara tentang merajalelanya mabuk-mabukan, pecandu obata-obatan terlarang, berkosaan, dan bentuk-bentuk pelanggaran terhadap kehormatan dan membudayanya perkataan kotor dan cacian, dan lain sebagainya.
Persoalan tersebut tidak lepas dari persoalan pendidikan yang kurang memperhatikan kepada pendidikan moral, di sekolah-sekolah mata pelajaran sejarah sudah ditiadakan, yang mana secara tidak langsung telah memberikan pengalaman hidup berbangsa dan bernegara yang seyogyanya menjadi bahan renungan bagi generasi muda untuk memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara.
Secara UU pendidikan nasional memang pemerintah telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelenggarakan pendidikan dengan sebaik-baiknya, setiap tahun dan setiap ada pergantian pimpinan selalu berupaya menyempurnakan kurikulum, pola dan starategi pembelajaran, namun demikian penyempurnaan tersebut hanya terarah kepada pembinaan pengetahuan dan keterampilan, terarah pada pembinaan pola dan sterategi pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan. Akan tetapi menyangkut moral kurang perhatian, guru-guru agama di sekolah-sekolah umum kurang berperan dan jam/alokasi pelajarannyapun sangat terbatas. Dalam waktu 2 (dua) jam perminggu tidaklah cukup untuk menyelenggarakan pendidikan agama plus akhlak/kepribadian. Di samping itu pendidikan agama belum mampu mengimbangi kemajuan ilmu dan teknologi serta komunikasi.
BAB III KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa :
1. Pendidikan merupakan hal penting yang harus diperhatikan, tidak saja di kalangan pemerintah, akan tetapi menjadi perhatian bagi semua komponen bangasa.
2. Penyelenggaraan pendidikan hendaknya tidak terfokos pada peningkatan mutu ilmu dan keterampilan saja melainkan juga harus memperhatikan segi moral yang didasarkan pada agama.
3. Penyelenggaraan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pada pendidik saja, melainkan juga orang tua khususnya dan masyarakat pada umumnya.
4. Nuansa-nuansa pendidikan yang disiarkan dalam mess media cetak dan audio visual tidak hanya mengejar segi material saja, akan tetapi juga hendaknya dapat menunjang segi moral kehidupan berbangsa dan bernegara,
DAFTAR PUSTAKA
A.W.Wijaya, Pedoman Pokok-Pokok dan Materi Perkuliahan Pancasila pada perguruan Tinggi, PT. Milton Putera, Jakarta, 1984.
Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahnya, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur'an, Pelita III/Tahun V/1983/1984
Floyd L. Ruch, Psikology and Life, dikutip oleh H.M. Arifin, Ibid,
H.M. Arifin, Psikologi dan Beberapa Aspek Kehidupan rohaniah manusia, Bulan Bintang, Jakarta, 1976,
Hadijah Salim, Apa Arti Hidup, PT. Alma'arif, Bandung, Cetakan 1, 1972,
Hasan al-Bushiri ra, dikutip oleh Imam Habib Abdullah Haddad, Nasehat Agama dan Wasiat Uman, CV. Toha Putra, Semarang, 1993
Miqdad Yeljen, Globalitas Persoalan Manusia Modern (Solusi Tarbiyah Islamiyah), Risalah Gusti, Surabaya, 1995.
Perquin, Russen dan Carp, Pendidikan Keluarga dan Masalah Kewibawaan, IKIP, Bandung, tt,
UURI No. 20 Th. 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), Citra Umbara, Bandung, 2003.
Langganan:
Postingan (Atom)