Para Pemain:
Narator : ……………………………………..(Di belakang panggung. Suaranya tegas dan jelas)
Aisyah (Agung) : ……………………………(Banci, polisi yang menyamar, gagah)
Penjahat 1 : ………………………………… (Galak, jagoan, tapi bodoh)
Penjahat 2 : …………………………………(Penakut, curang, licik)
Aisyah : ………………………………(Tokoh utama: ayu, penurut, alim, pendiam, lembut)
Hesty : ……………………………………….(Teman Aisyah: kaya, sombong)
Diana : ………………………………(Teman Aisyah: tomboy, jagoan, sombong)
Rina : ………………………………..(Teman Aisyah: pintar, sombong)
Fahri : ……………………………….(Tokoh utama: hitam, bewokan, jelek, tapi percaya diri, pemimpin)
Iwan Fulus : ……………………………….(Teman Fahri: Kaya, sombong)
Joko Kwat : ………………………………..(Teman Fahri: macho, jagoan, sombong)
Raden Pintar : ……………………………(Teman Fahri: pintar, sombong)
Guru 1 :………………………………………..(Laki-laki: selalu tampak bingung, sok sibuk)
Guru 2 : …………………………………………….(Laki-laki: selalu setuju dengan Guru 1)
Figuran 1 : ……………………………………………(para siswi + 10 orang)
Figuran 2 : …………………………………………….…(para siswa + orang)
SINOPSIS
Di sebuah sekolah terdapat dua geng yang selalu bersaing menjadi yang terhebat yaitu Geng Gula dan Geng Semut. Anggota Geng Gula adalah Aisyah, Hesty, Diana, dan Rina. Sedangkan anggota Geng Semut adalah Fahri, Iwan, Joko, dan Raden. Persaingan mereka sering menjurus kepada perkelahian. Hal ini memusingkan para guru. Para guru pun meminta bantuan polisi untuk mendamaikan mereka. Apakah perdamaian itu akan terwujud? Lihat saja nanti!
Bekasi, 12 Mei 2009
Nurul Amin
Skenario Drama
ADA GULA ADA SEMUT
Narator : Assalamualaikum wr.wb. Bapak dan Guru yang kami hormati. Rekan-rekan yang dimuliakan Allah SWT. Perkenankanlah kami untuk mencoba menguji keterampilan dalam bermain drama, yang kami beri judul Ada Gula Ada Semut. Selamat menyaksikan!
(Musik….)
Aisyah (Agung) naik ke atas panggung. Ia berlenggak-lenggok seperti wanita, berjalan mengelilingi panggung dengan kemayu. Tiba-tiba ia jatuh. Ia bangun dan berjalan lagi, tetapi dengan gaya laki-laki. Ia lupa bahwa ia perempuan. Ia berjalan seperti perempuan lagi.
Ada dua penjahat naik ke atas panggung mengikuti Aisyah. Aisyah ketakutan dan lari, tapi kemudian ia tertangkap.
Aisyah : Am…am..ampun, Bang. Saya jangan diapa-apain, Bang. (Takut)
Penjahat 1 : (Tertawa) Gua ga mau ngapa-ngapain Lu. Gua hanya pengen meluk Lu. Lu mau kan? Ha ha ha…
Penjahat 2 : Bang, masa mau meluk doang….kagak enak. Kita juga mau ngerampok dia sekalian….(Heran)
Penjahat 1 : (Marah) Ya iya lah…masa ya iya dong…Gua kan cuma ngomong doang!
Penjahat 2 : Abang ini gimana sih!!! Sekarang Abang malah cumen pengen ngomong doang….Kapan kita ngerampoknya, Bang????
Penjahat 1 : Dasar goblok, Lu!!! Ini kita lagi ngerampok!!!
Aisyah : Iya, goblok Lu!!! (Menimpali)
Penjahat 1 : Nah, hebat Lu tau kalo temen gua goblok. Dia emang goblok. (Bicara ke Aisyah)
Penjahat 2 : Abang kok malah ngebelain dia…Jangan begitu dong, Bang! Kita kan ngerampok udah lama. Abang malah ngebelain dia.
Penjahat 1 : Lu berani ama gua???!!!
Penjahat 2 : Abang ngajak saya berantem? Saya kagak takut, Bang…..
(Musik…)
Penjahat 1 dan 2 berkelahi. Aisyah (Agung) merapikan pakaiannya. Kedua penjahat kelelahan. Aisyah mengeluarkan pistol dari bajunya lalu menodong keduanya.Kedua penjahat itu heran.
Aisyah : Gua ini polisi. Gua lagi menyamar. Ayo, ikut gua ke kantor polisi!!!
Guru 1 dan 2 naik ke panggung. Guru 1 berbicara. Guru 2 selalu bilang “Betul, Setuju, Ya, Oke, …”
Guru 1 : Para hadirin dan hadirat yang kami muliakan. Atas nama dewan guru, kami meminta maaf. Aisyah yang tadi itu bukan Aisyah yang sesungguhnya. Itu Aisyah gadungan. Namanya Agung. Aisyah yang menjadi tokoh utama dalam drama ini cantik banget. Semua orang menyukainya. Selamat menyaksikan!!!
Narator : Suatu hari, di sebuah sekolah, di dalam kelas, sekelompok murid sedang belajar….
(Musik….) Masuk ke drama inti…
Suasana kelas gaduh, ramai, kacau. Tiba-tiba suasana menjadi sepi. Anggota Geng Gula masuk kelas.
Figuran 1 : Sssssstt….Anggota Geng Gula mau masuk kelas. Semua diam….
Narator : Gadis cantik ini bernama Hesty. Ia anak orang kaya. Bapaknya pemilik 2 ribu pabrik di seluruh dunia. Ibunya mempunyai 2 ribu toko di Amerika, 2 ribu toko di Eropa, 2 ribu toko di Afrika, dan 1 toko di Rawa Silem. Hesty anak tunggal. Uang jajannya sehari 1 juta. (Hesty masuk ke panggung dan berjalan seperti peragawati)
Gadis berikutnya adalah Diana. Bapaknya pelatih tinju yang sangat terkenal di seluruh dunia. Ibunya atlet karate tingkat dunia. Diana menjadi juara karate se-Eropa dan Asia selama lima kali. Ia belum terkalahkan. (Diana masuk kelas dan berjalan seperti peragawati)
Gadis berikutnya adalah Rina. Bapaknya profesor di bidang matematika. Ibunya profesor di bidang fisika. Rina adalah jago kimia. Ia menjadi juara dunia olimpiade matematika, kimia, dan fisika sedunia. (Rina masuk kelas dan berjalan seperti peragawati).
Gadis terakhir adalah….Aisyah. Ayahnya guru madrasah aliyah di Bekasi Utara. Ibunya guru taman kanak-kanak. Aisyah sangat pemalu. Kalau jalan selalu menundukkan pandangan. Senyumnya manis. Gayanya berwibawa. Ia sangat lembut. (Aisyah masuk ke panggung dan berjalan seperti peragawati)
Musik berganti menjadi lebih keras dan seram…..
Figuran 2 : Sssstttt……..Semua diam….Anggota Geng Semut mau masuk kelaaaas…..
Narator : Pemuda tampan ini bernama Iwan. Ia dijuluki Iwan Fulus karena ia anak orang kaya. Uangnya banyak. Ayahnya memiliki pabrik minyak. Barack Obama adalah teman dekat ayahnya. (Iwan masuk ke panggung dan berjalan berkeliling panggung).
Pemuda berikutnya bernama Joko. Bapaknya mantan atlet angkat besi. Ibunya juga. Karena
Joko sangat kuat, ia dijuluki Joko Kwat oleh teman-temannya. Kalau ada mobil mogok, Joko selalu dipanggil. Ia bukan mendorong mobil itu. Ia mengangkatnya dengan sebelah tangan. Joko memang kuat. (Joko masuk ke panggung dan berjalan berkeliling panggung).
Pemuda berikutnya bernama Raden. Ayahnya memiliki IQ 200. Ibunya juga. IQ ini menurun kepada Raden. Raden sangat pintar. Karena itu, ia dijuluki Raden Pintar. IQ-nya 300. Kebayang ga sih….ada orang dengan IQ setinggi itu??? (Raden memasuki panggung dan berjalan berkeliling)
Itulah anggota Geng Semut….
Fahri : (Di belakang panggung, berteriak) Tunggu dulu…..Tunggu…Masih kurang satu…… Woi….sebut dong…..
Narator : Oh, masih ada ya? Maaf, saya ga biasa memperkenalkan orang jelek….Kamu memperkenalkan sendiri aja, ya? Saya mau pulang ah…..da…..
Fahri : (Berteriak dari belakang panggung) Musiiiiiiiiiiikkkkk!!! (Musik….Fahri naik ke panggung)
Suasana panas…Saling pandang antara Geng Gula dan Geng Semut. Mereka sama-sama mau memukul……Tiba-tiba Guru 1 dan Guru 2 masuk kelas. (Guru 1 dan Guru 2 naik ke panggung)
Guru 1 : Ehm…ehm…..(Berdehem kuat diikuti Guru 2. Mereka memandangi para siswa. Perkelahian tidak jadi.) Addddduuuhhh, aku lupa bawa pulpen…..
Guru 2 : Sama…..
Guru 1 : Anak-anak…Maaf ya, Bapak lupa bawa pulpen. Kalian baca-baca buku dulu, ya?....
Guru 2 : Ya? Denger tuh? Ya?.....
Guru 1 dan Guru 2 turun panggung. Para murid saling pandang. Mereka pun saling melempar isi tas. Para figuran menyoraki. Suasana kelas sangat gaduh. Musik mengalun keras. Kelas pun berantakan. Guru 1 dan Guru 2 masuk kelas. Mereka terkena lemparan benda-benda. Mereka tetap tidak bisa mendamaikan.
Guru 1 : Diam!!!!!
Guru 2 : Diam!!!! (Ga mempan, ga didengerin murid. Mereka pun berteriak berbarengan)
Guru 1 dan 2`: DIIIIIAAAAAAAAAM……….(Seluruh murid terdiam)
Guru 1 : Kalian sudah kelewatan!!!
Guru 2 : Betul!
Guru 1 : Kalian sudah keterlaluan!!!
Guru 2 : Betul!
Guru 1 : Kalian tidak mendengarkan ucapan saya!!!
Guru 2 : Betul!
Guru 1 : Kalian mau melawan saya, haaahhhh????
Guru 2 : Betuuuullllll…..(Guru 1 memelototi Guru 2. Guru 2 diam dan menunduk)
Aisyah : (Maju mendekati Guru 1 dan Guru 2 karena didorong-dorong temannya) Maafkan kesalahan kami, Paak…Maafin, ya, Paak….
Guru 1 : Huh !!!! (Membuang muka lalu menghadap ke siswa laki-laki. Guru 2 juga.)
Fahri : (Maju mendekati Guru 1 dan Guru 2 karena didorong-dorong temannya) Maafkan kesalahan kami, Paak…Maafin, ya, Paaak….
Guru 1 : Huh!!!! (Membuang muka lalu menghadap ke belakang panggung. Guru 2 juga. Sesaat suasana hening. Musik mengalun pelan lalu keras. Para siswa ribut lagi. Guru 1 dan Guru 2 kebingungan.)
Dor! Dor! Dor!!!! Suara tembakan berkali-kali. Musik langsung berhenti. Suasana mencekam. Semua ketakutan. Aisyah (Agung) dan dua penjahat memasuki panggung.
Agung : Ada apa ini? Kalian lagi ribut, ya?
Penjahat 1 : Tangkap aja mereka, Pak!!
Penjahat 2 : Ya, Pak….mereka kan ribut juga seperti kami. Tugas Bapak kan menangkap orang yang membuat keributan…
Agung : Betul juga kamu…..Siapa yang buat keributan di sini? Jawab!!!!!
Fahri : Bu..bu..bukan, Pak….Kami ga ribut kok…..(Fahri maju karena didorong teman-temannya)
Aisyah : I..i…iya, Pak..kami gak ribut, kok..beneran, Pak….sumpah deeeh….(Aisyah maju didorong teman-temannya)
Penjahat 1 : Bohong, Pak….Mereka pasti ribut…..Mereka pasti berantem….
Penjahat 2 : Iya, Pak….Buktinya, kelas ini berantakan banget….pasti berantem, Pak….
Hesty, Diana, Rina, Iwan, Joko, dan Raden berbaris. Dikomandaoi oleh Joko, mereka berkata seperti membaca Dasadarma Pramuka. Mereka berteriak:
Koor : Hesty, Diana, Rina, Iwan, Joko, Raden, Kami, Siswa-siswi sekolah madrasah aliyah. Kami, 1. tidak pernah berkelahi. 2. kami tidak pernah mencuri. 3. kami tidak pernah berbohong. 4. kami rajin menabung dan mencuci tangan sebelum makan. 5. percaya deeeh…percaya koooookkkk…..
Agung : Ini baru anak sekolahan. Kalian tidak suka tawuran. Kalian tidak suka geng-gengan. Tidak seperti kalian. Kerjaannya hanya bikin susah orang……
(Agung, penjahat 1, dan penjahat 2 meninggalkan panggung. Guru 1 dan Guru 2 bangun dari pingsan. Para siswa kembali ribut…..)
Guru 1 : Stoooooop!!! (Berteriak)
Guru 2 : Stooooooop!!!! (Berteriak. Karena tidak didengarkan, mereka teriak bersama.)
Guru 1 dan 2: STOOOOOOOP!!!!! (Seluruh murid berhenti berkelahi.)
Aisyah : Ada apa, Pak? Kita lagi asyik nih…..
Guru 1 : Waktunya sudah habis…..Dramanya sudah selesai.
Guru 2 : Betul!!!!
Seluruh siswa: Ooooooooohhh…..
Narator : (Naik ke panggung). Demikianlah penampilan kami. Kami mohon maaf kalau ada adegan atau dialog yang kurang berkenan. Semua ini murni bersifat hiburan. Kepada guru-guru, kami mohon maaf kalau terdapat banyak kekeliruan. Terima kasih kepada semuanya. Doakan agar kami dapat memberikan yang terbaik buat bangsa ini. Amin ya rabbal alamin.
Wassalaamualaikum wr.wb.
Jumat, 17 Juni 2011
HART- 1 DRAMA KOMEDI MUSIKAL
BABAK I
Intro music My Heart (instrument) – suara sedang
Cameraman berjalan mondar-mandir di panggung, membawa kamera yang di buat dari kardusdengan tulisan TIPI.
Lalu berdiri statis di sudut saat melihat sepasang sejoli memasuki ruangan.
Masuk sepasang Mudika (pria + wanita), mengambil tempat (duduk). Sang pria menyerahkan bunga yang di bawanya
kepada sang wanita. Back sound (instrument My Heart – suara dikecilkan)
Dialog di mulai
Pria : Dik! Boleh tanya ‘gak?
Wanita : Boleh aja! Mau tanya apa mas?
Pria : Itu lho! Mau tanya nama kamu sebenarnya siapa sih? Penasaran aza, habis, nama kamu singkat amat sih!
Wanita : Oh itu. Begini ceritanya. Waktu ibuku hamil aku, dia sedang sekali bercermin, Suka ngaca, terkadang
melalaikan tugas sehari-hari. Bapakku sering kesal dibuatnya, akhirnya aku dinamakan “Ngacawati”. Bagiku
nama tersebut terdengar aneh, makanya aku singkat aza biar keren gitu, menjadi “Aca”. Sekarang namaku
Aca. Keren kan!
Pria : Oh, gitu!
Wanita : Iya, mas. Kalau aku boleh tanya juga ‘gak?
Pria : Boleh aja. Mau tanya apa?
Wanita : Itu lho soal nama Mas. Sebenarnya nama lengkapnya apa sih?
Pria : Oh itu! Begini ceritanya. Sebenarnya Orangtuaku menamakanku Hartonowan. Bagiku nama tersebut
kurang komersil dan kurang keren gitu. Jadi aku singkat saja biar keerrreen dan kaya nama orang bule,
gitu. Jadi “Hart”. Nama ku yang keren “Hart”
Wanita : Oh, Mas Hart!
Intro musik My Heart (yang telah diselewengkan liriknya)
Sepasang Mudika tersebut menyanyikan lagu Mas Hart
Disini kau dan aku,
duduk berdua saja
Ingin aku teraktir kamu,
tapi ga’ punya uang.
Pernahkah kau mengutang
Waktu ga’ punya uang
Utangnya sama abang-abang
Di gerbang Pulo Gebang
Bila engkau ingin yang lain
Pasti sudah aku kerja’in
Sebisa mungkin, sebaik mungkin
asal ga’ pake’ uang
HART- 3
Panjikristo/2006
Uangnya buat beli semprong
Disuruh mamak waktu sedang molor
Janganlah marah, percaya saja
Apa yang dikatakan
Mas Hart, .... Mas Hart, ....Mas Hart .....
Wanita : Biar ‘gak punya uang, tapi khan mas punya gendang (sambil menepuk perut mas Hart)
Pria : Ah bisa aza adik ini.
Keduanya pergi meninggalkan tempat. Tanpa disadari keduanya, ada dua pasang mata menatap kemesraan mereka
dengan tatapan sedih. (Sutradara : kamera shoot close up wajahnya dari samping. Tapi tunggu dulu pake rohto
dulu biar ada kesan sedang menangis. Shoot yang lama dan foto untuk sampul VCD bajakan)
BABAK II
Instrumen : kehilangan (Christina – album OST Heart)
Narator : Wanita tersebut yang ternyata bernama Rapel sangat sedih, seperti di film, wanita yang sedih
ingin bermain bola basket sambil hujan-hujanan. Maka si Rapel ini juga main hujan-hujanan sambil bermain bola
............ bekel (karenan gak bisa main basket). Kemudian mengambil gitar dan memetiknya (kalo gak bisa main, ya
gaya aja). Tidak kedengaran suaranya. Mungkin instrumen bisu. Tiba-tiba masuklah seorang pemuda yang dari tadi
memperhatikan permainan gitar Rapel, sambil menyanyi.
Lagu : Menghitung Jari (Menghitung hari)
Menghitung jari, detik demi detik
Saat jari-jarimu yang lentik
Sedang memetik, gitar klasik
Terdengar asik
Suara gem’risik, air yang memercik
Mengiringimu bermain musik
Yang menggelitik, suara mesin tik
Terdengar antik
Jangan b’risik, jangan mengusik
Jika pemusik, bermain musik
Memang asik, mendengar musik
Musik, seorang pemusik
Rapel sangat terkejut melihat sang pria, lalu bertanya
Rapel : Siapa namamu?
Pria : (sambil berlalu) ......... Irwansyah
Rapel : Ooh... Irwansyaaaahhhh......(Tiba-tiba dia sadar bahwa dia sedang bermimpi). Melihat jam tapi masih
terlalu pagi untuk bangun dari tidur. Akhirnya dia menyanyi
Lagu : Sampai Menutup Mata
HART- 4
Panjikristo/2006
Bangun di pagi buta
Karena mimpi Irwansyah
Detik demi detik ku hitung
Mengapa ku bangun pagi
Oh, Tuhan ku pinta dia
Ada dalam mimpiku lagi
Takkan ku marahi dia
Hukum aku bila terjadi
Aku tak mudah dapat mimpi lagi
Aku tak mudah untuk bercerita
Aku tak mudah mengatakan aku suka c’rita
Senandungku hanya untuk dia
Tirakatku hanya untuk dia
Tiada dusta sumpah ku crita
Sampai ku menutup mata…
Ceritaku sampai tidur tutup mata
Suara Telp/ SMS
Rapel : Ah, baru baru tidur lagi. Ganggu aja nih HP. Hallo.... ..Ya! Aku ingat nanti jam 10 pagi kan. Di rumah Bapak
Markus. Ok! Aku akan datang. Tapi sekarang aku mau tidur sebentar lagi.
Rapel : Sudah lama aku gak kumpul-kumpul sama Mudika. Semua gara-gara Mas HART. Sebaiknya aku kembali
kumpul dengan Mudika dan melupakan Mas HART.
BABAK III
Narator : Di tempat Pak Markus sebagian Mudika (Muda-mudi Katolik) sudah berkumpul untuk merayakan
Natal bersama dengan lingkungan. Kebetulan untuk tahun ini Mudika ditunjuk sebagai Panitia Pelaksana Natal.
Mereka sangat gembira dan bernyanyi-nyanyi ketika Rapel berjalan menuju tempat pertemuan dan diketahui oleh
Mudika. Mereka menyambut kedatangan Rapel dengan sebuah nyanyian.
Lagu : Bersama Mudika (berdua denganmu)
Lihat kawan disana
Berjalan datang kemari
Pasti dia pun tahu
Ada pertemuan disini
Dalam suka dan ceria
Cepat, cepatlah kemari
Bersama Mudika, Pasti lebih baik
Aku yakin itu
Bila sendiri pasti gigit jari
Juga makan hati
HART- 5
Panjikristo/2006
Kemudian setiap mudika saling berjabatan tangan, mengucapkan nama. Dan anehnya setiap pria yang disalami
Rapel, mereka menambahkan kata ...syah di belakang namanya.... misalnya jokosyah, udinsyah, ningsihsyah... tapi
tiadak ada yang bernama irwansyah. tiba-tiba seorang mudika (pria) bernyanyi
Lagu : Hari ini, cicipi dan seterusnya (Hari ini, esok dan seterusnya)
Hari ini aku senang sekali,
karena banyak makanan disini
Terus terang sudah tiga hari
Perut kosongku ini tidak terisi
Minta, minta, minta
Aku mau minta
Tambah lagi dan sedikit lagi
Aku cicipi makanan disini
Hingga rasanya perutku ini
Sudah tak muat lagi untuk diisi
Bahagia (kenyangnya)
Para Mudika tertawa melihat sang pria kekeyangan sambil meringis memegangi perutnya. “Makanya jangan
gembul!” sahut mereka serempak. Rapel sangat senang melihat keceriaan disana, lalu ia pun bernyanyi (bersama
teman-temanya)
Lagu : Teman-temanku (perempuanku)
biarkan aku di sini untukmu
aku hanya ingin menghibur hari ini
hari yg pasti menyenangkan untukmu
dan tentu untukku
biarkan di sini aku bernyanyi
hanya untukku dan untuk menghibur kamu
dan aku yakin senyummu tulus dan jujur
hanya untukku
Teman-temanku, Kau sahabatku
Tak mungkin bisa bila aku jauh darimu
Bisa gila, ku pasti sedih
Ku senang bila engkau ada
Teman-temanku
Semakin lama semakin ku tahu
maksud hati tak hanya menemanimu
ku ingin bersama selalu
kau sahabatku
Mas HART datang bersama ACA. Namun Rapel tidak terpengaruh. Emangnye Rapel pikirin. Mereka saling
bersalaman.
HART- 6
Panjikristo/2006
Kini mudika telah kumpul semua. Mereka semua bergembira. Tidak ada lagi sakit hati. Yang ada kegembiraan dan
keceriaan. Mereka bernyanyi bersama.
Lagu : Pencinta Mudika (Pecinta Wanita)
Kutemukan dalam pencarian
Teman sejati dalam hidupku
Kurang lebih seperti mudika
Ku harap engkaupun begitu
Ku tak mau menyangsikannya
Pasti gembira bila bersama
Biar engkau rasakan sendiri
Betapa gembira hatiku
Kami ini adalah Mudika
Thomas Aquino tiga
Berwajah tampan dan manis-manis
Bertingkah laku pun juga manis
Kami memang pencinta Mudika
Thomas Aquino tiga
Nyanyi dan tari pun kami bisa
Berdoa dan juga membaca kitab suci
Kamilah pencinta mudika
CREDIT TITTLE
Mudika bernyanyi bersama-sama sambil menyanyikan “Bersama Mudika”. Secara bergantian setiap mudika
memperkenalkan diri (sambil bergaya) sebagai pemain dengan membawa papan namanya masing-masing, sebagai
berikut :
............ sebagai Mas HART
........... sebagai ACA
............. sebagai RAPEL
................ sebagai IRWANSYAH
di dukung oleh TEATER MUDIKA Thomas Aquino 3
NASKAH dan SUTRADARA
panjikristo
Selesai
Catatan :
Semua lagu adalah “OST – Heart” yang diplesetkan oleh panjikristo untuk kepentingan Drama Komedi Musikal
yang akan dibawakan oleh mudika lingkungan Thomas Aquino3 dan tidak untuk disebarluaskan. Naskah ini untuk
Kalangan Sendiri. Dan tidak untuk di komersilkan.
HART- 7
Panjikristo/2006
Property list : Kamera besar (dibuat dari dus aja), Handicam (bikin aja pake dus bekas), setangkai bunga, bola
bekel dan bijinya, gitar, HP, sepotong kue, papan nama Tokoh, Tulisan “Rapel mengintip dan menangis” - “Rapel
sedang sedih” – “Sedang Hujan Deras” – “Rumah Bapak Markus, dll
Urutan Teknis Drama (Komedi) Musikal ‘HART’
BABAK I
2 buah kursi ditaruh dipanggung (oleh petugas). Kemudian petugas ybs menunjukkan papan : DI SEBUAH
TAMAN
Intro : track 1: Musik instrumen my Heart (volume sedang)
Kameramen masuk mengambil gambar sekeliling, kemudian statis
Mengarahkan kamera ke pembawa papan nama
Masuk pembawa papan nama (dengan gaya melenggak-lenggok) : BABAK I berputar lalu masuk kembali.
Pencatat script maju ke panggung : Klik. (suara sutradara: Camera, Action!)
Sepasang Mudika masuk, berjalan berkeliling. Berdiri berhadapan, sang pria menyerahkan setangkai
bunga/boneka/ atau apa saja kepada sang wanita
Mengambil posisi duduk
Interupsi dari Sutradara (Cut!, Cut! Ekpresinya mana? ..... Ok. Camera, Action!)
Volume (backsound instrumen My Heart dikecilkan)
Dialog dimulai ....................hingga kalimat, “Oh, Mas Heart”
Musik : track 2 – My Heart (volume sedang), Sepasang Mudika bernyanyi, kamera statis
Mendekati akhir lagu, Rapel mulai masuk di sudut memperhatikan keduanya.
Selesai menyanyi, disambung dialog singkat kedua pasangan. Lalu mereka berdiri,berjalan turun panggung
Musik: Track 3 (kehilangan) – volume sedang
Kamera diarahkan ke belakang rapel. Rapel menengok ke Samping menahan tangis. Interupsi sejenak,
pakai obat mata. (Sutradara : Camera, Close up!)
Seorang petugas maju membawa papan nama : SEDANG SEDIH
Lagu mengalun sayup-sayup
BABAK II
Musik masih mengalun
Pencatat Script maju : KLIK! (camera, Action!)
Masuk pembawa papan nama (dengan gaya melenggak-lenggok) : BABAK II berputar lalu masuk kembali.
Petugas masuk membawa papan nama : SEDANG TURUN HUJAN DERAS
Rapel berjalan berkeliling, mengambil Bola (Basket/ Sepak atau bola apa saja yg seukuran), derible
sebentar, tapi karena tidak bisa lalu dia menaruh bola tersebut lalu mengambil bola bekel dan bermain
sendirian.
Narator membacakan illustrasi cerita
Rapel mengambil gitar, memainkan atau bergaya. Kamera mengarah ke Rapel.
Masuk IRWANSYAH memperhatikan jari-jari Rapel yang sedang memainkan gitar.
Musik : Track 4 (Menghitung Hari), Irwanyah menyanyikan menghitung Jari Kamera mengarah ke
Irwansyah.
Selesai nyanyi, dialog singkat antar keduannya
Musik : Track 5 (Sampai Menutup mata) – Rapel Menyanyi sambil duduk. Dibantu oleh para wanita
dibelakang panggung). Kamera mengarah ke Rapel
Selesai nyanyi Rapel menguap, dan ingin tidur lagi namun HP nya bunyi. Ada telpon. Dialog singkat di telpon
Rapel berbicara sendiri dan melamun. Gak jadi tidur lagi.
HART- 8
Panjikristo/2006
BABAK III
Petugas maju membawa papan nama : DI RUMAH BAPAK MARKUS (berdiri diam). Kamera mengarah
tulisan tersebut.
Pencatat Script maju : KLIK! (Sutradara: camera, Action!)
Masuk pembawa papan nama (dengan gaya melenggak-lenggok) : BABAK III berputar lalu masuk kembali.
Bersama dengan petugas pertama
Narator membacakan illustrasi cerita
Para Mudika sudah berkumpul di sisi panggung, mereka melihat Rapel datang dari sisi yang lain. Salah
seorang melihat kedatangan Rapel dan berkata, “Lihat Rapel telah datang!”
Musik : Track 6 (Berdua lebih baik). Bernyanyi bersama-sama - lagu Bersama Mudika - sambil bergaya
(tapi jangan terlalu banyak gerak – hemat tenaga untuk akhir acara). Kamera stand by – jangan banyak
gerak
Selesai nyanyi mereka saling berjabatan tangan. Berkenalan
Seorang Mudika masuk
Musik : Track 7 (Hari ini, Esok ....) – seseorang tersebut bernyanyi “Hari ini, Cicipi....” (dibantu deh oleh
yang lainnya). Kamera Stand By
Ejekan singkat dan tertawa.
Musik : Track 8 (Perempuanku) – Nyanyi bersama “Teman-temanku”. Jangan terlalu banyak gaya, hemat
tenaga. Gitaris sapu lidi terlibat disana saat break musik. Kamera Stand by, sekali-kali boleh ikut goyang
tapi jangan kebanyakan.
Selesai nyanyi, Mas Hart Masuk dgn Acha, berkenalan dst
Musik : Track 9 (Pencinta Wanita) – Nyanyi bersama “Pencinta Mudika”. Jangan terlalu banyak gaya,
hemat tenaga. Gitaris sapu lidi terlibat disana saat break musik. Kamera Stand by, sekali-kali boleh ikut
goyang tapi jangan kebanyakan.
Selesai nyanyi, mereka mematung sambil bergaya
PENUTUP
Musik : Track 10 (berdua Lebih Baik). Lagu diawali dengan masuknya Para Pemain untuk memperkenalkan
diri : .... sebagai Mas Hart, ........... Acha, ........... Rapel, ........... Irwansyah, ........... Narator, ........... Kameramen,
............. Pencatat Skrip, ..... Pembawa Papan Nama, Sutradara Dst, di dukung oleh ....... Teater Mudika
Thomas Aquino 3
Nyanyi bersama “Bersama Mudika”. Dengan gaya, Gitaris sapu lidi terlibat disana saat break musik.
Kamera Stand by, sekali-kali boleh ikut goyang tapi jangan kebanyakan.
Selesai nyanyi, mereka mematung sambil bergaya
Bernyanyi “We wish you a Merry Christmas” bersama-sama
Seorang Mudika mengangkat tulisan “S E L E S A I”
* * *
Intro music My Heart (instrument) – suara sedang
Cameraman berjalan mondar-mandir di panggung, membawa kamera yang di buat dari kardusdengan tulisan TIPI.
Lalu berdiri statis di sudut saat melihat sepasang sejoli memasuki ruangan.
Masuk sepasang Mudika (pria + wanita), mengambil tempat (duduk). Sang pria menyerahkan bunga yang di bawanya
kepada sang wanita. Back sound (instrument My Heart – suara dikecilkan)
Dialog di mulai
Pria : Dik! Boleh tanya ‘gak?
Wanita : Boleh aja! Mau tanya apa mas?
Pria : Itu lho! Mau tanya nama kamu sebenarnya siapa sih? Penasaran aza, habis, nama kamu singkat amat sih!
Wanita : Oh itu. Begini ceritanya. Waktu ibuku hamil aku, dia sedang sekali bercermin, Suka ngaca, terkadang
melalaikan tugas sehari-hari. Bapakku sering kesal dibuatnya, akhirnya aku dinamakan “Ngacawati”. Bagiku
nama tersebut terdengar aneh, makanya aku singkat aza biar keren gitu, menjadi “Aca”. Sekarang namaku
Aca. Keren kan!
Pria : Oh, gitu!
Wanita : Iya, mas. Kalau aku boleh tanya juga ‘gak?
Pria : Boleh aja. Mau tanya apa?
Wanita : Itu lho soal nama Mas. Sebenarnya nama lengkapnya apa sih?
Pria : Oh itu! Begini ceritanya. Sebenarnya Orangtuaku menamakanku Hartonowan. Bagiku nama tersebut
kurang komersil dan kurang keren gitu. Jadi aku singkat saja biar keerrreen dan kaya nama orang bule,
gitu. Jadi “Hart”. Nama ku yang keren “Hart”
Wanita : Oh, Mas Hart!
Intro musik My Heart (yang telah diselewengkan liriknya)
Sepasang Mudika tersebut menyanyikan lagu Mas Hart
Disini kau dan aku,
duduk berdua saja
Ingin aku teraktir kamu,
tapi ga’ punya uang.
Pernahkah kau mengutang
Waktu ga’ punya uang
Utangnya sama abang-abang
Di gerbang Pulo Gebang
Bila engkau ingin yang lain
Pasti sudah aku kerja’in
Sebisa mungkin, sebaik mungkin
asal ga’ pake’ uang
HART- 3
Panjikristo/2006
Uangnya buat beli semprong
Disuruh mamak waktu sedang molor
Janganlah marah, percaya saja
Apa yang dikatakan
Mas Hart, .... Mas Hart, ....Mas Hart .....
Wanita : Biar ‘gak punya uang, tapi khan mas punya gendang (sambil menepuk perut mas Hart)
Pria : Ah bisa aza adik ini.
Keduanya pergi meninggalkan tempat. Tanpa disadari keduanya, ada dua pasang mata menatap kemesraan mereka
dengan tatapan sedih. (Sutradara : kamera shoot close up wajahnya dari samping. Tapi tunggu dulu pake rohto
dulu biar ada kesan sedang menangis. Shoot yang lama dan foto untuk sampul VCD bajakan)
BABAK II
Instrumen : kehilangan (Christina – album OST Heart)
Narator : Wanita tersebut yang ternyata bernama Rapel sangat sedih, seperti di film, wanita yang sedih
ingin bermain bola basket sambil hujan-hujanan. Maka si Rapel ini juga main hujan-hujanan sambil bermain bola
............ bekel (karenan gak bisa main basket). Kemudian mengambil gitar dan memetiknya (kalo gak bisa main, ya
gaya aja). Tidak kedengaran suaranya. Mungkin instrumen bisu. Tiba-tiba masuklah seorang pemuda yang dari tadi
memperhatikan permainan gitar Rapel, sambil menyanyi.
Lagu : Menghitung Jari (Menghitung hari)
Menghitung jari, detik demi detik
Saat jari-jarimu yang lentik
Sedang memetik, gitar klasik
Terdengar asik
Suara gem’risik, air yang memercik
Mengiringimu bermain musik
Yang menggelitik, suara mesin tik
Terdengar antik
Jangan b’risik, jangan mengusik
Jika pemusik, bermain musik
Memang asik, mendengar musik
Musik, seorang pemusik
Rapel sangat terkejut melihat sang pria, lalu bertanya
Rapel : Siapa namamu?
Pria : (sambil berlalu) ......... Irwansyah
Rapel : Ooh... Irwansyaaaahhhh......(Tiba-tiba dia sadar bahwa dia sedang bermimpi). Melihat jam tapi masih
terlalu pagi untuk bangun dari tidur. Akhirnya dia menyanyi
Lagu : Sampai Menutup Mata
HART- 4
Panjikristo/2006
Bangun di pagi buta
Karena mimpi Irwansyah
Detik demi detik ku hitung
Mengapa ku bangun pagi
Oh, Tuhan ku pinta dia
Ada dalam mimpiku lagi
Takkan ku marahi dia
Hukum aku bila terjadi
Aku tak mudah dapat mimpi lagi
Aku tak mudah untuk bercerita
Aku tak mudah mengatakan aku suka c’rita
Senandungku hanya untuk dia
Tirakatku hanya untuk dia
Tiada dusta sumpah ku crita
Sampai ku menutup mata…
Ceritaku sampai tidur tutup mata
Suara Telp/ SMS
Rapel : Ah, baru baru tidur lagi. Ganggu aja nih HP. Hallo.... ..Ya! Aku ingat nanti jam 10 pagi kan. Di rumah Bapak
Markus. Ok! Aku akan datang. Tapi sekarang aku mau tidur sebentar lagi.
Rapel : Sudah lama aku gak kumpul-kumpul sama Mudika. Semua gara-gara Mas HART. Sebaiknya aku kembali
kumpul dengan Mudika dan melupakan Mas HART.
BABAK III
Narator : Di tempat Pak Markus sebagian Mudika (Muda-mudi Katolik) sudah berkumpul untuk merayakan
Natal bersama dengan lingkungan. Kebetulan untuk tahun ini Mudika ditunjuk sebagai Panitia Pelaksana Natal.
Mereka sangat gembira dan bernyanyi-nyanyi ketika Rapel berjalan menuju tempat pertemuan dan diketahui oleh
Mudika. Mereka menyambut kedatangan Rapel dengan sebuah nyanyian.
Lagu : Bersama Mudika (berdua denganmu)
Lihat kawan disana
Berjalan datang kemari
Pasti dia pun tahu
Ada pertemuan disini
Dalam suka dan ceria
Cepat, cepatlah kemari
Bersama Mudika, Pasti lebih baik
Aku yakin itu
Bila sendiri pasti gigit jari
Juga makan hati
HART- 5
Panjikristo/2006
Kemudian setiap mudika saling berjabatan tangan, mengucapkan nama. Dan anehnya setiap pria yang disalami
Rapel, mereka menambahkan kata ...syah di belakang namanya.... misalnya jokosyah, udinsyah, ningsihsyah... tapi
tiadak ada yang bernama irwansyah. tiba-tiba seorang mudika (pria) bernyanyi
Lagu : Hari ini, cicipi dan seterusnya (Hari ini, esok dan seterusnya)
Hari ini aku senang sekali,
karena banyak makanan disini
Terus terang sudah tiga hari
Perut kosongku ini tidak terisi
Minta, minta, minta
Aku mau minta
Tambah lagi dan sedikit lagi
Aku cicipi makanan disini
Hingga rasanya perutku ini
Sudah tak muat lagi untuk diisi
Bahagia (kenyangnya)
Para Mudika tertawa melihat sang pria kekeyangan sambil meringis memegangi perutnya. “Makanya jangan
gembul!” sahut mereka serempak. Rapel sangat senang melihat keceriaan disana, lalu ia pun bernyanyi (bersama
teman-temanya)
Lagu : Teman-temanku (perempuanku)
biarkan aku di sini untukmu
aku hanya ingin menghibur hari ini
hari yg pasti menyenangkan untukmu
dan tentu untukku
biarkan di sini aku bernyanyi
hanya untukku dan untuk menghibur kamu
dan aku yakin senyummu tulus dan jujur
hanya untukku
Teman-temanku, Kau sahabatku
Tak mungkin bisa bila aku jauh darimu
Bisa gila, ku pasti sedih
Ku senang bila engkau ada
Teman-temanku
Semakin lama semakin ku tahu
maksud hati tak hanya menemanimu
ku ingin bersama selalu
kau sahabatku
Mas HART datang bersama ACA. Namun Rapel tidak terpengaruh. Emangnye Rapel pikirin. Mereka saling
bersalaman.
HART- 6
Panjikristo/2006
Kini mudika telah kumpul semua. Mereka semua bergembira. Tidak ada lagi sakit hati. Yang ada kegembiraan dan
keceriaan. Mereka bernyanyi bersama.
Lagu : Pencinta Mudika (Pecinta Wanita)
Kutemukan dalam pencarian
Teman sejati dalam hidupku
Kurang lebih seperti mudika
Ku harap engkaupun begitu
Ku tak mau menyangsikannya
Pasti gembira bila bersama
Biar engkau rasakan sendiri
Betapa gembira hatiku
Kami ini adalah Mudika
Thomas Aquino tiga
Berwajah tampan dan manis-manis
Bertingkah laku pun juga manis
Kami memang pencinta Mudika
Thomas Aquino tiga
Nyanyi dan tari pun kami bisa
Berdoa dan juga membaca kitab suci
Kamilah pencinta mudika
CREDIT TITTLE
Mudika bernyanyi bersama-sama sambil menyanyikan “Bersama Mudika”. Secara bergantian setiap mudika
memperkenalkan diri (sambil bergaya) sebagai pemain dengan membawa papan namanya masing-masing, sebagai
berikut :
............ sebagai Mas HART
........... sebagai ACA
............. sebagai RAPEL
................ sebagai IRWANSYAH
di dukung oleh TEATER MUDIKA Thomas Aquino 3
NASKAH dan SUTRADARA
panjikristo
Selesai
Catatan :
Semua lagu adalah “OST – Heart” yang diplesetkan oleh panjikristo untuk kepentingan Drama Komedi Musikal
yang akan dibawakan oleh mudika lingkungan Thomas Aquino3 dan tidak untuk disebarluaskan. Naskah ini untuk
Kalangan Sendiri. Dan tidak untuk di komersilkan.
HART- 7
Panjikristo/2006
Property list : Kamera besar (dibuat dari dus aja), Handicam (bikin aja pake dus bekas), setangkai bunga, bola
bekel dan bijinya, gitar, HP, sepotong kue, papan nama Tokoh, Tulisan “Rapel mengintip dan menangis” - “Rapel
sedang sedih” – “Sedang Hujan Deras” – “Rumah Bapak Markus, dll
Urutan Teknis Drama (Komedi) Musikal ‘HART’
BABAK I
2 buah kursi ditaruh dipanggung (oleh petugas). Kemudian petugas ybs menunjukkan papan : DI SEBUAH
TAMAN
Intro : track 1: Musik instrumen my Heart (volume sedang)
Kameramen masuk mengambil gambar sekeliling, kemudian statis
Mengarahkan kamera ke pembawa papan nama
Masuk pembawa papan nama (dengan gaya melenggak-lenggok) : BABAK I berputar lalu masuk kembali.
Pencatat script maju ke panggung : Klik. (suara sutradara: Camera, Action!)
Sepasang Mudika masuk, berjalan berkeliling. Berdiri berhadapan, sang pria menyerahkan setangkai
bunga/boneka/ atau apa saja kepada sang wanita
Mengambil posisi duduk
Interupsi dari Sutradara (Cut!, Cut! Ekpresinya mana? ..... Ok. Camera, Action!)
Volume (backsound instrumen My Heart dikecilkan)
Dialog dimulai ....................hingga kalimat, “Oh, Mas Heart”
Musik : track 2 – My Heart (volume sedang), Sepasang Mudika bernyanyi, kamera statis
Mendekati akhir lagu, Rapel mulai masuk di sudut memperhatikan keduanya.
Selesai menyanyi, disambung dialog singkat kedua pasangan. Lalu mereka berdiri,berjalan turun panggung
Musik: Track 3 (kehilangan) – volume sedang
Kamera diarahkan ke belakang rapel. Rapel menengok ke Samping menahan tangis. Interupsi sejenak,
pakai obat mata. (Sutradara : Camera, Close up!)
Seorang petugas maju membawa papan nama : SEDANG SEDIH
Lagu mengalun sayup-sayup
BABAK II
Musik masih mengalun
Pencatat Script maju : KLIK! (camera, Action!)
Masuk pembawa papan nama (dengan gaya melenggak-lenggok) : BABAK II berputar lalu masuk kembali.
Petugas masuk membawa papan nama : SEDANG TURUN HUJAN DERAS
Rapel berjalan berkeliling, mengambil Bola (Basket/ Sepak atau bola apa saja yg seukuran), derible
sebentar, tapi karena tidak bisa lalu dia menaruh bola tersebut lalu mengambil bola bekel dan bermain
sendirian.
Narator membacakan illustrasi cerita
Rapel mengambil gitar, memainkan atau bergaya. Kamera mengarah ke Rapel.
Masuk IRWANSYAH memperhatikan jari-jari Rapel yang sedang memainkan gitar.
Musik : Track 4 (Menghitung Hari), Irwanyah menyanyikan menghitung Jari Kamera mengarah ke
Irwansyah.
Selesai nyanyi, dialog singkat antar keduannya
Musik : Track 5 (Sampai Menutup mata) – Rapel Menyanyi sambil duduk. Dibantu oleh para wanita
dibelakang panggung). Kamera mengarah ke Rapel
Selesai nyanyi Rapel menguap, dan ingin tidur lagi namun HP nya bunyi. Ada telpon. Dialog singkat di telpon
Rapel berbicara sendiri dan melamun. Gak jadi tidur lagi.
HART- 8
Panjikristo/2006
BABAK III
Petugas maju membawa papan nama : DI RUMAH BAPAK MARKUS (berdiri diam). Kamera mengarah
tulisan tersebut.
Pencatat Script maju : KLIK! (Sutradara: camera, Action!)
Masuk pembawa papan nama (dengan gaya melenggak-lenggok) : BABAK III berputar lalu masuk kembali.
Bersama dengan petugas pertama
Narator membacakan illustrasi cerita
Para Mudika sudah berkumpul di sisi panggung, mereka melihat Rapel datang dari sisi yang lain. Salah
seorang melihat kedatangan Rapel dan berkata, “Lihat Rapel telah datang!”
Musik : Track 6 (Berdua lebih baik). Bernyanyi bersama-sama - lagu Bersama Mudika - sambil bergaya
(tapi jangan terlalu banyak gerak – hemat tenaga untuk akhir acara). Kamera stand by – jangan banyak
gerak
Selesai nyanyi mereka saling berjabatan tangan. Berkenalan
Seorang Mudika masuk
Musik : Track 7 (Hari ini, Esok ....) – seseorang tersebut bernyanyi “Hari ini, Cicipi....” (dibantu deh oleh
yang lainnya). Kamera Stand By
Ejekan singkat dan tertawa.
Musik : Track 8 (Perempuanku) – Nyanyi bersama “Teman-temanku”. Jangan terlalu banyak gaya, hemat
tenaga. Gitaris sapu lidi terlibat disana saat break musik. Kamera Stand by, sekali-kali boleh ikut goyang
tapi jangan kebanyakan.
Selesai nyanyi, Mas Hart Masuk dgn Acha, berkenalan dst
Musik : Track 9 (Pencinta Wanita) – Nyanyi bersama “Pencinta Mudika”. Jangan terlalu banyak gaya,
hemat tenaga. Gitaris sapu lidi terlibat disana saat break musik. Kamera Stand by, sekali-kali boleh ikut
goyang tapi jangan kebanyakan.
Selesai nyanyi, mereka mematung sambil bergaya
PENUTUP
Musik : Track 10 (berdua Lebih Baik). Lagu diawali dengan masuknya Para Pemain untuk memperkenalkan
diri : .... sebagai Mas Hart, ........... Acha, ........... Rapel, ........... Irwansyah, ........... Narator, ........... Kameramen,
............. Pencatat Skrip, ..... Pembawa Papan Nama, Sutradara Dst, di dukung oleh ....... Teater Mudika
Thomas Aquino 3
Nyanyi bersama “Bersama Mudika”. Dengan gaya, Gitaris sapu lidi terlibat disana saat break musik.
Kamera Stand by, sekali-kali boleh ikut goyang tapi jangan kebanyakan.
Selesai nyanyi, mereka mematung sambil bergaya
Bernyanyi “We wish you a Merry Christmas” bersama-sama
Seorang Mudika mengangkat tulisan “S E L E S A I”
* * *
Jumat, 20 Mei 2011
Gambaran Umum Ilmu Bahasa (Linguistik)
I. Pendahuluan
Dalam berbagai kamus umum, linguistik didefinisikan sebagai ‘ilmu bahasa’ atau ‘studi ilmiah mengenai bahasa’ (Matthews 1997). Dalam The New Oxford Dictionary of English (2003), linguistik didefinisikan sebagai berikut:
“The scientific study of language and its structure, including the study of grammar, syntax, and phonetics. Specific branches of linguistics include sociolinguistics, dialectology, psycholinguistics, computational linguistics, comparative linguistics, and structural linguistics.”
Program studi Ilmu Bahasa mulai jenjang S1 sampai S3, bahkan sampai post-doctoral program telah banyak ditawarkan di universitas terkemuka, seperti University of California in Los Angeles (UCLA), Harvard University, Massachusett Institute of Technology (MIT), University of Edinburgh, dan Oxford University. Di Indonesia, paling tidak ada dua universitas yang membuka program S1 sampai S3 untuk ilmu bahasa, yaitu Universitas Indonesia dan Universitas Katolik Atma Jaya.
II. Sejarah Perkembangan Ilmu Bahasa
Ilmu bahasa yang dipelajari saat ini bermula dari penelitian tentang bahasa sejak zaman Yunani (abad 6 SM). Secara garis besar studi tentang bahasa dapat dibedakan antara (1) tata bahasa tradisional dan (2) linguistik modern.
2. 1 Tata Bahasa Tradisional
Pada zaman Yunani para filsuf meneliti apa yang dimaksud dengan bahasa dan apa hakikat bahasa. Para filsuf tersebut sependapat bahwa bahasa adalah sistem tanda. Dikatakan bahwa manusia hidup dalam tanda-tanda yang mencakup segala segi kehidupan manusia, misalnya bangunan, kedokteran, kesehatan, geografi, dan sebagainya. Tetapi mengenai hakikat bahasa – apakah bahasa mirip realitas atau tidak – mereka belum sepakat. Dua filsuf besar yang pemikirannya terus berpengaruh sampai saat ini adalah Plato dan Aristoteles.
Plato berpendapat bahwa bahasa adalah physei atau mirip realitas; sedangkan Aristoteles mempunyai pendapat sebaliknya yaitu bahwa bahasa adalah thesei atau tidak mirip realitas kecuali onomatope dan lambang bunyi (sound symbolism). Pandangan Plato bahwa bahasa mirip dengan realitas atau non-arbitrer diikuti oleh kaum naturalis; pandangan Aristoteles bahwa bahasa tidak mirip dengan realitas atau arbitrer diikuti oleh kaum konvensionalis. Perbedaan pendapat ini juga merambah ke masalah keteraturan (regular) atau ketidakteraturan (irregular) dalam bahasa. Kelompok penganut pendapat adanya keteraturan bahasa adalah kaum analogis yang pandangannya tidak berbeda dengan kaum naturalis; sedangkan kaum anomalis yang berpendapat adanya ketidakteraturan dalam bahasa mewarisi pandangan kaum konvensionalis. Pandangan kaum anomalis mempengaruhi pengikut aliran Stoic. Kaum Stoic lebih tertarik pada masalah asal mula bahasa secara filosofis. Mereka membedakan adanya empat jenis kelas kata, yakni nomina, verba, konjungsi dan artikel.
Pada awal abad 3 SM studi bahasa dikembangkan di kota Alexandria yang merupakan koloni Yunani. Di kota itu dibangun perpustakaan besar yang menjadi pusat penelitian bahasa dan kesusastraan. Para ahli dari kota itu yang disebut kaum Alexandrian meneruskan pekerjaan kaum Stoic, walaupun mereka sebenarnya termasuk kaum analogis. Sebagai kaum analogis mereka mencari keteraturan dalam bahasa dan berhasil membangun pola infleksi bahasa Yunani. Apa yang dewasa ini disebut "tata bahasa tradisional" atau " tata bahasa Yunani" , penamaan itu tidak lain didasarkan pada hasil karya kaum Alexandrian ini.
Salah seorang ahli bahasa bemama Dionysius Thrax (akhir abad 2 SM) merupakan orang pertama yang berhasil membuat aturan tata bahasa secara sistematis serta menambahkan kelas kata adverbia, partisipel, pronomina dan preposisi terhadap empat kelas kata yang sudah dibuat oleh kaum Stoic. Di samping itu sarjana ini juga berhasil mengklasifikasikan kata-kata bahasa Yunani menurut kasus, jender, jumlah, kala, diatesis (voice) dan modus.
Pengaruh tata bahasa Yunani sampai ke kerajaan Romawi. Para ahli tata bahasa Latin mengadopsi tata bahasa Yunani dalam meneliti bahasa Latin dan hanya melakukan sedikit modifikasi, karena kedua bahasa itu mirip. Tata bahasa Latin dibuat atas dasar model tata bahasa Dionysius Thrax. Dua ahli bahasa lainnya, Donatus (tahun 400 M) dan Priscian (tahun 500 M) juga membuat buku tata bahasa klasik dari bahasa Latin yang berpengaruh sampai ke abad pertengahan.
Selama abad 13-15 bahasa Latin memegang peranan penting dalam dunia pendidikan di samping dalam agama Kristen. Pada masa itu gramatika tidak lain adalah teori tentang kelas kata. Pada masa Renaisans bahasa Latin menjadi sarana untuk memahami kesusastraan dan mengarang. Tahun 1513 Erasmus mengarang tata bahasa Latin atas dasar tata bahasa yang disusun oleh Donatus.
Minat meneliti bahasa-bahasa di Eropa sebenarnya sudah dimulai sebelum zaman Renaisans, antara lain dengan ditulisnya tata bahasa Irlandia (abad 7 M), tata bahasa Eslandia (abad 12), dan sebagainya. Pada masa itu bahasa menjadi sarana dalam kesusastraan, dan bila menjadi objek penelitian di universitas tetap dalam kerangka tradisional. Tata bahasa dianggap sebagai seni berbicara dan menulis dengan benar. Tugas utama tata bahasa adalah memberi petunjuk tentang pemakaian "bahasa yang baik" , yaitu bahasa kaum terpelajar. Petunjuk pemakaian "bahasa yang baik" ini adalah untuk menghindarkan terjadinya pemakaian unsur-unsur yang dapat "merusak" bahasa seperti kata serapan, ragam percakapan, dan sebagainya.
Tradisi tata bahasa Yunani-Latin berpengaruh ke bahasa-bahasa Eropa lainnya. Tata bahasa Dionysius Thrax pada abad 5 diterjemahkan ke dalam bahasa Armenia, kemudian ke dalam bahasa Siria. Selanjutnya para ahli tata bahasa Arab menyerap tata bahasa Siria.
Selain di Eropa dan Asia Barat, penelitian bahasa di Asia Selatan yang perlu diketahui adalah di India dengan ahli gramatikanya yang bemama Panini (abad 4 SM). Tata bahasa Sanskrit yang disusun ahli ini memiliki kelebihan di bidang fonetik. Keunggulan ini antara lain karena adanya keharusan untuk melafalkan dengan benar dan tepat doa dan nyanyian dalam kitab suci Weda.
Sampai menjelang zaman Renaisans, bahasa yang diteliti adalah bahasa Yunani, dan Latin. Bahasa Latin mempunyai peran penting pada masa itu karena digunakan sebagai sarana dalam dunia pendidikan, administrasi dan diplomasi internasional di Eropa Barat. Pada zaman Renaisans penelitian bahasa mulai berkembang ke bahasa-bahasa Roman (bahasa Prancis, Spanyol, dan Italia) yang dianggap berindukkan bahasa Latin, juga kepada bahasa-bahasa yang nonRoman seperti bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Swedia, dan Denmark.
2. 2 Linguistik Modern
2. 2. 1 Linguistik Abad 19
Pada abad 19 bahasa Latin sudah tidak digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam pemerintahan atau pendidikan. Objek penelitian adalah bahasa-bahasa yang dianggap mempunyai hubungan kekerabatan atau berasal dari satu induk bahasa. Bahasa-bahasa dikelompokkan ke dalam keluarga bahasa atas dasar kemiripan fonologis dan morfologis. Dengan demikian dapat diperkirakan apakah bahasa-bahasa tertentu berasal dari bahasa moyang yang sama atau berasal dari bahasa proto yang sama sehingga secara genetis terdapat hubungan kekerabatan di antaranya. Bahasa-bahasa Roman, misalnya secara genetis dapat ditelusuri berasal dari bahasa Latin yang menurunkan bahasa Perancis, Spanyol, dan Italia.
Untuk mengetahui hubungan genetis di antara bahasa-bahasa dilakukan metode komparatif. Antara tahun 1820-1870 para ahli linguistik berhasil membangun hubungan sistematis di antara bahasa-bahasa Roman berdasarkan struktur fonologis dan morfologisnya. Pada tahun 1870 itu para ahli bahasa dari kelompok Junggramatiker atau Neogrammarian berhasil menemukan cara untuk mengetahui hubungan kekerabatan antarbahasa berdasarkan metode komparatif.
Beberapa rumpun bahasa yang berhasil direkonstruksikan sampai dewasa ini antara lain:
1. Rumpun Indo-Eropa: bahasa Jerman, Indo-Iran, Armenia, Baltik, Slavis, Roman, Keltik, Gaulis.
2. Rumpun Semito-Hamit: bahasa Arab, Ibrani, Etiopia.
3. Rumpun Chari-Nil; bahasa Bantu, Khoisan.
4. Rumpun Dravida: bahasa Telugu, Tamil, Kanari, Malayalam.
5. Rumpun Austronesia atau Melayu-Polinesia: bahasa Melayu, Melanesia, Polinesia.
6. Rumpun Austro-Asiatik: bahasa Mon-Khmer, Palaung, Munda, Annam.
7. Rumpun Finno-Ugris: bahasa Ungar (Magyar), Samoyid.
8. Rumpun Altai: bahasa Turki, Mongol, Manchu, Jepang, Korea.
9. Rumpun Paleo-Asiatis: bahasa-bahasa di Siberia.
10. Rumpun Sino-Tibet: bahasa Cina, Thai, Tibeto-Burma.
11. Rumpun Kaukasus: bahasa Kaukasus Utara, Kaukasus Selatan.
12. Bahasa-bahasa Indian: bahasa Eskimo, Maya Sioux, Hokan
13. Bahasa-bahasa lain seperti bahasa di Papua, Australia dan Kadai.
Ciri linguistik abad 19 sebagai berikut:
1) Penelitian bahasa dilakukan terhadap bahasa-bahasa di Eropa, baik bahasa-bahasa Roman maupun nonRoman.
2) Bidang utama penelitian adalah linguistik historis komparatif. Yang diteliti adalah hubungan kekerabatan dari bahasa-bahasa di Eropa untuk mengetahui bahasa-bahasa mana yang berasal dari induk yang sama. Dalam metode komparatif itu diteliti perubahan bunyi kata-kata dari bahasa yang dianggap sebagai induk kepada bahasa yang dianggap sebagai keturunannya. Misalnya perubahan bunyi apa yang terjadi dari kata barang, yang dalam bahasa Latin berbunyi causa menjadi chose dalam bahasa Perancis, dan cosa dalam bahasa Italia dan Spanyol.
3) Pendekatan bersifat atomistis. Unsur bahasa yang diteliti tidak dihubungkan dengan unsur lainnya, misalnya penelitian tentang kata tidak dihubungkan dengan frase atau kalimat.
2. 2. 2 Linguistik Abad 20
Pada abad 20 penelitian bahasa tidak ditujukan kepada bahasa-bahasa Eropa saja, tetapi juga kepada bahasa-bahasa yang ada di dunia seperti di Amerika (bahasa-bahasa Indian), Afrika (bahasa-bahasa Afrika) dan Asia (bahasa-bahasa Papua dan bahasa banyak negara di Asia). Ciri-cirinya:
1) Penelitian meluas ke bahasa-bahasa di Amerika, Afrika, dan Asia.
2) Pendekatan dalam meneliti bersifat strukturalistis, pada akhir abad 20 penelitian yang bersifat fungsionalis juga cukup menonjol.
3) Tata bahasa merupakan bagian ilmu dengan pembidangan yang semakin rumit. Secara garis besar dapat dibedakan atas mikrolinguistik, makro linguistik, dan sejarah linguistik.
4) Penelitian teoretis sangat berkembang.
5) Otonomi ilmiah makin menonjol, tetapi penelitian antardisiplin juga berkembang.
6) Prinsip dalam meneliti adalah deskripsi dan sinkronis
Keberhasilan kaum Junggramatiker merekonstruksi bahasa-bahasa proto di Eropa mempengaruhi pemikiran para ahli linguistik abad 20, antara lain Ferdinand de Saussure. Sarjana ini tidak hanya dikenal sebagai bapak linguistik modern, melainkan juga seorang tokoh gerakan strukturalisme. Dalam strukturalisme bahasa dianggap sebagai sistem yang berkaitan (system of relation). Elemen-elemennya seperti kata, bunyi saling berkaitan dan bergantung dalam membentuk sistem tersebut.
Beberapa pokok pemikiran Saussure:
(1) Bahasa lisan lebih utama dari pada bahasa tulis. Tulisan hanya merupakan sarana yang mewakili ujaran.
(2) Linguistik bersifat deskriptif, bukan preskriptif seperti pada tata bahasa tradisional. Para ahli linguistik bertugas mendeskripsikan bagaimana orang berbicara dan menulis dalam bahasanya, bukan memberi keputusan bagaimana seseorang seharusnya berbicara.
(3) Penelitian bersifat sinkronis bukan diakronis seperti pada linguistik abad 19. Walaupun bahasa berkembang dan berubah, penelitian dilakukan pada kurun waktu tertentu.
(4) Bahasa merupakan suatu sistem tanda yang bersisi dua, terdiri dari signifiant (penanda) dan signifie (petanda). Keduanya merupakan wujud yang tak terpisahkan, bila salah satu berubah, yang lain juga berubah.
(5) Bahasa formal maupun nonformal menjadi objek penelitian.
(6) Bahasa merupakan sebuah sistem relasi dan mempunyai struktur.
(7) Dibedakan antara bahasa sebagai sistem yang terdapat dalam akal budi pemakai bahasa dari suatu kelompok sosial (langue) dengan bahasa sebagai manifestasi setiap penuturnya (parole).
(8) Dibedakan antara hubungan asosiatif dan sintagmatis dalam bahasa. Hubungan asosiatif atau paradigmatis ialah hubungan antarsatuan bahasa dengan satuan lain karena ada kesamaan bentuk atau makna. Hubungan sintagmatis ialah hubungan antarsatuan pembentuk sintagma dengan mempertentangkan suatu satuan dengan satuan lain yang mengikuti atau mendahului.
Gerakan strukturalisme dari Eropa ini berpengaruh sampai ke benua Amerika. Studi bahasa di Amerika pada abad 19 dipengaruhi oleh hasil kerja akademis para ahli Eropa dengan nama deskriptivisme. Para ahli linguistik Amerika mempelajari bahasa-bahasa suku Indian secara deskriptif dengan cara menguraikan struktur bahasa. Orang Amerika banyak yang menaruh perhatian pada masalah bahasa. Thomas Jefferson, presiden Amerika yang ketiga (1801-1809), menganjurkan agar supaya para ahli linguistik Amerika mulai meneliti bahasa-bahasa orang Indian. Seorang ahli linguistik Amerika bemama William Dwight Whitney (1827-1894) menulis sejumlah buku mengenai bahasa, antara lain Language and the Study of Language (1867).
Tokoh linguistik lain yang juga ahli antropologi adalah Franz Boas (1858-1942). Sarjana ini mendapat pendidikan di Jerman, tetapi menghabiskan waktu mengajar di negaranya sendiri. Karyanya berupa buku Handbook of American Indian languages (1911-1922) ditulis bersama sejumlah koleganya. Di dalam buku tersebut terdapat uraian tentang fonetik, kategori makna dan proses gramatikal yang digunakan untuk mengungkapkan makna. Pada tahun 1917 diterbitkan jurnal ilmiah berjudul International Journal of American Linguistics.
Pengikut Boas yang berpendidikan Amerika, Edward Sapir (1884-1939), juga seorang ahli antropologi dinilai menghasilkan karya-karya yang sangat cemerlang di bidang fonologi. Bukunya, Language (1921) sebagian besar mengenai tipologi bahasa. Sumbangan Sapir yang patut dicatat adalah mengenai klasifikasi bahasa-bahasa Indian.
Pemikiran Sapir berpengaruh pada pengikutnya, L. Bloomfield (1887-1949), yang melalui kuliah dan karyanya mendominasi dunia linguistik sampai akhir hayatnya. Pada tahun 1914 Bloomfield menulis buku An Introduction to Linguistic Science. Artikelnya juga banyak diterbitkan dalam jurnal Language yang didirikan oleh Linguistic Society of America tahun 1924. Pada tahun 1933 sarjana ini menerbitkankan buku Language yang mengungkapkan pandangan behaviorismenya tentang fakta bahasa, yakni stimulus-response atau rangsangan-tanggapan. Teori ini dimanfaatkan oleh Skinner (1957) dari Universitas Harvard dalam pengajaran bahasa melalui teknik drill.
Dalam bukunya Language, Bloomfield mempunyai pendapat yang bertentangan dengan Sapir. Sapir berpendapat fonem sebagai satuan psikologis, tetapi Bloomfield berpendapat fonem merupakan satuan behavioral. Bloomfield dan pengikutnya melakukan penelitian atas dasar struktur bahasa yang diteliti, karena itu mereka disebut kaum strukturalisme dan pandangannya disebut strukturalis.
Bloomfield beserta pengikutnya menguasai percaturan linguistik selama lebih dari 20 tahun. Selama kurun waktu itu kaum Bloomfieldian berusaha menulis tata bahasa deskriptif dari bahasa-bahasa yang belum memiliki aksara. Kaum Bloomfieldian telah berjasa meletakkan dasar-dasar bagi penelitian linguistik di masa setelah itu.
Bloomfield berpendapat fonologi, morfologi dan sintaksis merupakan bidang mandiri dan tidak berhubungan. Tata bahasa lain yang memperlakukan bahasa sebagai sistem hubungan adalah tata bahasa stratifikasi yang dipelopori oleh S.M. Lamb. Tata bahasa lainnya yang memperlakukan bahasa sebagai sistem unsur adalah tata bahasa tagmemik yang dipelopori oleh K. Pike. Menurut pendekatan ini setiap gatra diisi oleh sebuah elemen. Elemen ini bersama elemen lain membentuk suatu satuan yang disebut tagmem.
Murid Sapir lainnya, Zellig Harris, mengaplikasikan metode strukturalis ke dalam analisis segmen bahasa. Sarjana ini mencoba menghubungkan struktur morfologis, sintaktis, dan wacana dengan cara yang sama dengan yang dilakukan terhadap analisis fonologis. Prosedur penelitiannya dipaparkan dalam bukunya Methods in Structural Linguistics (1951).
Ahli linguistik yang cukup produktif dalam membuat buku adalah Noam Chomsky. Sarjana inilah yang mencetuskan teori transformasi melalui bukunya Syntactic Structures (1957), yang kemudian disebut classical theory. Dalam perkembangan selanjutnya, teori transformasi dengan pokok pikiran kemampuan dan kinerja yang dicetuskannya melalui Aspects of the Theory of Syntax (1965) disebut standard theory. Karena pendekatan teori ini secara sintaktis tanpa menyinggung makna (semantik), teori ini disebut juga sintaksis generatif (generative syntax). Pada tahun 1968 sarjana ini mencetuskan teori extended standard theory. Selanjutnya pada tahun 1970, Chomsky menulis buku generative semantics; tahun 1980 government and binding theory; dan tahun 1993 Minimalist program.
III. Paradigma
Kata paradigma diperkenalkan oleh Thomas Khun pada sekitar abad 15. Paradigma adalah prestasi ilmiah yang diakui pada suatu masa sebagai model untuk memecahkan masalah ilmiah dalam kalangan tertentu. Paradigma dapat dikatakan sebagai norma ilmiah. Contoh paradigma yang mulai tumbuh sejak zaman Yunani tetapi pengaruhnya tetap terasa sampai zaman modern ini adalah paradigma Plato dan paradigma Aristoteles. Paradigma Plato berintikan pendapat Plato bahwa bahasa adalah physei atau mirip dengan realitas, disebut juga non-arbitrer atau ikonis. Paradigma Aristoteles berintikan bahwa bahasa adalah thesei atau tidak mirip dengan realitas, kecuali onomatope, disebut arbitrer atau non-ikonis. Kedua paradigma ini saling bertentangan, tetapi dipakai oleh peneliti dalam memecahkan masalah bahasa, misalnya tentang hakikat tanda bahasa.
Pada masa tertentu paradigma Plato banyak digunakan ahli bahasa untuk memecahkan masalah linguistik. Penganut paradigma Plato ini disebut kaum naturalis. Mereka menolak gagasan kearbitreran. Pada masa tertentu lainnya paradigma Aristoteles digunakan mengatasi masalah linguistik. Penganut paradigma Aristoteles disebut kaum konvensionalis. Mereka menerima adanya kearbiteran antara bahasa dengan realitas.
Pertentangan antara kedua paradigma ini terus berlangsung sampai abad 20. Di bidang linguistik dan semiotika dikenal tokoh Ferdinand de Saussure sebagai penganut paradigma .Aristoteles dan Charles S. Peirce sebagai penganut paradigma Plato. Mulai dari awal abad 19 sampai tahun 1960-an paradigma Aristoteles yang diikuti Saussure yang berpendapat bahwa bahasa adalah sistem tanda yang arbitrer digunakan dalam memecahkan masalah-masalah linguistik. Tercatat beberapa nama ahli linguistik seperti Bloomfield dan Chomsky yang dalam pemikirannya menunjukkan pengaruh Saussure dan paradigma Aristoteles. Menjelang pertengahan tahun 60-an dominasi paradigma Aristoteles mulai digoyahkan oleh paradigma Plato melalui artikel R. Jakobson "Quest for the Essence of Language" (1967) yang diilhami oleh Peirce. Beberapa nama ahli linguistik seperti T. Givon, J. Haiman, dan W. Croft tercatat sebagai penganut paradigma Plato.
IV. Cakupan dan Kemaknawian Ilmu Bahasa
Secara umum, bidang ilmu bahasa dibedakan atas linguistik murni dan linguistik terapan. Bidang linguistik murni mencakup fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Sedangkan bidang linguistik terapan mencakup pengajaran bahasa, penerjemahan, leksikografi, dan lain-lain. Beberapa bidang tersebut dijelaskan dalam sub-bab berikut ini.
4. 1 Fonetik
Fonetik mengacu pada artikulasi bunyi bahasa. Para ahli fonetik telah berhasil menentukan cara artikulasi dari berbagai bunyi bahasa dan membuat abjad fonetik internasional sehingga memudahkan seseorang untuk mempelajari dan mengucapkan bunyi yang tidak ada dalam bahasa ibunya. Misalnya dalam bahasa Inggris ada perbedaan yang nyata antara bunyi tin dan thin, dan antara they dan day, sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak. Dengan mempelajari fonetik, orang Indonesia akan dapat mengucapkan kedua bunyi tersebut dengan tepat.
Abjad fonetik internasional, yang didukung oleh laboratorium fonetik, departemen linguistik, UCLA, penting dipelajari oleh semua pemimpin, khususnya pemimpin negara. Dengan kemampuan membaca abjad fonetik secara tepat, seseorang dapat memberikan pidato dalam ratusan bahasa. Misalnya, jika seorang pemimpin di Indonesia mengadakan kunjungan ke Cina, ia cukup meminta staf-nya untuk menerjemahkan pidatonya ke bahasa Cina dan menulisnya dengan abjad fonetik, sehingga ia dapat memberikan pidato dalam bahasa Cina dengan ucapan yang tepat. Salah seorang pemimpin yang telah memanfaatkan abjad fonetik internasional adalah Paus Yohanes Paulus II. Ke negara manapun beliau berkunjung, beliau selalu memberikan khotbah dengan menggunakan bahasa setempat. Apakah hal tersebut berarti bahwa beliau memahami semua bahasa di dunia? Belum tentu, namun cukup belajar fonetik saja untuk mampu mengucapkan bunyi ratusan bahasa dengan tepat.
4. 2 Fonologi
Fonologi mengacu pada sistem bunyi bahasa. Misalnya dalam bahasa Inggris, ada gugus konsonan yang secara alami sulit diucapkan oleh penutur asli bahasa Inggris karena tidak sesuai dengan sistem fonologis bahasa Inggris, namun gugus konsonan tersebut mungkin dapat dengan mudah diucapkan oleh penutur asli bahasa lain yang sistem fonologisnya terdapat gugus konsonan tersebut. Contoh sederhana adalah pengucapan gugus ‘ng’ pada awal kata, hanya berterima dalam sistem fonologis bahasa Indonesia, namun tidak berterima dalam sistem fonologis bahasa Inggris. Kemaknawian utama dari pengetahuan akan sistem fonologi ini adalah dalam pemberian nama untuk suatu produk, khususnya yang akan dipasarkan di dunia internasional. Nama produk tersebut tentunya akan lebih baik jika disesuaikan dengan sistem fonologis bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional.
4. 3 Morfologi
Morfologi lebih banyak mengacu pada analisis unsur-unsur pembentuk kata. Sebagai perbandingan sederhana, seorang ahli farmasi (atau kimia?) perlu memahami zat apa yang dapat bercampur dengan suatu zat tertentu untuk menghasilkan obat flu yang efektif; sama halnya seorang ahli linguistik bahasa Inggris perlu memahami imbuhan apa yang dapat direkatkan dengan suatu kata tertentu untuk menghasilkan kata yang benar. Misalnya akhiran -¬en dapat direkatkan dengan kata sifat dark untuk membentuk kata kerja darken, namun akhiran -¬en tidak dapat direkatkan dengan kata sifat green untuk membentuk kata kerja. Alasannya tentu hanya dapat dijelaskan oleh ahli bahasa, sedangkan pengguna bahasa boleh saja langsung menggunakan kata tersebut. Sama halnya, alasan ketentuan pencampuran zat-zat kimia hanya diketahui oleh ahli farmasi, sedangkan pengguna obat boleh saja langsung menggunakan obat flu tersebut, tanpa harus mengetahui proses pembuatannya.
4. 4 Sintaksis
Analisis sintaksis mengacu pada analisis frasa dan kalimat. Salah satu kemaknawiannya adalah perannya dalam perumusan peraturan perundang-undangan. Beberapa teori analisis sintaksis dapat menunjukkan apakah suatu kalimat atau frasa dalam suatu peraturan perundang-undangan bersifat ambigu (bermakna ganda) atau tidak. Jika bermakna ganda, tentunya perlu ada penyesuaian tertentu sehingga peraturan perundang-undangan tersebut tidak disalahartikan baik secara sengaja maupun tidak sengaja.
4. 5 Semantik
Kajian semantik membahas mengenai makna bahasa. Analisis makna dalam hal ini mulai dari suku kata sampai kalimat. Analisis semantik mampu menunjukkan bahwa dalam bahasa Inggris, setiap kata yang memiliki suku kata ‘pl’ memiliki arti sesuatu yang datar sehingga tidak cocok untuk nama produk/benda yang cekung. Ahli semantik juga dapat membuktikan suku kata apa yang cenderung memiliki makna yang negatif, sehingga suku kata tersebut seharusnya tidak digunakan sebagai nama produk asuransi. Sama halnya dengan seorang dokter yang mengetahui antibiotik apa saja yang sesuai untuk seorang pasien dan mana yang tidak sesuai.
4. 6 Pengajaran Bahasa
Ahli bahasa adalah guru dan/atau pelatih bagi para guru bahasa. Ahli bahasa dapat menentukan secara ilmiah kata-kata apa saja yang perlu diajarkan bagi pelajar bahasa tingkat dasar. Para pelajar hanya langsung mempelajari kata-kata tersebut tanpa harus mengetahui bagaimana kata-kata tersebut disusun. Misalnya kata-kata dalam buku-buku Basic English. Para pelajar (dan guru bahasa Inggris dasar) tidak harus mengetahui bahwa yang dimaksud Basic adalah B(ritish), A(merican), S(cientific), I(nternational), C(ommercial), yang pada awalnya diolah pada tahun 1930an oleh ahli linguistik C. K. Ogden. Pada masa awal tersebut, Basic English terdiri atas 850 kata utama.
Selanjutnya, pada tahun 1953, Michael West menyusun General Service List yang berisikan dua kelompok kata utama (masing-masing terdiri atas 1000 kata) yang diperlukan oleh pelajar untuk dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Daftar tersebut terus dikembangkan oleh berbagai universitas ternama yang memiliki jurusan linguistik. Pada tahun 1998, Coxhead dari Victoria University or Wellington, berhasil menyelesaikan suatu proyek kosakata akademik yang dilakukan di semua fakultas di universitas tersebut dan menghasilkan Academic Wordlist, yaitu daftar kata-kata yang wajib diketahui oleh mahasiswa dalam membaca buku teks berbahasa Inggris, menulis laporan dalam bahasa Inggris, dan tujuannya lainnya yang bersifat akademik.
Proses penelitian hingga menjadi materi pelajaran atau buku bahasa Inggris yang bermanfaat hanya diketahui oleh ahli bahasa yang terkait, sedangkan pelajar bahasa dapat langung mempelajari dan memperoleh manfaatnya. Sama halnya dalam ilmu kedokteran, proses penelitian hingga menjadi obat yang bermanfaat hanya diketahui oleh dokter, sedangkan pasien dapat langsung menggunakannya dan memperoleh manfaatnya.
4. 7 Leksikografi
Leksikografi adalah bidang ilmu bahasa yang mengkaji cara pembuatan kamus. Sebagian besar (atau bahkan semua) sarjana memiliki kamus, namun mereka belum tentu tahu bahwa penulisan kamus yang baik harus melalui berbagai proses.
Dua nama besar yang mengawali penyusunan kamus adalah Samuel Johnson (1709-1784) dan Noah Webster (1758-1843). Johnson, ahli bahasa dari Inggris, membuat Dictionary of the English Language pada tahun 1755, yang terdiri atas dua volume. Di Amerika, Webster pertama kali membuat kamus An American Dictionary of the English Language pada tahun 1828, yang juga terdiri atas dua volume. Selanjutnya, pada tahun 1884 diterbitkan Oxford English Dictionary yang terdiri atas 12 volume.
Saat ini, kamus umum yang cukup luas digunakan adalah Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Mengapa kamus Oxford? Beberapa orang mungkin secara sederhana akan menjawab karena kamus tersebut lengkap dan cukup mudah dimengerti. Tidak banyak yang tahu bahwa (setelah tahun 1995) kamus tersebut ditulis berdasarkan hasil analisis British National Corpus yang melibatkan cukup banyak ahli bahasa dan menghabiskan dana universitas dan dana negara yang jumlahnya cukup besar. Secara umum, definisi yang diberikan dalam kamus tersebut seharusnya dapat mudah dipahami oleh pelajar karena semua entri dalam kamus tersebut hanya didefinisikan oleh sekelompok kosa kata inti. Bagaimana kosa-kata inti tersebut disusun? Tentu hanya ahli bahasa yang dapat menjelaskannya, sedangkan para sarjana dan pelajar dapat langsung saja menikmati dan menggunakan berbagai kamus Oxford yang ada dipasaran.
V. Penutup
Penelitian bahasa sudah dimulai sejak abad ke 6 SM, bahkan perpustakaan besar yang menjadi pusat penelitian bahasa dan kesusastraan sudah dibangun sejak awal abad 3 SM di kota Alexandria. Kamus bahasa Inggris, Dictionary of the English Language, yang terdiri atas dua volume, pertama kali diterbitkan pada tahun 1755; dan pada tahun 1884 telah diterbitkan Oxford English Dictionary yang terdiri atas 12 volume. Antara 1820-1870 para ahli linguistik berhasil membangun hubungan sistematis di antara bahasa-bahasa Roman berdasarkan struktur fonologis dan morfologisnya.
Salah satu buku awal yang menjelaskan mengenai ilmu bahasa adalah buku An Introduction to Linguistic Science yang ditulis oleh Bloomfield pada tahun 1914. Jurnal ilmiah internasional ilmu bahasa, yang berjudul International Journal of American Linguistics, pertama kali diterbitkan pada tahun 1917.
Ilmu bahasa terus berkembang dan semakin memainkan peran penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Hal ini dibuktikan dengan semakin majunya program pascasarjana bidang linguistik di berbagai universitas terkemuka (UCLA, MIT, Oxford, dll). Buku-buku karya ahli bahasa pun semakin mendapat perhatian. Salah satu buktinya adalah buku The Comprehensive Grammar of the English Langauge, yang terdiri atas 1778 halaman, yang acara peluncurannya di buka oleh Margareth Thatcher, pada tahun 1985. Respon yang luar biasa terhadap buku tersebut membuatnya dicetak sebanyak tiga kali dalam tahun yang sama. Buku tata bahasa yang terbaru, The Cambridge Grammar of the English Language, tahun 2002, yang terdiri atas 1842 halaman, ditulis oleh para ahli bahasa yang tergabung dalam tim peneliti internasional dari lima negara.
Pustaka Acuan
Robins, R.H. 1990. A Short History of Linguistics. London: Longman.
Fromkin, Victoria & Robert Rodman. 1998. An Introduction to Language (6th Edition). Orlando: Harcourt Brace College Publishers.
Hornby, A.S. 1995. Oxford Advanced Learner’s Dictionary (5th edition). Oxford: Oxford University Press.
Matthews, Peter. 1997. The Concise Oxford Dictionary of Linguistics. Oxford: Oxford University Press.
I. Pendahuluan
Dalam berbagai kamus umum, linguistik didefinisikan sebagai ‘ilmu bahasa’ atau ‘studi ilmiah mengenai bahasa’ (Matthews 1997). Dalam The New Oxford Dictionary of English (2003), linguistik didefinisikan sebagai berikut:
“The scientific study of language and its structure, including the study of grammar, syntax, and phonetics. Specific branches of linguistics include sociolinguistics, dialectology, psycholinguistics, computational linguistics, comparative linguistics, and structural linguistics.”
Program studi Ilmu Bahasa mulai jenjang S1 sampai S3, bahkan sampai post-doctoral program telah banyak ditawarkan di universitas terkemuka, seperti University of California in Los Angeles (UCLA), Harvard University, Massachusett Institute of Technology (MIT), University of Edinburgh, dan Oxford University. Di Indonesia, paling tidak ada dua universitas yang membuka program S1 sampai S3 untuk ilmu bahasa, yaitu Universitas Indonesia dan Universitas Katolik Atma Jaya.
II. Sejarah Perkembangan Ilmu Bahasa
Ilmu bahasa yang dipelajari saat ini bermula dari penelitian tentang bahasa sejak zaman Yunani (abad 6 SM). Secara garis besar studi tentang bahasa dapat dibedakan antara (1) tata bahasa tradisional dan (2) linguistik modern.
2. 1 Tata Bahasa Tradisional
Pada zaman Yunani para filsuf meneliti apa yang dimaksud dengan bahasa dan apa hakikat bahasa. Para filsuf tersebut sependapat bahwa bahasa adalah sistem tanda. Dikatakan bahwa manusia hidup dalam tanda-tanda yang mencakup segala segi kehidupan manusia, misalnya bangunan, kedokteran, kesehatan, geografi, dan sebagainya. Tetapi mengenai hakikat bahasa – apakah bahasa mirip realitas atau tidak – mereka belum sepakat. Dua filsuf besar yang pemikirannya terus berpengaruh sampai saat ini adalah Plato dan Aristoteles.
Plato berpendapat bahwa bahasa adalah physei atau mirip realitas; sedangkan Aristoteles mempunyai pendapat sebaliknya yaitu bahwa bahasa adalah thesei atau tidak mirip realitas kecuali onomatope dan lambang bunyi (sound symbolism). Pandangan Plato bahwa bahasa mirip dengan realitas atau non-arbitrer diikuti oleh kaum naturalis; pandangan Aristoteles bahwa bahasa tidak mirip dengan realitas atau arbitrer diikuti oleh kaum konvensionalis. Perbedaan pendapat ini juga merambah ke masalah keteraturan (regular) atau ketidakteraturan (irregular) dalam bahasa. Kelompok penganut pendapat adanya keteraturan bahasa adalah kaum analogis yang pandangannya tidak berbeda dengan kaum naturalis; sedangkan kaum anomalis yang berpendapat adanya ketidakteraturan dalam bahasa mewarisi pandangan kaum konvensionalis. Pandangan kaum anomalis mempengaruhi pengikut aliran Stoic. Kaum Stoic lebih tertarik pada masalah asal mula bahasa secara filosofis. Mereka membedakan adanya empat jenis kelas kata, yakni nomina, verba, konjungsi dan artikel.
Pada awal abad 3 SM studi bahasa dikembangkan di kota Alexandria yang merupakan koloni Yunani. Di kota itu dibangun perpustakaan besar yang menjadi pusat penelitian bahasa dan kesusastraan. Para ahli dari kota itu yang disebut kaum Alexandrian meneruskan pekerjaan kaum Stoic, walaupun mereka sebenarnya termasuk kaum analogis. Sebagai kaum analogis mereka mencari keteraturan dalam bahasa dan berhasil membangun pola infleksi bahasa Yunani. Apa yang dewasa ini disebut "tata bahasa tradisional" atau " tata bahasa Yunani" , penamaan itu tidak lain didasarkan pada hasil karya kaum Alexandrian ini.
Salah seorang ahli bahasa bemama Dionysius Thrax (akhir abad 2 SM) merupakan orang pertama yang berhasil membuat aturan tata bahasa secara sistematis serta menambahkan kelas kata adverbia, partisipel, pronomina dan preposisi terhadap empat kelas kata yang sudah dibuat oleh kaum Stoic. Di samping itu sarjana ini juga berhasil mengklasifikasikan kata-kata bahasa Yunani menurut kasus, jender, jumlah, kala, diatesis (voice) dan modus.
Pengaruh tata bahasa Yunani sampai ke kerajaan Romawi. Para ahli tata bahasa Latin mengadopsi tata bahasa Yunani dalam meneliti bahasa Latin dan hanya melakukan sedikit modifikasi, karena kedua bahasa itu mirip. Tata bahasa Latin dibuat atas dasar model tata bahasa Dionysius Thrax. Dua ahli bahasa lainnya, Donatus (tahun 400 M) dan Priscian (tahun 500 M) juga membuat buku tata bahasa klasik dari bahasa Latin yang berpengaruh sampai ke abad pertengahan.
Selama abad 13-15 bahasa Latin memegang peranan penting dalam dunia pendidikan di samping dalam agama Kristen. Pada masa itu gramatika tidak lain adalah teori tentang kelas kata. Pada masa Renaisans bahasa Latin menjadi sarana untuk memahami kesusastraan dan mengarang. Tahun 1513 Erasmus mengarang tata bahasa Latin atas dasar tata bahasa yang disusun oleh Donatus.
Minat meneliti bahasa-bahasa di Eropa sebenarnya sudah dimulai sebelum zaman Renaisans, antara lain dengan ditulisnya tata bahasa Irlandia (abad 7 M), tata bahasa Eslandia (abad 12), dan sebagainya. Pada masa itu bahasa menjadi sarana dalam kesusastraan, dan bila menjadi objek penelitian di universitas tetap dalam kerangka tradisional. Tata bahasa dianggap sebagai seni berbicara dan menulis dengan benar. Tugas utama tata bahasa adalah memberi petunjuk tentang pemakaian "bahasa yang baik" , yaitu bahasa kaum terpelajar. Petunjuk pemakaian "bahasa yang baik" ini adalah untuk menghindarkan terjadinya pemakaian unsur-unsur yang dapat "merusak" bahasa seperti kata serapan, ragam percakapan, dan sebagainya.
Tradisi tata bahasa Yunani-Latin berpengaruh ke bahasa-bahasa Eropa lainnya. Tata bahasa Dionysius Thrax pada abad 5 diterjemahkan ke dalam bahasa Armenia, kemudian ke dalam bahasa Siria. Selanjutnya para ahli tata bahasa Arab menyerap tata bahasa Siria.
Selain di Eropa dan Asia Barat, penelitian bahasa di Asia Selatan yang perlu diketahui adalah di India dengan ahli gramatikanya yang bemama Panini (abad 4 SM). Tata bahasa Sanskrit yang disusun ahli ini memiliki kelebihan di bidang fonetik. Keunggulan ini antara lain karena adanya keharusan untuk melafalkan dengan benar dan tepat doa dan nyanyian dalam kitab suci Weda.
Sampai menjelang zaman Renaisans, bahasa yang diteliti adalah bahasa Yunani, dan Latin. Bahasa Latin mempunyai peran penting pada masa itu karena digunakan sebagai sarana dalam dunia pendidikan, administrasi dan diplomasi internasional di Eropa Barat. Pada zaman Renaisans penelitian bahasa mulai berkembang ke bahasa-bahasa Roman (bahasa Prancis, Spanyol, dan Italia) yang dianggap berindukkan bahasa Latin, juga kepada bahasa-bahasa yang nonRoman seperti bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Swedia, dan Denmark.
2. 2 Linguistik Modern
2. 2. 1 Linguistik Abad 19
Pada abad 19 bahasa Latin sudah tidak digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam pemerintahan atau pendidikan. Objek penelitian adalah bahasa-bahasa yang dianggap mempunyai hubungan kekerabatan atau berasal dari satu induk bahasa. Bahasa-bahasa dikelompokkan ke dalam keluarga bahasa atas dasar kemiripan fonologis dan morfologis. Dengan demikian dapat diperkirakan apakah bahasa-bahasa tertentu berasal dari bahasa moyang yang sama atau berasal dari bahasa proto yang sama sehingga secara genetis terdapat hubungan kekerabatan di antaranya. Bahasa-bahasa Roman, misalnya secara genetis dapat ditelusuri berasal dari bahasa Latin yang menurunkan bahasa Perancis, Spanyol, dan Italia.
Untuk mengetahui hubungan genetis di antara bahasa-bahasa dilakukan metode komparatif. Antara tahun 1820-1870 para ahli linguistik berhasil membangun hubungan sistematis di antara bahasa-bahasa Roman berdasarkan struktur fonologis dan morfologisnya. Pada tahun 1870 itu para ahli bahasa dari kelompok Junggramatiker atau Neogrammarian berhasil menemukan cara untuk mengetahui hubungan kekerabatan antarbahasa berdasarkan metode komparatif.
Beberapa rumpun bahasa yang berhasil direkonstruksikan sampai dewasa ini antara lain:
1. Rumpun Indo-Eropa: bahasa Jerman, Indo-Iran, Armenia, Baltik, Slavis, Roman, Keltik, Gaulis.
2. Rumpun Semito-Hamit: bahasa Arab, Ibrani, Etiopia.
3. Rumpun Chari-Nil; bahasa Bantu, Khoisan.
4. Rumpun Dravida: bahasa Telugu, Tamil, Kanari, Malayalam.
5. Rumpun Austronesia atau Melayu-Polinesia: bahasa Melayu, Melanesia, Polinesia.
6. Rumpun Austro-Asiatik: bahasa Mon-Khmer, Palaung, Munda, Annam.
7. Rumpun Finno-Ugris: bahasa Ungar (Magyar), Samoyid.
8. Rumpun Altai: bahasa Turki, Mongol, Manchu, Jepang, Korea.
9. Rumpun Paleo-Asiatis: bahasa-bahasa di Siberia.
10. Rumpun Sino-Tibet: bahasa Cina, Thai, Tibeto-Burma.
11. Rumpun Kaukasus: bahasa Kaukasus Utara, Kaukasus Selatan.
12. Bahasa-bahasa Indian: bahasa Eskimo, Maya Sioux, Hokan
13. Bahasa-bahasa lain seperti bahasa di Papua, Australia dan Kadai.
Ciri linguistik abad 19 sebagai berikut:
1) Penelitian bahasa dilakukan terhadap bahasa-bahasa di Eropa, baik bahasa-bahasa Roman maupun nonRoman.
2) Bidang utama penelitian adalah linguistik historis komparatif. Yang diteliti adalah hubungan kekerabatan dari bahasa-bahasa di Eropa untuk mengetahui bahasa-bahasa mana yang berasal dari induk yang sama. Dalam metode komparatif itu diteliti perubahan bunyi kata-kata dari bahasa yang dianggap sebagai induk kepada bahasa yang dianggap sebagai keturunannya. Misalnya perubahan bunyi apa yang terjadi dari kata barang, yang dalam bahasa Latin berbunyi causa menjadi chose dalam bahasa Perancis, dan cosa dalam bahasa Italia dan Spanyol.
3) Pendekatan bersifat atomistis. Unsur bahasa yang diteliti tidak dihubungkan dengan unsur lainnya, misalnya penelitian tentang kata tidak dihubungkan dengan frase atau kalimat.
2. 2. 2 Linguistik Abad 20
Pada abad 20 penelitian bahasa tidak ditujukan kepada bahasa-bahasa Eropa saja, tetapi juga kepada bahasa-bahasa yang ada di dunia seperti di Amerika (bahasa-bahasa Indian), Afrika (bahasa-bahasa Afrika) dan Asia (bahasa-bahasa Papua dan bahasa banyak negara di Asia). Ciri-cirinya:
1) Penelitian meluas ke bahasa-bahasa di Amerika, Afrika, dan Asia.
2) Pendekatan dalam meneliti bersifat strukturalistis, pada akhir abad 20 penelitian yang bersifat fungsionalis juga cukup menonjol.
3) Tata bahasa merupakan bagian ilmu dengan pembidangan yang semakin rumit. Secara garis besar dapat dibedakan atas mikrolinguistik, makro linguistik, dan sejarah linguistik.
4) Penelitian teoretis sangat berkembang.
5) Otonomi ilmiah makin menonjol, tetapi penelitian antardisiplin juga berkembang.
6) Prinsip dalam meneliti adalah deskripsi dan sinkronis
Keberhasilan kaum Junggramatiker merekonstruksi bahasa-bahasa proto di Eropa mempengaruhi pemikiran para ahli linguistik abad 20, antara lain Ferdinand de Saussure. Sarjana ini tidak hanya dikenal sebagai bapak linguistik modern, melainkan juga seorang tokoh gerakan strukturalisme. Dalam strukturalisme bahasa dianggap sebagai sistem yang berkaitan (system of relation). Elemen-elemennya seperti kata, bunyi saling berkaitan dan bergantung dalam membentuk sistem tersebut.
Beberapa pokok pemikiran Saussure:
(1) Bahasa lisan lebih utama dari pada bahasa tulis. Tulisan hanya merupakan sarana yang mewakili ujaran.
(2) Linguistik bersifat deskriptif, bukan preskriptif seperti pada tata bahasa tradisional. Para ahli linguistik bertugas mendeskripsikan bagaimana orang berbicara dan menulis dalam bahasanya, bukan memberi keputusan bagaimana seseorang seharusnya berbicara.
(3) Penelitian bersifat sinkronis bukan diakronis seperti pada linguistik abad 19. Walaupun bahasa berkembang dan berubah, penelitian dilakukan pada kurun waktu tertentu.
(4) Bahasa merupakan suatu sistem tanda yang bersisi dua, terdiri dari signifiant (penanda) dan signifie (petanda). Keduanya merupakan wujud yang tak terpisahkan, bila salah satu berubah, yang lain juga berubah.
(5) Bahasa formal maupun nonformal menjadi objek penelitian.
(6) Bahasa merupakan sebuah sistem relasi dan mempunyai struktur.
(7) Dibedakan antara bahasa sebagai sistem yang terdapat dalam akal budi pemakai bahasa dari suatu kelompok sosial (langue) dengan bahasa sebagai manifestasi setiap penuturnya (parole).
(8) Dibedakan antara hubungan asosiatif dan sintagmatis dalam bahasa. Hubungan asosiatif atau paradigmatis ialah hubungan antarsatuan bahasa dengan satuan lain karena ada kesamaan bentuk atau makna. Hubungan sintagmatis ialah hubungan antarsatuan pembentuk sintagma dengan mempertentangkan suatu satuan dengan satuan lain yang mengikuti atau mendahului.
Gerakan strukturalisme dari Eropa ini berpengaruh sampai ke benua Amerika. Studi bahasa di Amerika pada abad 19 dipengaruhi oleh hasil kerja akademis para ahli Eropa dengan nama deskriptivisme. Para ahli linguistik Amerika mempelajari bahasa-bahasa suku Indian secara deskriptif dengan cara menguraikan struktur bahasa. Orang Amerika banyak yang menaruh perhatian pada masalah bahasa. Thomas Jefferson, presiden Amerika yang ketiga (1801-1809), menganjurkan agar supaya para ahli linguistik Amerika mulai meneliti bahasa-bahasa orang Indian. Seorang ahli linguistik Amerika bemama William Dwight Whitney (1827-1894) menulis sejumlah buku mengenai bahasa, antara lain Language and the Study of Language (1867).
Tokoh linguistik lain yang juga ahli antropologi adalah Franz Boas (1858-1942). Sarjana ini mendapat pendidikan di Jerman, tetapi menghabiskan waktu mengajar di negaranya sendiri. Karyanya berupa buku Handbook of American Indian languages (1911-1922) ditulis bersama sejumlah koleganya. Di dalam buku tersebut terdapat uraian tentang fonetik, kategori makna dan proses gramatikal yang digunakan untuk mengungkapkan makna. Pada tahun 1917 diterbitkan jurnal ilmiah berjudul International Journal of American Linguistics.
Pengikut Boas yang berpendidikan Amerika, Edward Sapir (1884-1939), juga seorang ahli antropologi dinilai menghasilkan karya-karya yang sangat cemerlang di bidang fonologi. Bukunya, Language (1921) sebagian besar mengenai tipologi bahasa. Sumbangan Sapir yang patut dicatat adalah mengenai klasifikasi bahasa-bahasa Indian.
Pemikiran Sapir berpengaruh pada pengikutnya, L. Bloomfield (1887-1949), yang melalui kuliah dan karyanya mendominasi dunia linguistik sampai akhir hayatnya. Pada tahun 1914 Bloomfield menulis buku An Introduction to Linguistic Science. Artikelnya juga banyak diterbitkan dalam jurnal Language yang didirikan oleh Linguistic Society of America tahun 1924. Pada tahun 1933 sarjana ini menerbitkankan buku Language yang mengungkapkan pandangan behaviorismenya tentang fakta bahasa, yakni stimulus-response atau rangsangan-tanggapan. Teori ini dimanfaatkan oleh Skinner (1957) dari Universitas Harvard dalam pengajaran bahasa melalui teknik drill.
Dalam bukunya Language, Bloomfield mempunyai pendapat yang bertentangan dengan Sapir. Sapir berpendapat fonem sebagai satuan psikologis, tetapi Bloomfield berpendapat fonem merupakan satuan behavioral. Bloomfield dan pengikutnya melakukan penelitian atas dasar struktur bahasa yang diteliti, karena itu mereka disebut kaum strukturalisme dan pandangannya disebut strukturalis.
Bloomfield beserta pengikutnya menguasai percaturan linguistik selama lebih dari 20 tahun. Selama kurun waktu itu kaum Bloomfieldian berusaha menulis tata bahasa deskriptif dari bahasa-bahasa yang belum memiliki aksara. Kaum Bloomfieldian telah berjasa meletakkan dasar-dasar bagi penelitian linguistik di masa setelah itu.
Bloomfield berpendapat fonologi, morfologi dan sintaksis merupakan bidang mandiri dan tidak berhubungan. Tata bahasa lain yang memperlakukan bahasa sebagai sistem hubungan adalah tata bahasa stratifikasi yang dipelopori oleh S.M. Lamb. Tata bahasa lainnya yang memperlakukan bahasa sebagai sistem unsur adalah tata bahasa tagmemik yang dipelopori oleh K. Pike. Menurut pendekatan ini setiap gatra diisi oleh sebuah elemen. Elemen ini bersama elemen lain membentuk suatu satuan yang disebut tagmem.
Murid Sapir lainnya, Zellig Harris, mengaplikasikan metode strukturalis ke dalam analisis segmen bahasa. Sarjana ini mencoba menghubungkan struktur morfologis, sintaktis, dan wacana dengan cara yang sama dengan yang dilakukan terhadap analisis fonologis. Prosedur penelitiannya dipaparkan dalam bukunya Methods in Structural Linguistics (1951).
Ahli linguistik yang cukup produktif dalam membuat buku adalah Noam Chomsky. Sarjana inilah yang mencetuskan teori transformasi melalui bukunya Syntactic Structures (1957), yang kemudian disebut classical theory. Dalam perkembangan selanjutnya, teori transformasi dengan pokok pikiran kemampuan dan kinerja yang dicetuskannya melalui Aspects of the Theory of Syntax (1965) disebut standard theory. Karena pendekatan teori ini secara sintaktis tanpa menyinggung makna (semantik), teori ini disebut juga sintaksis generatif (generative syntax). Pada tahun 1968 sarjana ini mencetuskan teori extended standard theory. Selanjutnya pada tahun 1970, Chomsky menulis buku generative semantics; tahun 1980 government and binding theory; dan tahun 1993 Minimalist program.
III. Paradigma
Kata paradigma diperkenalkan oleh Thomas Khun pada sekitar abad 15. Paradigma adalah prestasi ilmiah yang diakui pada suatu masa sebagai model untuk memecahkan masalah ilmiah dalam kalangan tertentu. Paradigma dapat dikatakan sebagai norma ilmiah. Contoh paradigma yang mulai tumbuh sejak zaman Yunani tetapi pengaruhnya tetap terasa sampai zaman modern ini adalah paradigma Plato dan paradigma Aristoteles. Paradigma Plato berintikan pendapat Plato bahwa bahasa adalah physei atau mirip dengan realitas, disebut juga non-arbitrer atau ikonis. Paradigma Aristoteles berintikan bahwa bahasa adalah thesei atau tidak mirip dengan realitas, kecuali onomatope, disebut arbitrer atau non-ikonis. Kedua paradigma ini saling bertentangan, tetapi dipakai oleh peneliti dalam memecahkan masalah bahasa, misalnya tentang hakikat tanda bahasa.
Pada masa tertentu paradigma Plato banyak digunakan ahli bahasa untuk memecahkan masalah linguistik. Penganut paradigma Plato ini disebut kaum naturalis. Mereka menolak gagasan kearbitreran. Pada masa tertentu lainnya paradigma Aristoteles digunakan mengatasi masalah linguistik. Penganut paradigma Aristoteles disebut kaum konvensionalis. Mereka menerima adanya kearbiteran antara bahasa dengan realitas.
Pertentangan antara kedua paradigma ini terus berlangsung sampai abad 20. Di bidang linguistik dan semiotika dikenal tokoh Ferdinand de Saussure sebagai penganut paradigma .Aristoteles dan Charles S. Peirce sebagai penganut paradigma Plato. Mulai dari awal abad 19 sampai tahun 1960-an paradigma Aristoteles yang diikuti Saussure yang berpendapat bahwa bahasa adalah sistem tanda yang arbitrer digunakan dalam memecahkan masalah-masalah linguistik. Tercatat beberapa nama ahli linguistik seperti Bloomfield dan Chomsky yang dalam pemikirannya menunjukkan pengaruh Saussure dan paradigma Aristoteles. Menjelang pertengahan tahun 60-an dominasi paradigma Aristoteles mulai digoyahkan oleh paradigma Plato melalui artikel R. Jakobson "Quest for the Essence of Language" (1967) yang diilhami oleh Peirce. Beberapa nama ahli linguistik seperti T. Givon, J. Haiman, dan W. Croft tercatat sebagai penganut paradigma Plato.
IV. Cakupan dan Kemaknawian Ilmu Bahasa
Secara umum, bidang ilmu bahasa dibedakan atas linguistik murni dan linguistik terapan. Bidang linguistik murni mencakup fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Sedangkan bidang linguistik terapan mencakup pengajaran bahasa, penerjemahan, leksikografi, dan lain-lain. Beberapa bidang tersebut dijelaskan dalam sub-bab berikut ini.
4. 1 Fonetik
Fonetik mengacu pada artikulasi bunyi bahasa. Para ahli fonetik telah berhasil menentukan cara artikulasi dari berbagai bunyi bahasa dan membuat abjad fonetik internasional sehingga memudahkan seseorang untuk mempelajari dan mengucapkan bunyi yang tidak ada dalam bahasa ibunya. Misalnya dalam bahasa Inggris ada perbedaan yang nyata antara bunyi tin dan thin, dan antara they dan day, sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak. Dengan mempelajari fonetik, orang Indonesia akan dapat mengucapkan kedua bunyi tersebut dengan tepat.
Abjad fonetik internasional, yang didukung oleh laboratorium fonetik, departemen linguistik, UCLA, penting dipelajari oleh semua pemimpin, khususnya pemimpin negara. Dengan kemampuan membaca abjad fonetik secara tepat, seseorang dapat memberikan pidato dalam ratusan bahasa. Misalnya, jika seorang pemimpin di Indonesia mengadakan kunjungan ke Cina, ia cukup meminta staf-nya untuk menerjemahkan pidatonya ke bahasa Cina dan menulisnya dengan abjad fonetik, sehingga ia dapat memberikan pidato dalam bahasa Cina dengan ucapan yang tepat. Salah seorang pemimpin yang telah memanfaatkan abjad fonetik internasional adalah Paus Yohanes Paulus II. Ke negara manapun beliau berkunjung, beliau selalu memberikan khotbah dengan menggunakan bahasa setempat. Apakah hal tersebut berarti bahwa beliau memahami semua bahasa di dunia? Belum tentu, namun cukup belajar fonetik saja untuk mampu mengucapkan bunyi ratusan bahasa dengan tepat.
4. 2 Fonologi
Fonologi mengacu pada sistem bunyi bahasa. Misalnya dalam bahasa Inggris, ada gugus konsonan yang secara alami sulit diucapkan oleh penutur asli bahasa Inggris karena tidak sesuai dengan sistem fonologis bahasa Inggris, namun gugus konsonan tersebut mungkin dapat dengan mudah diucapkan oleh penutur asli bahasa lain yang sistem fonologisnya terdapat gugus konsonan tersebut. Contoh sederhana adalah pengucapan gugus ‘ng’ pada awal kata, hanya berterima dalam sistem fonologis bahasa Indonesia, namun tidak berterima dalam sistem fonologis bahasa Inggris. Kemaknawian utama dari pengetahuan akan sistem fonologi ini adalah dalam pemberian nama untuk suatu produk, khususnya yang akan dipasarkan di dunia internasional. Nama produk tersebut tentunya akan lebih baik jika disesuaikan dengan sistem fonologis bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional.
4. 3 Morfologi
Morfologi lebih banyak mengacu pada analisis unsur-unsur pembentuk kata. Sebagai perbandingan sederhana, seorang ahli farmasi (atau kimia?) perlu memahami zat apa yang dapat bercampur dengan suatu zat tertentu untuk menghasilkan obat flu yang efektif; sama halnya seorang ahli linguistik bahasa Inggris perlu memahami imbuhan apa yang dapat direkatkan dengan suatu kata tertentu untuk menghasilkan kata yang benar. Misalnya akhiran -¬en dapat direkatkan dengan kata sifat dark untuk membentuk kata kerja darken, namun akhiran -¬en tidak dapat direkatkan dengan kata sifat green untuk membentuk kata kerja. Alasannya tentu hanya dapat dijelaskan oleh ahli bahasa, sedangkan pengguna bahasa boleh saja langsung menggunakan kata tersebut. Sama halnya, alasan ketentuan pencampuran zat-zat kimia hanya diketahui oleh ahli farmasi, sedangkan pengguna obat boleh saja langsung menggunakan obat flu tersebut, tanpa harus mengetahui proses pembuatannya.
4. 4 Sintaksis
Analisis sintaksis mengacu pada analisis frasa dan kalimat. Salah satu kemaknawiannya adalah perannya dalam perumusan peraturan perundang-undangan. Beberapa teori analisis sintaksis dapat menunjukkan apakah suatu kalimat atau frasa dalam suatu peraturan perundang-undangan bersifat ambigu (bermakna ganda) atau tidak. Jika bermakna ganda, tentunya perlu ada penyesuaian tertentu sehingga peraturan perundang-undangan tersebut tidak disalahartikan baik secara sengaja maupun tidak sengaja.
4. 5 Semantik
Kajian semantik membahas mengenai makna bahasa. Analisis makna dalam hal ini mulai dari suku kata sampai kalimat. Analisis semantik mampu menunjukkan bahwa dalam bahasa Inggris, setiap kata yang memiliki suku kata ‘pl’ memiliki arti sesuatu yang datar sehingga tidak cocok untuk nama produk/benda yang cekung. Ahli semantik juga dapat membuktikan suku kata apa yang cenderung memiliki makna yang negatif, sehingga suku kata tersebut seharusnya tidak digunakan sebagai nama produk asuransi. Sama halnya dengan seorang dokter yang mengetahui antibiotik apa saja yang sesuai untuk seorang pasien dan mana yang tidak sesuai.
4. 6 Pengajaran Bahasa
Ahli bahasa adalah guru dan/atau pelatih bagi para guru bahasa. Ahli bahasa dapat menentukan secara ilmiah kata-kata apa saja yang perlu diajarkan bagi pelajar bahasa tingkat dasar. Para pelajar hanya langsung mempelajari kata-kata tersebut tanpa harus mengetahui bagaimana kata-kata tersebut disusun. Misalnya kata-kata dalam buku-buku Basic English. Para pelajar (dan guru bahasa Inggris dasar) tidak harus mengetahui bahwa yang dimaksud Basic adalah B(ritish), A(merican), S(cientific), I(nternational), C(ommercial), yang pada awalnya diolah pada tahun 1930an oleh ahli linguistik C. K. Ogden. Pada masa awal tersebut, Basic English terdiri atas 850 kata utama.
Selanjutnya, pada tahun 1953, Michael West menyusun General Service List yang berisikan dua kelompok kata utama (masing-masing terdiri atas 1000 kata) yang diperlukan oleh pelajar untuk dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Daftar tersebut terus dikembangkan oleh berbagai universitas ternama yang memiliki jurusan linguistik. Pada tahun 1998, Coxhead dari Victoria University or Wellington, berhasil menyelesaikan suatu proyek kosakata akademik yang dilakukan di semua fakultas di universitas tersebut dan menghasilkan Academic Wordlist, yaitu daftar kata-kata yang wajib diketahui oleh mahasiswa dalam membaca buku teks berbahasa Inggris, menulis laporan dalam bahasa Inggris, dan tujuannya lainnya yang bersifat akademik.
Proses penelitian hingga menjadi materi pelajaran atau buku bahasa Inggris yang bermanfaat hanya diketahui oleh ahli bahasa yang terkait, sedangkan pelajar bahasa dapat langung mempelajari dan memperoleh manfaatnya. Sama halnya dalam ilmu kedokteran, proses penelitian hingga menjadi obat yang bermanfaat hanya diketahui oleh dokter, sedangkan pasien dapat langsung menggunakannya dan memperoleh manfaatnya.
4. 7 Leksikografi
Leksikografi adalah bidang ilmu bahasa yang mengkaji cara pembuatan kamus. Sebagian besar (atau bahkan semua) sarjana memiliki kamus, namun mereka belum tentu tahu bahwa penulisan kamus yang baik harus melalui berbagai proses.
Dua nama besar yang mengawali penyusunan kamus adalah Samuel Johnson (1709-1784) dan Noah Webster (1758-1843). Johnson, ahli bahasa dari Inggris, membuat Dictionary of the English Language pada tahun 1755, yang terdiri atas dua volume. Di Amerika, Webster pertama kali membuat kamus An American Dictionary of the English Language pada tahun 1828, yang juga terdiri atas dua volume. Selanjutnya, pada tahun 1884 diterbitkan Oxford English Dictionary yang terdiri atas 12 volume.
Saat ini, kamus umum yang cukup luas digunakan adalah Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Mengapa kamus Oxford? Beberapa orang mungkin secara sederhana akan menjawab karena kamus tersebut lengkap dan cukup mudah dimengerti. Tidak banyak yang tahu bahwa (setelah tahun 1995) kamus tersebut ditulis berdasarkan hasil analisis British National Corpus yang melibatkan cukup banyak ahli bahasa dan menghabiskan dana universitas dan dana negara yang jumlahnya cukup besar. Secara umum, definisi yang diberikan dalam kamus tersebut seharusnya dapat mudah dipahami oleh pelajar karena semua entri dalam kamus tersebut hanya didefinisikan oleh sekelompok kosa kata inti. Bagaimana kosa-kata inti tersebut disusun? Tentu hanya ahli bahasa yang dapat menjelaskannya, sedangkan para sarjana dan pelajar dapat langsung saja menikmati dan menggunakan berbagai kamus Oxford yang ada dipasaran.
V. Penutup
Penelitian bahasa sudah dimulai sejak abad ke 6 SM, bahkan perpustakaan besar yang menjadi pusat penelitian bahasa dan kesusastraan sudah dibangun sejak awal abad 3 SM di kota Alexandria. Kamus bahasa Inggris, Dictionary of the English Language, yang terdiri atas dua volume, pertama kali diterbitkan pada tahun 1755; dan pada tahun 1884 telah diterbitkan Oxford English Dictionary yang terdiri atas 12 volume. Antara 1820-1870 para ahli linguistik berhasil membangun hubungan sistematis di antara bahasa-bahasa Roman berdasarkan struktur fonologis dan morfologisnya.
Salah satu buku awal yang menjelaskan mengenai ilmu bahasa adalah buku An Introduction to Linguistic Science yang ditulis oleh Bloomfield pada tahun 1914. Jurnal ilmiah internasional ilmu bahasa, yang berjudul International Journal of American Linguistics, pertama kali diterbitkan pada tahun 1917.
Ilmu bahasa terus berkembang dan semakin memainkan peran penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Hal ini dibuktikan dengan semakin majunya program pascasarjana bidang linguistik di berbagai universitas terkemuka (UCLA, MIT, Oxford, dll). Buku-buku karya ahli bahasa pun semakin mendapat perhatian. Salah satu buktinya adalah buku The Comprehensive Grammar of the English Langauge, yang terdiri atas 1778 halaman, yang acara peluncurannya di buka oleh Margareth Thatcher, pada tahun 1985. Respon yang luar biasa terhadap buku tersebut membuatnya dicetak sebanyak tiga kali dalam tahun yang sama. Buku tata bahasa yang terbaru, The Cambridge Grammar of the English Language, tahun 2002, yang terdiri atas 1842 halaman, ditulis oleh para ahli bahasa yang tergabung dalam tim peneliti internasional dari lima negara.
Pustaka Acuan
Robins, R.H. 1990. A Short History of Linguistics. London: Longman.
Fromkin, Victoria & Robert Rodman. 1998. An Introduction to Language (6th Edition). Orlando: Harcourt Brace College Publishers.
Hornby, A.S. 1995. Oxford Advanced Learner’s Dictionary (5th edition). Oxford: Oxford University Press.
Matthews, Peter. 1997. The Concise Oxford Dictionary of Linguistics. Oxford: Oxford University Press.
Rabu, 06 April 2011
Dahsyatnya Proses Sakaratul Maut
Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri". (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).
Datangnya Kematian Menurut Al Qur'an :
1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian.
Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS. Ali Imran, 3:154)
2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini.
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)".
Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS. An-Nisa 4:78)
3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar.
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS. al-Jumu'ah, 62:8)
4. Kematian datang secara tiba-tiba.
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)
5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat.
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Munafiqun, 63:11)
Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut
Sabda Rasulullah SAW : "Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang" (HR Tirmidzi)
Sabda Rasulullah SAW : "Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?" (HR Bukhari)
Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW.
Ka'b al-Ahbar berpendapat : "Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa".
Imam Ghozali berpendapat : "Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki".
Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. "Wahai manusia !", kata pria tersebut. "Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku."
Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.
Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahu a'lam bis shawab.
Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim
Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu di depan satu di belakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.
Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.
Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.
Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata):
"Keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS. Al-An'am 6:93) (Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); "Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun". (Malaikat menjawab): "Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan". Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)
Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, "Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik !" Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.
Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka".
Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, "Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka". Naudzu bila min dzalik!
Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa
Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.
Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan) kebaikan". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". (QS, An-Nahl, 16 : 30-31-32)
Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, "Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu".
Wallahu a'lam bish-shawab.
Datangnya Kematian Menurut Al Qur'an :
1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian.
Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS. Ali Imran, 3:154)
2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini.
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)".
Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS. An-Nisa 4:78)
3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar.
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS. al-Jumu'ah, 62:8)
4. Kematian datang secara tiba-tiba.
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)
5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat.
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Munafiqun, 63:11)
Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut
Sabda Rasulullah SAW : "Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang" (HR Tirmidzi)
Sabda Rasulullah SAW : "Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?" (HR Bukhari)
Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW.
Ka'b al-Ahbar berpendapat : "Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa".
Imam Ghozali berpendapat : "Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki".
Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. "Wahai manusia !", kata pria tersebut. "Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku."
Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.
Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahu a'lam bis shawab.
Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim
Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu di depan satu di belakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.
Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.
Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.
Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata):
"Keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS. Al-An'am 6:93) (Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); "Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun". (Malaikat menjawab): "Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan". Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)
Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, "Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik !" Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.
Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka".
Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, "Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka". Naudzu bila min dzalik!
Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa
Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.
Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan) kebaikan". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". (QS, An-Nahl, 16 : 30-31-32)
Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, "Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu".
Wallahu a'lam bish-shawab.
TENTANG HADITS
I. PENDAHULUAN
A. SEJARAH SINGKAT PENULISAN DAN PEMBUKUAN HADITS
Pada masa permulaan Al-Qur’an masih diturunkan, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang menulis hadits karena dikhawatirkan akan bercampur baur dengan penulisan Al-Qur’an. Pada masa itu, disamping menyuruh menulis Al-Qur’an, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga menyuruh menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an.
Pelarangan penulisan hadits ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
# “Janganlah kamu menulis sesuatu dariku, dan barangsiapa telah menulis sesuatu dariku selain Al-Qur’an hendaklah ia menghapusnya, dan ceritakan dariku, tidak ada keberatan (kamu ceritakan apa yang kamu dengar dariku). Dan barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyediakan tempat duduknya di dalam neraka.” (HR. Muslim)
Jumhur Ulama berpendapat bahwa hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang melarang penulisan hadits tersebut sudah dinasakh dengan hadits-hadits lain yang mengizinkannya antara lain hadits yang disabdakan pada ‘amulfath (tahun. VIII H) yang berbunyi: “Tulislah untuk Abu Syah”
Demikian pula dengan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada sahabat Abdullah bin Amr yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengizinkan menuliskan hadits.
Walaupun beberapa sahabat sudah ada yang menulis hadits, namun hadits masih belum dibukukan sebagaimana Al-Qur’an. Keadaan demikian ini berlangsung sampai akhir Abad I H. Umat Islam terdorong untuk membukukan hadits setelah Agama Islam tersiar di daerah-daerah yang makin luas dan para sahabat terpencar di daerah-daerah yang berjauhan bahkan banyak di antara mereka yang wafat.
Tatkala Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah (tahun 99 s/d 101 H), beliau menginstruksikan kepada para Gubernur agar menghimpun dan menulis hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Instruksi beliau mengenai penulisan hadits ini antara lain ditujukan kepada Abubakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm yang ketika itu menjabat sebagai Gubernur Madinah.
Menurut Dr. Ahmad Amin dalam kitabnya Dhuhal Islam, Abubakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm tidak lagi meneruskan penulisan hadits ini karena setelah khalifah wafat, dia tidak lagi menjabat sebagai Gubernur.
Menurut pendapat yang populer di kalangan ulama hadits, yang pertama-tama menghimpun hadits serta membukukannya adalah Ibnu Syihab Az-Zuhri, kemudian diikuti oleh ulama-ulama di kota-kota besar yang lain.
Penulisan dan pembukuan hadits Nabi ini dilanjutkan dan disempurnakan oleh ulama-ulama hadits pada abad berikutnya, sehingga menghasilkan kitab-kitab yang besar seperti kitab Al-Muwaththa’, Kutubus Sittah dan lain sebagainya.
B. PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG MENGAMALKAN HADITS DHAIF/LEMAH
Suatu hadits dikatakan dhaif apabila hadits tersebut sanadnya terputus atau ada cacat/cela pada perawinya, seperti: berbuat dusta, tersangka dusta (baik sangkaan itu dalam bidang meriwayatkan hadits atau lainnya), sering melakukan kesalahan, sering keliru, sering lengah, sering melakukan perbuatan maksiat, salah sangka, bertentangan dengan perawi yang lain yang lebih baik, jelek hafalannya, dll.
Ulama-ulama hadits telah sepakat bahwa kita tidak boleh mengamalkan hadits dhaif dalam bidang hukum/menentukan hukum sesuatu. Tetapi mereka berbeda pendapat tentang mempergunakannya dalam bidang:
1. Fadha ‘ilul A’mal (Keutamaan-Keutamaan Amal)
Yaitu hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan-keutamaan amal yang sifatnya sunnah ringan, yang sama sekali tidak terkait dengan masalah hukum yang qath’i, juga tidak terkait dengan masalah aqidah dan juga tidak terkait dengan dosa besar.
2. At-Targhiib (Memotivasi)
Yaitu hadits-hadits yang berisi pemberian semangat untuk mengerjakan suatu amal dengan janji Pahala dan Surga.
3. At-Tarhiib (Menakuti)
Yaitu hadits-hadits yang berisi ancaman Neraka dan hal-hal yang mengerikan bagi orang yang mengerjakan suatu perbuatan.
4. Kisah-kisah Tentang Para Nabi Dan Orang-Orang Sholeh
5. Do’a Dan Dzikir
Yaitu hadits-hadits yang berisi lafazh-lafazh do’a dan dzikir.
Menurut Al-Bukhari, Muslim, Abu Bakar Ibnul ‘Araby, Ibnu Hazm dan segenap pengikut Dawud Adz-Dzahiry: kita tidak boleh mengamalkan hadits dhaif dalam bidang apapun juga walaupun untuk menerangkan fadha ‘ilul a’mal, supaya orang tidak mengatas namakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, perkataan/perbuatan yang tidak disabdakan/diperbuat oleh beliau, dan supaya orang tidak mengi’tiqatkan sunnahnya sesuatu yang sebenarnya tidak dikerjakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam atau belum tentu dikerjakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, yang membawa akibat kita diancam oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke dalam neraka karena berdusta atas nama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau:
# “Barangsiapa menceritakan sesuatu hal daripadaku, padahal ia tahu bahwa hadits itu bukanlah dariku, maka orang itu termasuk golongan pendusta.” (HR. Muslim)
# “Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyediakan tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikh Abu Syammah berpendapat bahwa seseorang tidak boleh menyebutkan suatu hadits dhaif melainkan ia wajib menerangkan kelemahannya. [Lihat al-Baits ‘ala Inkari Bida’ wal Hawadits (hal. 54) dan Tamaamul Minnah fiit Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah hal. 32-33.]
Sedangkan menurut imam An-Nawawi dan sebagian ulama hadits dan para fuqaha: kita boleh mempergunakan hadits yang dhaif untuk fadha ‘ilul a’mal, baik untuk yang bersifat targhib maupun yang bersifat tarhib, yaitu sepanjang hadits tersebut belum sampai ke derajat maudhu (palsu). Imam An-Nawawi memperingatkan bahwa diperbolehkannya hal tersebut bukan untuk menetapkan hukum, melainkan hanya untuk menerangkan keutamaan amal, yang hukumnya telah ditetapkan oleh hadits shahih, setidak-tidaknya hadits hasan.
Menurut Imam Asy-Syarkhawi dalam kitab Al-Qaulul Badi’, bahwa Ibnu Hajar memperbolehkan untuk mengamalkan hadits dhaif dalam bidang targhib dan tarhib dengan tiga syarat berikut:
1. Kedhaifan hadits tersebut tidaklah seberapa, yaitu: hadits itu tidak diriwayatkan oleh orang-orang yang dusta, atau yang tertuduh dusta atau yang sering keliru dalam meriwayatkan hadits.
2. Keutamaan perbuatan yang terkandung dalam hadits dhaif tersebut sudah termasuk dalam dalil yang lain (baik Al-Qur’an maupun hadits shahih) yang bersifat umum, sehingga perbuatan itu tidak termasuk perbuatan yang sama sekali tidak mempunyai asal/dasar.
3. Tatkala kita mengamalkan hadits dhaif tersebut, janganlah kita mengi’tiqadkan bahwa perbuatan itu telah diperbuat oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam atau pernah disabdakan beliau, yaitu agar kita tidak mengatas namakan sesuatu pekerjaan yang tidak diperbuat atau disabdakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Syarat yang kedua dan ketiga tersebut di atas sangat ditekankan dan ditegaskan oleh Ibnu Salam, sedangkan syarat yang pertama disetujui oleh semua ulama.
Imam Ahmad berkata: “Hadits dhaif itu lebih baik dari qiyas.” Yang dimaksud oleh Imam Ahmad dengan hadits dhaif tersebut adalah hadits yang setingkat dengan hadits hasan, karena pada masa Imam Ahmad belum ada pembagian hadits menjadi tiga kelompok, yaitu shahih, hasan dan dhaif. Yang ada baru pembagian hadits atas dua kelompok, yaitu shahih dan dhaif saja.
Pembagian hadits dari dua kelompok saja (hadits shahih dan hadits dhaif) menjadi tiga kelompok (hadits shahih, hadits hasan dan hadits dhaif) dilakukan oleh Imam At-Tirmidzi dan kemudian diikuti oleh ulama-ulama berikutnya, dimana hadits dhaif yang tidak seberapa kelemahannya dikelompokkan sebagai hadits hasan.
C. PERNYATAAN PARA IMAM MADZHAB UNTUK MENGIKUTI SUNNAH DAN MENINGGALKAN YANG MENYALAHI SUNNAH
1. Imam Abu Hanifah rahimahullah (Imam Hanafi)
Imam madzhab yang pertama adalah Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. Para muridnya telah meriwayatkan berbagai macam perkataan dan pernyataan beliau yang seluruhnya mengandung satu tujuan, yaitu kewajiban berpegang teguh pada Hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan meninggalkan sikap taqlid/membeo pendapat-pendapat para imam bila bertentangan dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ucapan beliau:
# “Jika suatu Hadits shahih, itulah madzhabku.”
[Ibnu Abidin dalam Kitab Al-Hasyiah 1/63 dan Kitab Rasmul Mufti 1/4 dari kumpulan tulisan Ibnu Abidin. Juga oleh Syaikh Shalih Al-Filani dalam Kitab Iqazhu Al-Humam hlm. 62 dan lain-lain. Ibnu Abidin menukil dari Syarah Al-Hidayah, karya Ibnu Syahnah Al-Kabir, seorang guru Ibnul Humam, yang berbunyi:
“Bila suatu Hadits shahih sedangkan isinya bertentangan dengan madzhab kita, yang diamalkan adalah Hadits. Hal ini merupakan madzhab beliau dan tidak boleh seorang muqallid menyalahi Hadits shahih dengan alasan dia sebagai pengikut Hanafi, sebab secara sah disebutkan dari Imam Abu Hanifah bahwa beliau berpesan: “Jika suatu Hadits shahih, itulah madzhabku.” Begitu juga Imam Ibnu Abdul Barr meriwayatkan dari Abu Hanifah dan para imam lain pesan semacam itu]
# “Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya.”
[Ibnu ‘Abdul Barr dalam Kitab Al-Intiqa fi Dadhail Ats-Tsalasah Al-Aimmah Al Fuqaha hlm. 145, Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqqi’in II/309, Ibnu ‘Abidin dalam Hasyiyah Al-Bahri Ar-Raiq VI/293, dan Rasmu Al-Mufti hlm. 29 dan 32, Sya’rani dalam Al-Mizan I/55 dengan riwayat kedua, sedang riwayat ketiga diriwayatkan Abbas Ad-Darawi dalam At-Tarikh, karya Ibnu Ma’in VI/77/1 dengan sanad shahih dari Zufar. Semakna dengan itu diriwayatkan dari beberapa orang sahabatnya, yaitu: Zufar, Abu Yusuf, dan Afiyah bin Yazid, seperti termaktub dalam Al-Iqazh hlm. 52. Ibnul Qayyim menegaskan shahihnya riwayat ini dari Abu Yusuf II/344 dan memberi keterangan tambahan dalam Ta’liqnya terhadap Kitab Al-Iqazh hlm. 65, dikutip dari Ibnu ‘Abdul Barr, Ibnul Qayyim dan lain-lain]
# “Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tinggalkanlah pendapatku itu.”
[Al-Filani dalam Kitab Al-Iqazh hlm. 50, menisbatkan kepada Imam Muhammad juga, kemudian ujarnya:
“Hal semacam ini dan lain-lainnya yang serupa bukanlah merupakan sifat mujtahid, sebab dia tidak mendasarkan hal itu pada pendapat mereka, bahkan hal semacam ini merupakan sifat muqallid.”]
2. Imam Malik bin Anas (Imam Maliki)
Imam Malik bin Anas menyatakan:
# “Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, ambillah; dan bila tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah.”
[Ibnu ‘Abdul Barr dan dari dia juga Ibnu Hazm dalam Kitabnya Ushul Al-Ahkam VI/149, begitu pula Al-Fulani hlm. 72]
# “Siapa pun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima, kecuali hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri.”
[Di kalangan ulama mutaakhir hal ini populer dinisbatkan kepada Imam Malik dan dinyatakan shahihnya oleh Ibnu ‘Abdul Hadi dalam Kitabnya Irsyad As-Salik I/127. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abdul Barr dalam Kitab Al-Jami’ II/291, Ibnu Hazm dalam Kitab Ushul Al-Ahkam VI/145, 179, dari ucapan Hakam bin Utaibah dan Mujahid. Taqiyuddin Subuki menyebutkannya dalam Kitab Al-Fatawa I/148 dari ucapan Ibnu ‘Abbas. Karena ia merasa takjub atas kebaikan pernyataan itu, ia berkata:
“Ucapan ini diambil oleh Mujahid dari Ibnu ‘Abbas, kemudian Malik mengambil ucapan kedua orang itu, lalu orang-orang mengenalnya sebagai ucapan beliau sendiri.”]
# “Ibnu Wahhab berkata: “Saya pernah mendengar Malik menjawab pertanyaan orang tentang menyela-nyela jari-jari kaki di dalam wudhu, jawabnya: ‘Hal itu bukan urusan manusia.’” Ibnu Wahhab berkata: “Lalu saya tinggalkan beliau sampai orang-orang yang mengelilinginya tinggal sedikit, kemudian saya berkata kepadanya: ‘Kita mempunyai Hadits mengenai hal tersebut.’ Dia bertanya: ‘Bagaimana Hadits itu?’ Saya jawab: ‘Laits bin Sa’ad, Ibnu Lahi’ah, ‘Amr bin Harits, meriwayatkan kepada kami dan Yazid bin ‘Amr Al-Mu’afiri, dari Abi ‘Abdurrahman Al-Habali, dari Mustaurid bin Syaddad Al-Qurasyiyyi, ujarnya: Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggosokkan jari manisnya pada celah-celah jari-jari kakinya.’ Malik menyahut: ‘Hadits ini hasan, saya tidak mendengar ini sama sekali, kecuali kali ini.’ Kemudian di lain waktu saya mendengar dia ditanya orang tentang hal yang sama, lalu beliau menyuruh orang itu menyela-nyela jari-jari kakinya.”
[Muqaddimah Kitab Al-Jarh Wa At-Ta’dil, karya Ibnu Abi Hatim, hlm. 31-32 dan diriwayatkan secara lengkap oleh Baihaqi dalam Sunan-nya I/81]
3. Imam Syafi’i
Riwayat-riwayat yang dinukil orang dari Imam Syafi'i dalam masalah ini lebih banyak dan lebih bagus [Ibnu Hazm berkata dalam kitabnya VI/118:
"Para ahli fiqh yang ditaqlidi telah menganggap batal taqlid itu sendiri. Mereka melarang para pengikutnya untuk taqlid kepada mereka. Orang yang paling keras dalam melarang taqlid ini adalah Imam Syafi'i. Beliau dengan keras menegaskan agar orang mengikuti Hadits-Hadits yang shahih dan berpegang pada ketetapan-ketetapan yang digariskan dalam hujjah selama tidak ada orang lain yang menyampaikan hujjah yang lebih kuat serta beliau sepenuhnya berlepas diri dari orang-orang yang taqlid kepadanya dan dengan terang-terangan mengumumkan hal ini. Semoga Allah memberi manfaat kepada beliau dan memperbanyak pahalanya. Sungguh pernyataan beliau menjadi sebab mendapatkan kebaikan yang banyak."] dan pengikutnya lebih banyak yang melaksanakan pesannya dan lebih beruntung.
Beliau berpesan antara lain.
# "Setiap orang harus bermadzhab kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan mengikutinya. Apa pun pendapat yang aku katakan atau sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tetapi ternyata berlawanan dengan pendapatku, apa yang disabdakan oleh Rasulullah itulah yang menjadi pendapatku."
[HR. Hakim dengan sanad bersambung kepada Imam Syafi'i seperti tersebut dalam kitab Tarikh Damsyiq, karya Ibnu 'Asakir XV/1/3, I'lam Al-Muwaqqi'in II/363-364, Al-Iqazh hlm. 100]
# "Seluruh kaum muslim telah sepakat bahwa orang yang secara jelas telah mengetahui suatu Hadits dari Rasulullah tidak halal meninggalkannya guna mengikuti pendapat seseorang"
[Ibnul Qayyim II/361, dan Al-Filani hlm. 68]
# "Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan Hadits Rasulullah, peganglah Hadits Rasulullah itu dan tinggalkanlah pendapatku itu"
[Harawi dalam kitab Dzamm Al-Kalam III/47/1, Al-Khathib dalam Ihtijaj Bi Asy-Syafi'i VIII/2, Ibnu Asakir XV/9/1, Nawawi dalam Al-Majmu' I/63, Ibnul Qayyim II/361, Al-Filani hlm. 100 dan riwayat lain oleh Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah IX/107 dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya III/284, Al-Ihsan dengan sanad yang shahih dari beliau, riwayat semakna]
# "Bila suatu Hadits shahih, itulah madzhabku"
[Nawawi, dalam Al-Majmu', Sya'rani I/57 dan ia nisbatkan kepada Hakim dan Baihaqi, Filani hlm. 107. Sya'rani berkata:
"Ibnu Hazm menyatakan Haditst ini shahih menurut penilaiannya dan penilaian imam-imam yang lain."]
# "Kalian lebih tahu tentang Hadits dan para rawinya daripada aku. Apabila suatu Hadits itu shahih, beritahukanlah kepadaku biar di mana pun orangnya, apakah di Kuffah, Bashrah, atau Syam, sampai aku pergi menemuinya."
[Ucapan ini ditujukan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab Adabu Asy-Syafi'i hlm. 94-95, Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah IX/106, Al-Khatib dalam Al-Ihtijaj VIII/1, diriwayatkan pula oleh Ibnu 'Asakir dari beliau XV/9/1, Ibnu 'Abdil Barr dalam Intiqa hlm. 75, Ibnu Jauzi dalam Manaqib Imam Ahmad hlm. 499, Al-Harawi II/47/2 dengan tiga sanad, dari ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dari bapaknya, bahwa Imam Syafi'i pernah berkata kepadanya: "..... Hal ini shahih dari beliau. Oleh karena itu, Ibnu Qayyim menegaskan penisbatannya kepada Imam Ahmad dalam Al-I'lam II/325 dan Fulani dalam Al-Iqazh hlm. 152." Selanjutnya, beliau berkata: "Baihaqi berkata: 'Oleh karena itu, Imam Syafi'i banyak mengikuti Hadits. Beliau mengambil ilmu dari ulama Hijaz, Syam, Yaman, dan Iraq'. Beliau mengambil semua Hadits yang shahih menurut penilaiannya tanpa pilih kasih dan tidak bersikap memihak kepada madzhab yang tengah digandrungi oleh penduduk negerinya, sekalipun kebenaran yang dipegangnya menyalahi orang lain. Padahal ada ulama-ulama sebelumnya yang hanya membatasi diri pada madzhab yang dikenal di negerinya tanpa mau berijtihad untuk mengetahui kebenaran pendapat yang bertentangan dengan dirinya." Semoga Allah mengampuni kami dan mereka."]
# "Bila suatu masalah ada Haditsnya yang sah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menurut kalangan ahli Hadits, tetapi pendapatku menyalahinya, pasti aku akan mencabutnya, baik selama aku hidup maupun setelah aku mati."
[Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah IX/107, Al-Harawi 47/1, Ibnul Qayyim dalam Al-I'lam II/363 dan Al-Filani hlm. 104]
# "Bila kalian mengetahui aku mengatakan suatu pendapat yang ternyata menyalahi Hadits Nabi yang shahih, ketahuilah bahwa hal itu berarti pendapatku tidak berguna."
[Ibnu Abi Hatim dalam Adabu Asy-Syafi'i hlm. 93, Abul Qasim Samarqandi dalam Al-Amali seperti pada Al-Muntaqa, karya Abu Hafs Al-Muaddib I/234, Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah IX/106, dan Ibnu Asakir 15/10/1 dengan sanad shahih]
# "Setiap perkataanku bila berlainan dengan riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Hadits Nabi lebih utama dan kalian jangan bertaqlid kepadaku."
[Ibnu Abi Hatim hlm. 93, Abu Nu'aim dan Ibnu 'Asakir 15/9/2 dengan sanad shahih]
# "Setiap Hadits yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, berarti itulah pendapatku, sekalipun kalian tidak mendengarnya sendiri dari aku."
[Ibnu Abi Hatim, hal. 93-94]
4. Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali)
Ahmad bin Hambal merupakan seorang iman yang paling banyak menghimpun Haditsts dan berpegang teguh padanya., sehingga beliau benci menjamah koitab-kitab yang memuat masalah furu’ dan ra’yu [Ibnu Jauzi dalam Al-Manaqib hlm. 192 ]
Beliau menyatakan sebagai berikut :
# “Janganlah engkau taqlid kepadaku atau kepada Malik, Syafi’i, Auza’i, dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil.”
[Al- Filani hlm. 113 dan Ibnul Qayyim dalam Al-I’lam II/302]
Pada riwayat lain disebutkan:
# “Janganlah kamu taqlid kepada siapa pun dari mereka dalam urusan agamamu. Apa yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, itulah hendaknya yang kamu ambil. Adapun tentang tabi’in, setiap orang boleh memilihnya (menolak atau menerima).” Kali lain dia berkata: “Yang dinamakan ittiba’ yaitu mengikuti apa yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, sedangkan yang datang daripara tabi’in boleh di pilih.”
[Abu Dawud dalam Masa’il Imam Ahmad hlm. 276-277].
# “Pendapat Auza’i, Malik, dan Abu Hanifah adalah ra’yu (pikiran). Bagi saya semua ra’yu sama saja, tetapi yang menjadi hujjah agama adalah yang ada pada Atsar (Hadits).”
[Ibnu Abdul Barr dalam Al-Jami’ II/149]
# “Barangsiapa yang menolak Hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dia berada di jurang kehancuran.”
[Ibnu Jauzi hlm. 142]
D. WAJIBKAH TERIKAT PADA SATU MADZHAB SAJA?
1. Pendapat Mayoritas Ulama Ushul: Tidak Wajib Berpegang Pada Satu Madzhab Saja
Mereka mengatakan bahwa sorang muslim tidak diwajibkan untuk berpegang kepada satu imam saja dalam semua masalah dan kejadian dalam kaitannya dengan hukum syariah. Tetapi bila dia ingin bertaqlid kepada hanya salah satu di antara mujtahid / madzhab itu, dibolehkan.
Menurut mereka seseorang dibenarkan untuk bermadzhab dengan madzhab tertentu seperti Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi`iyyah, Al-Hanabilah dan madzhab fiqih lainnya. Tetapi tidak berarti dia harus terpaku secara terus menerus pada pendapat dalam madzhab itu saja.
Hal ini karena memang tidak ada perintah dari Allah maupun Rasul-Nya yang mewajibkan untuk berpegang kepada satu pendapat saja dari pendapat yang telah diberikan ulama. Yang ada justru perintah untuk bertanya kepada ahli ilmu secara umum, yaitu mereka yang memang memiliki kemampuan pemahaman syariat Islam, tetapi tidak harus terpaku pada satu orang atau madzhab saja.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
# “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)
# “Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu, melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al-Anbiya`: 7)
Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu dan juga para tabi`in pun tidak terpaku pada satu pendapat saja dari ulama mereka. Mereka akan bertanya kepada siapa saja yang memang layak untuk memberi fatwa dan memiliki ilmu tentang hal tersebut.
Maka tidaklah pada tempatnya bila kita saat ini membuat kotak-kotak sendiri dan mengatakan bahwa setiap orang harus berpegang teguh pada satu pendapat saja dan tidak boleh berpindah madzhab.
Bahkan pada hakikatnya, setiap madzhab besar yang ada itupun sering berganti pendapat juga. Lihatlah bagaimana dahulu Al-Imam Asy-Syafi’i merevisi madzhab qadimnya dengan madzhab jadid.
Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang masih menggantungkan pendapat kepada masukan dari orang lain. Misalnya ungkapan paling masyhur dari mereka adalah: “Apabila suatu hadits itu shahih, maka menjadi madzhabku.” Itu berarti seorang imam bisa saja tawaqquf (belum berpendapat) atau memberikan peluang berubahnya fatwa bila terbukti ada dalil yang lebih kuat. Maka perubahan pendapat dalam madzhab itu sangat mungkin terjadi.
Bila di dalam sebuah madzhab bisa dimungkinkan terjadinya perubahan fatwa, maka hal itu juga bermakna bahwa bisa saja seorang berpindah pendapat dari satu kepada yang lainnya.
2. Pendapat Yang Mewajibkan Berpegang Pada Satu Madzhab Saja
Meski demikian, kita juga tidak mengingkari adanya pendapat sebagian dari ulama ushul yang mewajibkan seseorang untuk berpegang kepada satu madzhab saja.
Dalilnya adalah bahwa seseorang wajib mengikuti apa yang menurutnya lebih rajih atau lebih mendekati kebenaran. Dan bila seseorang sudah yakin bahwa madzhab yang dianutnya itu yang paling rajih, maka tidak boleh baginya mencari pendapat di luar madzhabnya.
Untuk argumentasi mereka ini, kita bisa menjawab bahwa tidak ada kewajiban bagi kita untuk harus selalu mengambil pendapat yang rajih. Terkadang untuk suatu kondisi darurat tertentu, kita masih dibolehkan untuk mengambil pendapat yang tidak rajih.
Dan mengenai kebolehan mengambil yang marjuh (mafdhul) dan meninggalkan yang rajih (afdhal), ada beberapa ketetapan para ulama ushul, antara lain:
# Al-Qadhi Atha’ bin Hamzah berkata,
“Seorang qadhi boleh berpindah keluar madzhabnya oleh sebab darurat.”
# As-Shahkafi dalam Nash Ad-Dur Al-Mukhtar,
“Seorang qadhi dibolehkan mengerjakan amal yang kurang masyhur dalam madzhabnya bila Sultan menetapkan hal itu.”
# Al-Mi’raj ‘An Fakhril Ummah:
“Kebolehan amal dan fatwa dengan perkataan yang dhaif dalam keadaan darurat.”
# Ad-Dasuqi al-Maliki berkata,
“Dibolehkan beramal dengan yang dhaif bagi seseorang untuk masalah dirinya atau juga dalam fatwa bila dipastikan adanya kedaruratan oleh mufti itu.”
E. PANDANGAN AL-QUR’AN DAN HADITS TENTANG PERBEDAAN PENDAPAT
1. Ketidak-Utamaan Perbedaan Pendapat
# "Janganlah kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu." (QS. Al-Anfal: 46)
# "Janganlah kamu seperti orang-orang yang musyrik, yaitu mereka mencerai-beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Dan setiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (QS. Ar-Rum: 31-32)
# "Mereka terus-menerus berselisih kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Tuhannya." (QS. Hud: 118-119)
# "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa." (QS. Al-An’am: 153)
2. Mencari Jalan Keluar Apabila Terjadi Perbedaan Pendapat
# "Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa’: 59)
# Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Di kalangan orang-orang terdahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 orang, lalu dia mencari orang yang banyak ilmunya, kemudian dia ditunjukkan kepada seorang rahib, lalu dia mendatanginya, kemudian dia katakan bahwa dia telah membunuh 99 orang, apakah tobatnya bisa diterima? Rahib itu menjawab, Tidak bisa.” Laki-laki itu membunuh rahib tersebut, sehingga genaplah 100 orang yang telah dibunuhnya.
Kemudian laki-laki itu mencari orang lain lagi yang paling banyak ilmunya, lalu dia ditunjukkan kepada seorang yang alim (berilmu), kemudian dia mengatakan bahwa dia telah membunuh 100 orang, apakah tobatnya bisa diterima? Orang alim itu menjawab, “Bisa. Tidak ada penghalang antara kamu dengan tobatmu. Pergilah ke daerah begini dan begini, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, lalu beribadahlah kepada Allah Azza wa Jalla bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu memang jelek.”
Laki-laki itu pergi. Sesampainya di tengah perjalanan dia mati, maka malaikat Rahmat berbantahan dengan Malaikat Adzab. Kata malaikat Rahmat, “Orang ini pergi untuk bertobat dengan menghadap kepada Allah dengan sepenuh hati.” Kata malaikat Adzab, “Orang ini tidak berbuat kebaikan sama sekali.”
Kemudian mereka didatangi oleh satu malaikat lain dalam wujud manusia, lalu mereka meminta keputusan kepadanya. Kata dia, “Ukurlah jarak yang terdekat dengan orang yang mati ini dari tempat berangkatnya dan dari tempat tujuannya. Ke mana yang lebih dekat maka itulah keputusannya.” Ternyata hasil pengukuran mereka adalah bahwa orang yang mati tersebut lebih dekat ke tempat tujuannya, maka dia dalam genggaman malaikat Rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di atas menjelaskan kepada kita bahwa:
1. Para malaikatpun tidak terlepas dari perbedaan pendapat.
2. Perbedaan pendapat tidak dibiarkan berlangsung terus tanpa penyelesaian.
3. Perbedaan pendapat diselesaikan dengan mengambil cara/pendapat yang terbaik/ter-shahih.
A. SEJARAH SINGKAT PENULISAN DAN PEMBUKUAN HADITS
Pada masa permulaan Al-Qur’an masih diturunkan, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang menulis hadits karena dikhawatirkan akan bercampur baur dengan penulisan Al-Qur’an. Pada masa itu, disamping menyuruh menulis Al-Qur’an, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga menyuruh menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an.
Pelarangan penulisan hadits ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
# “Janganlah kamu menulis sesuatu dariku, dan barangsiapa telah menulis sesuatu dariku selain Al-Qur’an hendaklah ia menghapusnya, dan ceritakan dariku, tidak ada keberatan (kamu ceritakan apa yang kamu dengar dariku). Dan barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyediakan tempat duduknya di dalam neraka.” (HR. Muslim)
Jumhur Ulama berpendapat bahwa hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang melarang penulisan hadits tersebut sudah dinasakh dengan hadits-hadits lain yang mengizinkannya antara lain hadits yang disabdakan pada ‘amulfath (tahun. VIII H) yang berbunyi: “Tulislah untuk Abu Syah”
Demikian pula dengan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada sahabat Abdullah bin Amr yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengizinkan menuliskan hadits.
Walaupun beberapa sahabat sudah ada yang menulis hadits, namun hadits masih belum dibukukan sebagaimana Al-Qur’an. Keadaan demikian ini berlangsung sampai akhir Abad I H. Umat Islam terdorong untuk membukukan hadits setelah Agama Islam tersiar di daerah-daerah yang makin luas dan para sahabat terpencar di daerah-daerah yang berjauhan bahkan banyak di antara mereka yang wafat.
Tatkala Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah (tahun 99 s/d 101 H), beliau menginstruksikan kepada para Gubernur agar menghimpun dan menulis hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Instruksi beliau mengenai penulisan hadits ini antara lain ditujukan kepada Abubakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm yang ketika itu menjabat sebagai Gubernur Madinah.
Menurut Dr. Ahmad Amin dalam kitabnya Dhuhal Islam, Abubakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm tidak lagi meneruskan penulisan hadits ini karena setelah khalifah wafat, dia tidak lagi menjabat sebagai Gubernur.
Menurut pendapat yang populer di kalangan ulama hadits, yang pertama-tama menghimpun hadits serta membukukannya adalah Ibnu Syihab Az-Zuhri, kemudian diikuti oleh ulama-ulama di kota-kota besar yang lain.
Penulisan dan pembukuan hadits Nabi ini dilanjutkan dan disempurnakan oleh ulama-ulama hadits pada abad berikutnya, sehingga menghasilkan kitab-kitab yang besar seperti kitab Al-Muwaththa’, Kutubus Sittah dan lain sebagainya.
B. PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG MENGAMALKAN HADITS DHAIF/LEMAH
Suatu hadits dikatakan dhaif apabila hadits tersebut sanadnya terputus atau ada cacat/cela pada perawinya, seperti: berbuat dusta, tersangka dusta (baik sangkaan itu dalam bidang meriwayatkan hadits atau lainnya), sering melakukan kesalahan, sering keliru, sering lengah, sering melakukan perbuatan maksiat, salah sangka, bertentangan dengan perawi yang lain yang lebih baik, jelek hafalannya, dll.
Ulama-ulama hadits telah sepakat bahwa kita tidak boleh mengamalkan hadits dhaif dalam bidang hukum/menentukan hukum sesuatu. Tetapi mereka berbeda pendapat tentang mempergunakannya dalam bidang:
1. Fadha ‘ilul A’mal (Keutamaan-Keutamaan Amal)
Yaitu hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan-keutamaan amal yang sifatnya sunnah ringan, yang sama sekali tidak terkait dengan masalah hukum yang qath’i, juga tidak terkait dengan masalah aqidah dan juga tidak terkait dengan dosa besar.
2. At-Targhiib (Memotivasi)
Yaitu hadits-hadits yang berisi pemberian semangat untuk mengerjakan suatu amal dengan janji Pahala dan Surga.
3. At-Tarhiib (Menakuti)
Yaitu hadits-hadits yang berisi ancaman Neraka dan hal-hal yang mengerikan bagi orang yang mengerjakan suatu perbuatan.
4. Kisah-kisah Tentang Para Nabi Dan Orang-Orang Sholeh
5. Do’a Dan Dzikir
Yaitu hadits-hadits yang berisi lafazh-lafazh do’a dan dzikir.
Menurut Al-Bukhari, Muslim, Abu Bakar Ibnul ‘Araby, Ibnu Hazm dan segenap pengikut Dawud Adz-Dzahiry: kita tidak boleh mengamalkan hadits dhaif dalam bidang apapun juga walaupun untuk menerangkan fadha ‘ilul a’mal, supaya orang tidak mengatas namakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, perkataan/perbuatan yang tidak disabdakan/diperbuat oleh beliau, dan supaya orang tidak mengi’tiqatkan sunnahnya sesuatu yang sebenarnya tidak dikerjakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam atau belum tentu dikerjakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, yang membawa akibat kita diancam oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke dalam neraka karena berdusta atas nama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau:
# “Barangsiapa menceritakan sesuatu hal daripadaku, padahal ia tahu bahwa hadits itu bukanlah dariku, maka orang itu termasuk golongan pendusta.” (HR. Muslim)
# “Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyediakan tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikh Abu Syammah berpendapat bahwa seseorang tidak boleh menyebutkan suatu hadits dhaif melainkan ia wajib menerangkan kelemahannya. [Lihat al-Baits ‘ala Inkari Bida’ wal Hawadits (hal. 54) dan Tamaamul Minnah fiit Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah hal. 32-33.]
Sedangkan menurut imam An-Nawawi dan sebagian ulama hadits dan para fuqaha: kita boleh mempergunakan hadits yang dhaif untuk fadha ‘ilul a’mal, baik untuk yang bersifat targhib maupun yang bersifat tarhib, yaitu sepanjang hadits tersebut belum sampai ke derajat maudhu (palsu). Imam An-Nawawi memperingatkan bahwa diperbolehkannya hal tersebut bukan untuk menetapkan hukum, melainkan hanya untuk menerangkan keutamaan amal, yang hukumnya telah ditetapkan oleh hadits shahih, setidak-tidaknya hadits hasan.
Menurut Imam Asy-Syarkhawi dalam kitab Al-Qaulul Badi’, bahwa Ibnu Hajar memperbolehkan untuk mengamalkan hadits dhaif dalam bidang targhib dan tarhib dengan tiga syarat berikut:
1. Kedhaifan hadits tersebut tidaklah seberapa, yaitu: hadits itu tidak diriwayatkan oleh orang-orang yang dusta, atau yang tertuduh dusta atau yang sering keliru dalam meriwayatkan hadits.
2. Keutamaan perbuatan yang terkandung dalam hadits dhaif tersebut sudah termasuk dalam dalil yang lain (baik Al-Qur’an maupun hadits shahih) yang bersifat umum, sehingga perbuatan itu tidak termasuk perbuatan yang sama sekali tidak mempunyai asal/dasar.
3. Tatkala kita mengamalkan hadits dhaif tersebut, janganlah kita mengi’tiqadkan bahwa perbuatan itu telah diperbuat oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam atau pernah disabdakan beliau, yaitu agar kita tidak mengatas namakan sesuatu pekerjaan yang tidak diperbuat atau disabdakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Syarat yang kedua dan ketiga tersebut di atas sangat ditekankan dan ditegaskan oleh Ibnu Salam, sedangkan syarat yang pertama disetujui oleh semua ulama.
Imam Ahmad berkata: “Hadits dhaif itu lebih baik dari qiyas.” Yang dimaksud oleh Imam Ahmad dengan hadits dhaif tersebut adalah hadits yang setingkat dengan hadits hasan, karena pada masa Imam Ahmad belum ada pembagian hadits menjadi tiga kelompok, yaitu shahih, hasan dan dhaif. Yang ada baru pembagian hadits atas dua kelompok, yaitu shahih dan dhaif saja.
Pembagian hadits dari dua kelompok saja (hadits shahih dan hadits dhaif) menjadi tiga kelompok (hadits shahih, hadits hasan dan hadits dhaif) dilakukan oleh Imam At-Tirmidzi dan kemudian diikuti oleh ulama-ulama berikutnya, dimana hadits dhaif yang tidak seberapa kelemahannya dikelompokkan sebagai hadits hasan.
C. PERNYATAAN PARA IMAM MADZHAB UNTUK MENGIKUTI SUNNAH DAN MENINGGALKAN YANG MENYALAHI SUNNAH
1. Imam Abu Hanifah rahimahullah (Imam Hanafi)
Imam madzhab yang pertama adalah Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. Para muridnya telah meriwayatkan berbagai macam perkataan dan pernyataan beliau yang seluruhnya mengandung satu tujuan, yaitu kewajiban berpegang teguh pada Hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan meninggalkan sikap taqlid/membeo pendapat-pendapat para imam bila bertentangan dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ucapan beliau:
# “Jika suatu Hadits shahih, itulah madzhabku.”
[Ibnu Abidin dalam Kitab Al-Hasyiah 1/63 dan Kitab Rasmul Mufti 1/4 dari kumpulan tulisan Ibnu Abidin. Juga oleh Syaikh Shalih Al-Filani dalam Kitab Iqazhu Al-Humam hlm. 62 dan lain-lain. Ibnu Abidin menukil dari Syarah Al-Hidayah, karya Ibnu Syahnah Al-Kabir, seorang guru Ibnul Humam, yang berbunyi:
“Bila suatu Hadits shahih sedangkan isinya bertentangan dengan madzhab kita, yang diamalkan adalah Hadits. Hal ini merupakan madzhab beliau dan tidak boleh seorang muqallid menyalahi Hadits shahih dengan alasan dia sebagai pengikut Hanafi, sebab secara sah disebutkan dari Imam Abu Hanifah bahwa beliau berpesan: “Jika suatu Hadits shahih, itulah madzhabku.” Begitu juga Imam Ibnu Abdul Barr meriwayatkan dari Abu Hanifah dan para imam lain pesan semacam itu]
# “Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya.”
[Ibnu ‘Abdul Barr dalam Kitab Al-Intiqa fi Dadhail Ats-Tsalasah Al-Aimmah Al Fuqaha hlm. 145, Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqqi’in II/309, Ibnu ‘Abidin dalam Hasyiyah Al-Bahri Ar-Raiq VI/293, dan Rasmu Al-Mufti hlm. 29 dan 32, Sya’rani dalam Al-Mizan I/55 dengan riwayat kedua, sedang riwayat ketiga diriwayatkan Abbas Ad-Darawi dalam At-Tarikh, karya Ibnu Ma’in VI/77/1 dengan sanad shahih dari Zufar. Semakna dengan itu diriwayatkan dari beberapa orang sahabatnya, yaitu: Zufar, Abu Yusuf, dan Afiyah bin Yazid, seperti termaktub dalam Al-Iqazh hlm. 52. Ibnul Qayyim menegaskan shahihnya riwayat ini dari Abu Yusuf II/344 dan memberi keterangan tambahan dalam Ta’liqnya terhadap Kitab Al-Iqazh hlm. 65, dikutip dari Ibnu ‘Abdul Barr, Ibnul Qayyim dan lain-lain]
# “Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tinggalkanlah pendapatku itu.”
[Al-Filani dalam Kitab Al-Iqazh hlm. 50, menisbatkan kepada Imam Muhammad juga, kemudian ujarnya:
“Hal semacam ini dan lain-lainnya yang serupa bukanlah merupakan sifat mujtahid, sebab dia tidak mendasarkan hal itu pada pendapat mereka, bahkan hal semacam ini merupakan sifat muqallid.”]
2. Imam Malik bin Anas (Imam Maliki)
Imam Malik bin Anas menyatakan:
# “Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, ambillah; dan bila tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah.”
[Ibnu ‘Abdul Barr dan dari dia juga Ibnu Hazm dalam Kitabnya Ushul Al-Ahkam VI/149, begitu pula Al-Fulani hlm. 72]
# “Siapa pun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima, kecuali hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri.”
[Di kalangan ulama mutaakhir hal ini populer dinisbatkan kepada Imam Malik dan dinyatakan shahihnya oleh Ibnu ‘Abdul Hadi dalam Kitabnya Irsyad As-Salik I/127. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abdul Barr dalam Kitab Al-Jami’ II/291, Ibnu Hazm dalam Kitab Ushul Al-Ahkam VI/145, 179, dari ucapan Hakam bin Utaibah dan Mujahid. Taqiyuddin Subuki menyebutkannya dalam Kitab Al-Fatawa I/148 dari ucapan Ibnu ‘Abbas. Karena ia merasa takjub atas kebaikan pernyataan itu, ia berkata:
“Ucapan ini diambil oleh Mujahid dari Ibnu ‘Abbas, kemudian Malik mengambil ucapan kedua orang itu, lalu orang-orang mengenalnya sebagai ucapan beliau sendiri.”]
# “Ibnu Wahhab berkata: “Saya pernah mendengar Malik menjawab pertanyaan orang tentang menyela-nyela jari-jari kaki di dalam wudhu, jawabnya: ‘Hal itu bukan urusan manusia.’” Ibnu Wahhab berkata: “Lalu saya tinggalkan beliau sampai orang-orang yang mengelilinginya tinggal sedikit, kemudian saya berkata kepadanya: ‘Kita mempunyai Hadits mengenai hal tersebut.’ Dia bertanya: ‘Bagaimana Hadits itu?’ Saya jawab: ‘Laits bin Sa’ad, Ibnu Lahi’ah, ‘Amr bin Harits, meriwayatkan kepada kami dan Yazid bin ‘Amr Al-Mu’afiri, dari Abi ‘Abdurrahman Al-Habali, dari Mustaurid bin Syaddad Al-Qurasyiyyi, ujarnya: Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggosokkan jari manisnya pada celah-celah jari-jari kakinya.’ Malik menyahut: ‘Hadits ini hasan, saya tidak mendengar ini sama sekali, kecuali kali ini.’ Kemudian di lain waktu saya mendengar dia ditanya orang tentang hal yang sama, lalu beliau menyuruh orang itu menyela-nyela jari-jari kakinya.”
[Muqaddimah Kitab Al-Jarh Wa At-Ta’dil, karya Ibnu Abi Hatim, hlm. 31-32 dan diriwayatkan secara lengkap oleh Baihaqi dalam Sunan-nya I/81]
3. Imam Syafi’i
Riwayat-riwayat yang dinukil orang dari Imam Syafi'i dalam masalah ini lebih banyak dan lebih bagus [Ibnu Hazm berkata dalam kitabnya VI/118:
"Para ahli fiqh yang ditaqlidi telah menganggap batal taqlid itu sendiri. Mereka melarang para pengikutnya untuk taqlid kepada mereka. Orang yang paling keras dalam melarang taqlid ini adalah Imam Syafi'i. Beliau dengan keras menegaskan agar orang mengikuti Hadits-Hadits yang shahih dan berpegang pada ketetapan-ketetapan yang digariskan dalam hujjah selama tidak ada orang lain yang menyampaikan hujjah yang lebih kuat serta beliau sepenuhnya berlepas diri dari orang-orang yang taqlid kepadanya dan dengan terang-terangan mengumumkan hal ini. Semoga Allah memberi manfaat kepada beliau dan memperbanyak pahalanya. Sungguh pernyataan beliau menjadi sebab mendapatkan kebaikan yang banyak."] dan pengikutnya lebih banyak yang melaksanakan pesannya dan lebih beruntung.
Beliau berpesan antara lain.
# "Setiap orang harus bermadzhab kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan mengikutinya. Apa pun pendapat yang aku katakan atau sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tetapi ternyata berlawanan dengan pendapatku, apa yang disabdakan oleh Rasulullah itulah yang menjadi pendapatku."
[HR. Hakim dengan sanad bersambung kepada Imam Syafi'i seperti tersebut dalam kitab Tarikh Damsyiq, karya Ibnu 'Asakir XV/1/3, I'lam Al-Muwaqqi'in II/363-364, Al-Iqazh hlm. 100]
# "Seluruh kaum muslim telah sepakat bahwa orang yang secara jelas telah mengetahui suatu Hadits dari Rasulullah tidak halal meninggalkannya guna mengikuti pendapat seseorang"
[Ibnul Qayyim II/361, dan Al-Filani hlm. 68]
# "Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan Hadits Rasulullah, peganglah Hadits Rasulullah itu dan tinggalkanlah pendapatku itu"
[Harawi dalam kitab Dzamm Al-Kalam III/47/1, Al-Khathib dalam Ihtijaj Bi Asy-Syafi'i VIII/2, Ibnu Asakir XV/9/1, Nawawi dalam Al-Majmu' I/63, Ibnul Qayyim II/361, Al-Filani hlm. 100 dan riwayat lain oleh Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah IX/107 dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya III/284, Al-Ihsan dengan sanad yang shahih dari beliau, riwayat semakna]
# "Bila suatu Hadits shahih, itulah madzhabku"
[Nawawi, dalam Al-Majmu', Sya'rani I/57 dan ia nisbatkan kepada Hakim dan Baihaqi, Filani hlm. 107. Sya'rani berkata:
"Ibnu Hazm menyatakan Haditst ini shahih menurut penilaiannya dan penilaian imam-imam yang lain."]
# "Kalian lebih tahu tentang Hadits dan para rawinya daripada aku. Apabila suatu Hadits itu shahih, beritahukanlah kepadaku biar di mana pun orangnya, apakah di Kuffah, Bashrah, atau Syam, sampai aku pergi menemuinya."
[Ucapan ini ditujukan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab Adabu Asy-Syafi'i hlm. 94-95, Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah IX/106, Al-Khatib dalam Al-Ihtijaj VIII/1, diriwayatkan pula oleh Ibnu 'Asakir dari beliau XV/9/1, Ibnu 'Abdil Barr dalam Intiqa hlm. 75, Ibnu Jauzi dalam Manaqib Imam Ahmad hlm. 499, Al-Harawi II/47/2 dengan tiga sanad, dari ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dari bapaknya, bahwa Imam Syafi'i pernah berkata kepadanya: "..... Hal ini shahih dari beliau. Oleh karena itu, Ibnu Qayyim menegaskan penisbatannya kepada Imam Ahmad dalam Al-I'lam II/325 dan Fulani dalam Al-Iqazh hlm. 152." Selanjutnya, beliau berkata: "Baihaqi berkata: 'Oleh karena itu, Imam Syafi'i banyak mengikuti Hadits. Beliau mengambil ilmu dari ulama Hijaz, Syam, Yaman, dan Iraq'. Beliau mengambil semua Hadits yang shahih menurut penilaiannya tanpa pilih kasih dan tidak bersikap memihak kepada madzhab yang tengah digandrungi oleh penduduk negerinya, sekalipun kebenaran yang dipegangnya menyalahi orang lain. Padahal ada ulama-ulama sebelumnya yang hanya membatasi diri pada madzhab yang dikenal di negerinya tanpa mau berijtihad untuk mengetahui kebenaran pendapat yang bertentangan dengan dirinya." Semoga Allah mengampuni kami dan mereka."]
# "Bila suatu masalah ada Haditsnya yang sah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menurut kalangan ahli Hadits, tetapi pendapatku menyalahinya, pasti aku akan mencabutnya, baik selama aku hidup maupun setelah aku mati."
[Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah IX/107, Al-Harawi 47/1, Ibnul Qayyim dalam Al-I'lam II/363 dan Al-Filani hlm. 104]
# "Bila kalian mengetahui aku mengatakan suatu pendapat yang ternyata menyalahi Hadits Nabi yang shahih, ketahuilah bahwa hal itu berarti pendapatku tidak berguna."
[Ibnu Abi Hatim dalam Adabu Asy-Syafi'i hlm. 93, Abul Qasim Samarqandi dalam Al-Amali seperti pada Al-Muntaqa, karya Abu Hafs Al-Muaddib I/234, Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah IX/106, dan Ibnu Asakir 15/10/1 dengan sanad shahih]
# "Setiap perkataanku bila berlainan dengan riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Hadits Nabi lebih utama dan kalian jangan bertaqlid kepadaku."
[Ibnu Abi Hatim hlm. 93, Abu Nu'aim dan Ibnu 'Asakir 15/9/2 dengan sanad shahih]
# "Setiap Hadits yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, berarti itulah pendapatku, sekalipun kalian tidak mendengarnya sendiri dari aku."
[Ibnu Abi Hatim, hal. 93-94]
4. Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali)
Ahmad bin Hambal merupakan seorang iman yang paling banyak menghimpun Haditsts dan berpegang teguh padanya., sehingga beliau benci menjamah koitab-kitab yang memuat masalah furu’ dan ra’yu [Ibnu Jauzi dalam Al-Manaqib hlm. 192 ]
Beliau menyatakan sebagai berikut :
# “Janganlah engkau taqlid kepadaku atau kepada Malik, Syafi’i, Auza’i, dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil.”
[Al- Filani hlm. 113 dan Ibnul Qayyim dalam Al-I’lam II/302]
Pada riwayat lain disebutkan:
# “Janganlah kamu taqlid kepada siapa pun dari mereka dalam urusan agamamu. Apa yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, itulah hendaknya yang kamu ambil. Adapun tentang tabi’in, setiap orang boleh memilihnya (menolak atau menerima).” Kali lain dia berkata: “Yang dinamakan ittiba’ yaitu mengikuti apa yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, sedangkan yang datang daripara tabi’in boleh di pilih.”
[Abu Dawud dalam Masa’il Imam Ahmad hlm. 276-277].
# “Pendapat Auza’i, Malik, dan Abu Hanifah adalah ra’yu (pikiran). Bagi saya semua ra’yu sama saja, tetapi yang menjadi hujjah agama adalah yang ada pada Atsar (Hadits).”
[Ibnu Abdul Barr dalam Al-Jami’ II/149]
# “Barangsiapa yang menolak Hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dia berada di jurang kehancuran.”
[Ibnu Jauzi hlm. 142]
D. WAJIBKAH TERIKAT PADA SATU MADZHAB SAJA?
1. Pendapat Mayoritas Ulama Ushul: Tidak Wajib Berpegang Pada Satu Madzhab Saja
Mereka mengatakan bahwa sorang muslim tidak diwajibkan untuk berpegang kepada satu imam saja dalam semua masalah dan kejadian dalam kaitannya dengan hukum syariah. Tetapi bila dia ingin bertaqlid kepada hanya salah satu di antara mujtahid / madzhab itu, dibolehkan.
Menurut mereka seseorang dibenarkan untuk bermadzhab dengan madzhab tertentu seperti Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi`iyyah, Al-Hanabilah dan madzhab fiqih lainnya. Tetapi tidak berarti dia harus terpaku secara terus menerus pada pendapat dalam madzhab itu saja.
Hal ini karena memang tidak ada perintah dari Allah maupun Rasul-Nya yang mewajibkan untuk berpegang kepada satu pendapat saja dari pendapat yang telah diberikan ulama. Yang ada justru perintah untuk bertanya kepada ahli ilmu secara umum, yaitu mereka yang memang memiliki kemampuan pemahaman syariat Islam, tetapi tidak harus terpaku pada satu orang atau madzhab saja.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
# “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)
# “Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu, melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al-Anbiya`: 7)
Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu dan juga para tabi`in pun tidak terpaku pada satu pendapat saja dari ulama mereka. Mereka akan bertanya kepada siapa saja yang memang layak untuk memberi fatwa dan memiliki ilmu tentang hal tersebut.
Maka tidaklah pada tempatnya bila kita saat ini membuat kotak-kotak sendiri dan mengatakan bahwa setiap orang harus berpegang teguh pada satu pendapat saja dan tidak boleh berpindah madzhab.
Bahkan pada hakikatnya, setiap madzhab besar yang ada itupun sering berganti pendapat juga. Lihatlah bagaimana dahulu Al-Imam Asy-Syafi’i merevisi madzhab qadimnya dengan madzhab jadid.
Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang masih menggantungkan pendapat kepada masukan dari orang lain. Misalnya ungkapan paling masyhur dari mereka adalah: “Apabila suatu hadits itu shahih, maka menjadi madzhabku.” Itu berarti seorang imam bisa saja tawaqquf (belum berpendapat) atau memberikan peluang berubahnya fatwa bila terbukti ada dalil yang lebih kuat. Maka perubahan pendapat dalam madzhab itu sangat mungkin terjadi.
Bila di dalam sebuah madzhab bisa dimungkinkan terjadinya perubahan fatwa, maka hal itu juga bermakna bahwa bisa saja seorang berpindah pendapat dari satu kepada yang lainnya.
2. Pendapat Yang Mewajibkan Berpegang Pada Satu Madzhab Saja
Meski demikian, kita juga tidak mengingkari adanya pendapat sebagian dari ulama ushul yang mewajibkan seseorang untuk berpegang kepada satu madzhab saja.
Dalilnya adalah bahwa seseorang wajib mengikuti apa yang menurutnya lebih rajih atau lebih mendekati kebenaran. Dan bila seseorang sudah yakin bahwa madzhab yang dianutnya itu yang paling rajih, maka tidak boleh baginya mencari pendapat di luar madzhabnya.
Untuk argumentasi mereka ini, kita bisa menjawab bahwa tidak ada kewajiban bagi kita untuk harus selalu mengambil pendapat yang rajih. Terkadang untuk suatu kondisi darurat tertentu, kita masih dibolehkan untuk mengambil pendapat yang tidak rajih.
Dan mengenai kebolehan mengambil yang marjuh (mafdhul) dan meninggalkan yang rajih (afdhal), ada beberapa ketetapan para ulama ushul, antara lain:
# Al-Qadhi Atha’ bin Hamzah berkata,
“Seorang qadhi boleh berpindah keluar madzhabnya oleh sebab darurat.”
# As-Shahkafi dalam Nash Ad-Dur Al-Mukhtar,
“Seorang qadhi dibolehkan mengerjakan amal yang kurang masyhur dalam madzhabnya bila Sultan menetapkan hal itu.”
# Al-Mi’raj ‘An Fakhril Ummah:
“Kebolehan amal dan fatwa dengan perkataan yang dhaif dalam keadaan darurat.”
# Ad-Dasuqi al-Maliki berkata,
“Dibolehkan beramal dengan yang dhaif bagi seseorang untuk masalah dirinya atau juga dalam fatwa bila dipastikan adanya kedaruratan oleh mufti itu.”
E. PANDANGAN AL-QUR’AN DAN HADITS TENTANG PERBEDAAN PENDAPAT
1. Ketidak-Utamaan Perbedaan Pendapat
# "Janganlah kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu." (QS. Al-Anfal: 46)
# "Janganlah kamu seperti orang-orang yang musyrik, yaitu mereka mencerai-beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Dan setiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (QS. Ar-Rum: 31-32)
# "Mereka terus-menerus berselisih kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Tuhannya." (QS. Hud: 118-119)
# "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa." (QS. Al-An’am: 153)
2. Mencari Jalan Keluar Apabila Terjadi Perbedaan Pendapat
# "Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa’: 59)
# Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Di kalangan orang-orang terdahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 orang, lalu dia mencari orang yang banyak ilmunya, kemudian dia ditunjukkan kepada seorang rahib, lalu dia mendatanginya, kemudian dia katakan bahwa dia telah membunuh 99 orang, apakah tobatnya bisa diterima? Rahib itu menjawab, Tidak bisa.” Laki-laki itu membunuh rahib tersebut, sehingga genaplah 100 orang yang telah dibunuhnya.
Kemudian laki-laki itu mencari orang lain lagi yang paling banyak ilmunya, lalu dia ditunjukkan kepada seorang yang alim (berilmu), kemudian dia mengatakan bahwa dia telah membunuh 100 orang, apakah tobatnya bisa diterima? Orang alim itu menjawab, “Bisa. Tidak ada penghalang antara kamu dengan tobatmu. Pergilah ke daerah begini dan begini, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, lalu beribadahlah kepada Allah Azza wa Jalla bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu memang jelek.”
Laki-laki itu pergi. Sesampainya di tengah perjalanan dia mati, maka malaikat Rahmat berbantahan dengan Malaikat Adzab. Kata malaikat Rahmat, “Orang ini pergi untuk bertobat dengan menghadap kepada Allah dengan sepenuh hati.” Kata malaikat Adzab, “Orang ini tidak berbuat kebaikan sama sekali.”
Kemudian mereka didatangi oleh satu malaikat lain dalam wujud manusia, lalu mereka meminta keputusan kepadanya. Kata dia, “Ukurlah jarak yang terdekat dengan orang yang mati ini dari tempat berangkatnya dan dari tempat tujuannya. Ke mana yang lebih dekat maka itulah keputusannya.” Ternyata hasil pengukuran mereka adalah bahwa orang yang mati tersebut lebih dekat ke tempat tujuannya, maka dia dalam genggaman malaikat Rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di atas menjelaskan kepada kita bahwa:
1. Para malaikatpun tidak terlepas dari perbedaan pendapat.
2. Perbedaan pendapat tidak dibiarkan berlangsung terus tanpa penyelesaian.
3. Perbedaan pendapat diselesaikan dengan mengambil cara/pendapat yang terbaik/ter-shahih.
Sabtu, 26 Maret 2011
PENGANTAR PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN
Drs. Said Suhil Achmad, M.Pd *
Dosen FKIP Universitas Riau
A. Pengantar
S
istem sentralisasi pendidikan pada masa
kekuasaan Orde
Baru ternyata telah
menciptakan
kebodohan “struktural”.
Artinya setiap daerah tercipta sekmen
manusia yang dibangun oleh suatu jarak
kekuasaan. Sebuah daerah yang
dekat
dengan “Jakarta” akan lebih beruntung dari
pada daerah sebelahnya, dan demikian
seterusnya. Sementara “kurikulum” yang
sering dikopak-kopak setiap lima tahun itu
selalu
berorientasi
umum,
kurang
memperhatikan
karakteristik
daerah,
sehingga
ada
daerah
kehilangan
kesempatan untuk maju, dan sekaligus
kehilangan identitas diri karena kepentingan politik.
Pada awal abad XXI ini, dunia pendidikan di Indonesia menghadapi tiga tantangan besar.
Menurut Depdiknas dalam Propenas 2000-2004 bahwa tantangan pertama adalah sebagai akibat
dari krisis ekonomi, dunia pendidikan dituntut untuk
dapat mempertahankan hasil-hasil
pembangunan pendidikan yang telah dicapai. Kedua, untuk mengantisipasi era global dunia
pendidikan dituntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten agar mampu
bersaing dalam pasar kerja global. Ketiga, sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah,
perlu dilakukan perubahan dan penyesuaian sistem pendidikan nasional sehingga dapat
mewujudkan
proses
pendidikan
yang
lebih
demokratis,
memperhatikan
keberagaman
kebutuhan/keadaan
daerah dan peserta didik, serta mendorong
peningkatan partisipasi
masyarakat.
Disamping
itu dunia pendidikan nasional juga
masih dihadapkan pada beberapa
permasalahan yang menonjol (1) masih rendahnya pemerataan memperoleh pendidikan; (2)
masih rendahnya kualitas dan relevansi pendidikan; dan (3) masih lemahnya manajemen
pendidikan, di samping belum terwujudnya kemandirian dan keunggulan ilmu pengetahuan dan
teknologi di kalangan akademisi. Ketimpangan pemerataan pendidikan juga terjadi antarwilayah
geografis yaitu antara perkotaan dan perdesaan, serta antara kawasan timur Indonesia (KTI) dan
kawasan barat Indonesia (KBI), dan antartingkat pendapatan penduduk ataupun antargender.
Pada masa lalu kita dihantui oleh
“program target kurikulum” yang membuat guru
mengabaikan proses, yang menyebabkan anak menjadi “robot” penghapal program (materi
1
Makalah pada Seminar Strategi dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Kabupaten Siak, 6
Mei 2004, di Siak Sri Indrapura.
Ebtanas) dengan efek samping menghalalkan segala cara demi kelulusan dan nilai. Hal ini
membuat sekolah berpacu mengejar NEM, dengan program terobosan, padahal tak semua
sekolah mempunyai sumber daya (guru dan sisiwa) yang sama. Orang sampai lupa, apakah
mungkin sekolah yang gurunya 3 orang sama hasilnya dengans sekolah yang guru 10 orang.
Belum lagi perbedaan sarana dan prasana sekolah da fasilitas lainnya. Dan bertambah seru lagi
bila orang tua harus menambah jam pelajaran anak di lembaga les dengang mengabaikan aspek
lain dari anak, misalnya mengaji, sementara itu ada pula panitia Ebtanas yang bisa diajak main
mata. Kelemahan ini sebenarnya sudah disadari, yaitu dengan penghapusan NEM pada Tahun
2003, namun karena banyak juga protes, akhirnya tahun 2004, “NEM” berlaku lagi.
Usaha pembaharuan pendidikan di Indonesia sebenarnya tak pernah berhenti, hal itu
terlihat dengan pembaruan/ peninjauan kurikulum pada setiap lima tahun sekali. Misalnya
Kurikulum 1994 disempurnakan dengan Suplemen 1999. Pada tahun 1999, seiring dengan
berlakunya UU Nomor 22 dan 25 tentang “Otonomi daerah”, di mana daerah kabupaten/kota
diberi kewenangan mengurus manajemen pendidikan sendiri (kecuali kurikulum). Pada awal
tahun 2000, melalui program Basic Education Project (BEP) diperkenalkan dengan School Base
Management (Manajemen Berbasis Sekolah) -- yang mengharapkan sekolah mengatur dirinya
sendiri dengan masyarakat setempat. Setelah itu, pada tahun 2004, Pusat Kurikulum Badan
Penelitian
dan Pengembangan (Balitbang) Depdiknas merencanakan Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) diimplementasikan pada tahun ajaran 2004/2005.
Pada tahun 2003, KBK diuji cobakan di beberapa sekolah di Jakarta, Banten, Jawa Barat,
Yogyakarta, dan Jawa Timur, seiring dengan itu, Depdiknas dan jajarannya juga melakukan
sosialisasi KBK baik di pusat maupun di daerah. Intinya sekolah-sekolah yang melaksanakan
KBK diharapkan mampu menyusun silabus pendidikannya sendiri. Meskipun masih didampingi
oleh tim dari pusat kurikulum, tetapi paling tidak sekolah-sekolah itu bisa menunjukkan
kemampuannya.
Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang
kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan
pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum ini
berorientasi pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui
serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan (2) keberagaman yang dapat diwujudkan
sesuai dengan kebutuhannya.
Kompetensi
merupakan
pengetahuan,
keterampilan,
dan
nilai-nilai
dasar
yang
direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara
konsisten dan terus menerus dapat memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten, dalam
arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.
Sebagai salah satu komponen Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah Penilaian Berbasis
Kelas, yang merupakan prinsip, sasaran, dan pelaksanaan penilaian berkelanjutan yang akurat
dan konsisten tentang kompetensi atau hasil belajar siswa serta pernyataan yang jelas mengenai
kemajuan siswa sebagai akuntabilitas publik. Penilaian Berbasis kelas (PBK) merupakan salah
satu komponen dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (lihat dokumen Kurikulum berbasis
Kompetensi). Penilaian ini dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan belajar mengajar, oleh
karena itu disebut penilaian berbasis kelas (PBK). PBK dilakukan dengan pengumpulan kerja
siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan(proyek), kinerja (performance), dan tes
tertulis (paper and pen). Guru menilai kompetensi dan hasil belajar siswa berdasarkan level
2
Makalah pada Seminar Strategi dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Kabupaten Siak, 6
Mei 2004, di Siak Sri Indrapura.
pencapaian prestasi siswa.
Semua pembaharuan pendidikan yang disebutkan di terakhir telah mendapat penguatan
secara hukum, yaitu
setelah dikeluarkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20
tahun 2003, tentang
Sistem pendidikan nasional, yang pada intinya mendukung otonomi
pendidikan dengan berbagai pembaharuan dalam manajemen pendidikan, manajemen sekolah,
manajemen kelas yang berorientasi ke masyarakat setempat.
Pertanyaaannya adalah apakah kita mampu?
Sekarang banyak daerah yang bersuara
lantang meminta “kedaulatan”. Dan sekarang telah diberi. Lalu apa yang akan dilakukan? Setiap
masyarakat memiliki kemampuan yang berbeda, maka tingkat kemajuan suatu masyarakat juga
berbeda. Menurut Arifin (1994) hal itu dapat disebabkan oleh tiga faktor utama, yaitu: (1)
Kemampuan manusia itu sendiri, (2) Tingkat pendidikan, dan (3) Pertumbuhan sistem
kelembagaan masyarakat.Bila dilihat dari tiga faktor itu, maka di negara kita dapat dikatakan
semuanya “masih lemah”. Bangsa kita masih belum menjadikan tingkat pendidikan sebagai cita-
cita hidup, mereka hanya melihat pendidikan dari sudut pasar pegawai negeri, tidak untuk
pekerjaan yang lain. Akhir-akhir ini sangat terlihat pertumbuhan sistem kelembagaan masyarakat
di Indonesia yang amburadul. Sistem kelembagaan yang seharusnya dibentuk agar dapat
mengembangkan kemampuan manusia sebagai sumber daya masyarakat, tetapi kenyataannya
banyak sistem kelembagaan masyarakat yang justru mempersulit masyarakatnya sendiri. Hal itu
terjadi hampir pada semua bentuk dan jenis lembaga masyarakat, yang dibuktikan dengan
banyak kantor yang kotor, layanan yang buruk, kewajiban membayar uang pelicin, uang rokok
dan lain sebagainya. Bagaimana dengan lembaga pendidikan?
Dengan demikian, antara individu, masyarakat, dan pendidikan sangat berhubungan erat.
Bagaimana suatu sistem pendidikan suatu masyarakat tergantung dengan bagaimana sistem
masyarakat itu sendiri, dan bagaimana masyarakat memandang
hak individu dalam
masyarakatnya. Arifin (1994: 97) mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi perubahan
sosial yang juga berpengaruh terhadap perubahan sistem pendidikan adalah: (1) Urbanisasi dan
perkembangan/ pembangunan kota-kota metropolitan; (2) Ledakan pertumbuan penduduk yang
besar; (3) Kemajuan pesat teknologi modern di semua bidang kehidupan, terutama di bidang
produksi; (4) Kemungkinan harapan berusia panjang berkat kesejahteraan hidup semakin
meningkat; (5) Saling ketergantungan hidup antarbangsa; (6) Timbulnya organisasi-organisasi
tingkat
internasional, seperti UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultual
Organizations), WCCI (Wold Counsil For Curriculum and Instructional), dan sebagainnya.
Apakah masyarakat Indonesia mudah berubah? Menurut Koentjaraningrat (1982) bahwa
karena sebagian masyarakat kita petani, mata mental petani sampai sekarang masih melekat,
salah satunya adalah mentalitas merambas adalah mentalitas yang bernafsu untuk mencapai
tujuannya secepar-cepatnya tanpa banyak kerelaaan berusaha dari permulaaan secara langkah
demi langkah. Mentalitas ini pada dasarnya dapat disamakan dengan mentalitas mencari jalan
yang paling gampang. Makanya banyak orang sekarang masih suka mencari gelar dengan uang
dan mengabaikan pendidikan yang benar. Pendidikan yang baik bukan melalui jalan pintas,
pendidikan yang baik adalah seumur hidup.
B. Persoalan Pendidikan Dewasa ini
Berbicara soal pendidikan di Indonesia adalah berbicara dalam suatu lingkaran setan,
karena masalah pendidikan bisa penyebab atau sebab dari penyebab. Sementara masalah
3
Makalah pada Seminar Strategi dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Kabupaten Siak, 6
Mei 2004, di Siak Sri Indrapura.
pendidikan sendiri tidak bisa dilihat dari satu sudut saja, karena di dalamnya merupakan sebuah
“gua” yang tak sembarang orang dapat mengetahui isinya tanpa masuk ke dalamnya, semestara
orang di dalamnya tenggelam banyaknya persoalan pendidikan, mata pelajaran yang banyak,
motivasi belajar anak, kesehatan diri dan lain sebagainya. Sehingga karena telah terlalu lama
terbenam dalam “kelas” sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, tidak tahu mana yang
baik dan mana yang buruk, sementara orang di luar, pemerintah, perusahaan dan orang tua
makin banyak permintaan, akibatnya kewenangan guru di Indonesia selama ini sangat dilematis,
ia tidak berani memutuskan apalagi menolak campur tangan pihak luar. Banyak contoh, guru
harus melakukan pekerjaan dil uar kewenangannya hanya karena harus menghargai atasan, di
mana pada waktu yang bersamaan ia harus merelakan muridnya tidak belajar, kadang-kadang
murid terpaksa dibawanya bersama. Hal ini jelas membuat guru menjadi tertindas dari sudut
moral dan profesionalisme.
Data di atas jelas sangat memperihatinkan, tapi bukan pula berarti negara kita tidak
melakukan apa, meskipun fasilitas pendidikan mulai dilengkap dan canggih, namun karena tidak
ditunjang oleh kualitas guru, maka proses perbaikan juga mengalami keterlambatan. Menurut
beberapa ahli pendidikan ada lima faktor yang sangat mempengaruhinya kualitas guru, yaitu (1)
adanya kewenangan yang benar-benar diserahkan kepada guru, (2)
kualitas atasan dalam
mengawasi dan mengontrol perilaku guru, (3) kebebasan yang diberikan kepada guru (baik di
dalam maupun di luar kelas), dan hubungan guru dengan muridnya, (4) pengetahuan guru (yang
akan mempengaruhi kepercayaan dirinya).
Berikut saya mengajak kita membaca beberapa data penting. Pertama dari survei yang
dilakukan sebuah lembaga independen internasional tentang Human Development Index (HDI)
dengan indikator (1) Usia harapan hidup, (2) Angka melek huruf orang dewasa, (3) Rata-rata
lama pendidikan, dan (4) Pengeluaran per kapita, maka Indonesia yang pada tahun lalu (2002)
menempati ranking 110, maka tahun ini (2003) duduk pada ranking
112 dari 175 negara di
dunia, termasuk ke dalam kelompok medium human development, di bawah Afrika Selatan dan
di atas Tajikistan (Asia Tengah). Sementara penelitian yang dilakukan oleh IEA, Tahun 2000
menempatkan (1) kemampuan membaca siswa Sekolah Dasar pada ranking 38 dari 39 negara;
(2) penguasaan materi matematika menempati ranking 39 dari 42 negara; dan (3) penguasaan
Materi IPA siswa SKTP menempati ranking 40 dari 42 negara (internet)
Menurut tulisan Adningsih (1999) bahwa saat ini kemampuan guru bidang studi dalam
menguasai materi pengajaran masih sangat rendah. Hal ini sejalan dengan penelitian Bahrul
Hayat dan Yahya Umar (dalam Adningsih, 1999) memaparkan bahwa nilai rata-rata nasional tes
calon guru PNS di SD, SLTP, SLTA, dan SMK tahun 1998/1999 untuk bidang studi matematika
hanya 27,67 dari interval 0-100, artinya hanya menguasai 27,67% dari materi yang seharusnya.
Sementara itu, untuk bidang studi yang lain adalah fisika (27,35), biologi (44,96), kimia (43,55),
dan bahasa Inggris (37,57). Nilai-nilai di atas tentu jauh dari batas ideal, yaitu minimum 75%
agar seorang guru bisa mengajar dengan baik. Hal yang lebih memprihatinkan, hasil penelitian
dari Konsorsium Ilmu Pendidikan (2000) memperlihatkan bahwa 40% guru SMP dan 33% guru
SMA mengajar bidang studi di luar bidang keahliannya. Bisa dibayangkan kalau guru bidang
studinya saja tidak menguasai
materi, apalagi yang
bukan guru bidang
studi. Dengan
kemampuan pengetahuan yang sedemikian terbatas dan kepekaan kreativitas yang sangat minim
maka sangatlah sulit bagi guru untuk menerapkan pola pengajaran berbasis kompetensi yang saat
ini sedang
disosialkan. Bukankah pola pengajaran ini sangat menonjolkan "keberanian"
4
Makalah pada Seminar Strategi dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Kabupaten Siak, 6
Mei 2004, di Siak Sri Indrapura.
berpraktik dan bereksperimen?
Sebuah penelitian di Kota Pekanbaru, dilakukan Raja Samad, dkk, (2000) terhadap 347
guru SDN kelas 4-5 dan 6, SD di Kota Pekanbaru, dengan materi EBTANAS ditemukan 50%
(174 orang) yang menguasai 66% materi Matematika, 74% peserta yang menguasai materi IPA,
dan hanya 58% peserta yang menguasai materi IPS. Hanya 10 orang (3%) dari peserta yang
menguasai materi matematika sampai 95%, sedangkan untuk materi IPA 90% dan hanya 68%
yang menguasai
materi IPS. Penelitian ini menemukan juga bahwa rata-rata guru yang
menguasai materi sampa 95% hanya mereka yang berumur diatas 42 tahun, sedangkan umur
dibawahnya kurang dari itu, namun
kemauan untuk berubah (berkembang ,lebih baik) lebih
besar pada guru-guru dibawah usia 42 tahun .
Semua data atas jelas sangat memalukan, walaupun sudah disadari, namun usaha-usaha
pembaharuan dan pemecahan melalui pendidikan dan pelatihan telah juga banyak dilakukan,
tetapi hanya menyentuh sebagian kecil guru-guru, itupun hanya di daerah perkotaan, terutama
yang dekat dengan ibu kota propinsi dan negara (Jakarta). Penyetaran guru-guru pada pendidikan
dasar, baik SD mapun SMP dengan sistem tatap muka lebih banyak menyentuh guru-guru yang
dekat dengan Universitas terdekat, seperti di Riau Kabupaten Kampar dan Bengkalis, jauh lebih
beruntung dari daerah lain, apalagi daerah kepulauan.
Diakui atau tidak, semua persoalan diatas dialamatkan kepada guru, namun yang perlu
diingat bahwa guru hidup dalam suatu lingkungan sosial pendidikan yang sangat luas, dan di
dalam lingkungannya sendiri, ia mempunyai atasan, yaitu kepala sekolah dan pengawas, dan di
luar ia guru harus berhadapan dengan orang tua siswa dan masyarakat. Jadi persoalan yang di
hadapi guru adalah suatu lingkasan setan.
Usaha-usaha bantuan terhadap guru untuk memecahkan masalah pendidikan telah banyak
dilakukan, namun pelatihan yang dengan materi yang sama tidak pula dimengerti oleh atasan
guru, orang tua dan masyarakat maka usaha ini sering gagal. Pelatihan yang dilakukan selama ini
terhadap guru, memang banyak mendapatkan kritikan yang keras dari berbagai kalangan. Di
suatu pihak kritikan itu benar, hanya menghabis-habiskan uang, tetapi dipihak lain ada salahnya,
karena berbeda indikator, di suatu pihak menggunakan indikator keberhasilan pelatihan, di lain
pihak menggunakan indikator hasil belajar siswa, yaitu NEM – yang masih jauh. Menurut hemat
penulis, pelatihan selama ini melenceng dari cara, isi dan tujuan, karena sangat perpusat pada
guru yang mengajar (teacher center) bukan pada siswa yang belajar (student center). Materinya
tidak menyentuh persoalan yang terjadi di kelas, sedangkan tujuan yang ingin dicapai terlalu
umum. Padahal setiap sekolah berbeda dalam semua hal, mana mungkin sekolah yang satu
memenangkan suatu pertandingan sementara pemainnya (guru) tidak cukup. Kalau kita katakan
pelatihan selama ini semuanya tidak ada gunanya, juga salah, paling kurang pelatihan selama ini
dapat bermanfaat bagi peningkatan penguasaan materi. Hal ini dapat dilihat bila guru menguasai
materi, ia menjadi lebih aktif berceramah di kelas, dan kalau ia membuat soal (tugas), maka dia
sendiri yang menjawabnya.
Sistem pembinaan profesional yang dilakukan melalui gugus-gugus PKG (Pemantapan
Kerja Guru), KKG (Kelompok Kerja Guru), MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), dan
sejenisnya telah mulai dikembangkan di Sekolah Dasar sampai ke sekolah menengah, yang
merupakan langkah inovatif dalam pembinaan guru yang dilakukan melalui pendidikan dalam
jabatan dan pelatihan dalam jabatan).
Menurut
Supriyadi (1999) bahwa
dari sejumlah studi mengenai sistem gugus,
5
Makalah pada Seminar Strategi dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Kabupaten Siak, 6
Mei 2004, di Siak Sri Indrapura.
Edcucational Leadership (1986) menyimpulkan “Usaha profesionalisasi melalui dialog dan
kolaborasi antara guru mempunyai pengaruh yang sangat positif terhadap hubungan antara
sesama guru dan antara para guru dengan kepala sekolah. Pengalaman FEQIP (Frimary
Education Quality Improvement Project) dalam peningkatan mutu pendidikan dasar di enam
propinsi (Aceh, Sumatera Barat, Yokyakarta, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi Utara)
menunjukkan bahwa sistem ini mampu meningkatkan kemampuan dan motivasi mengajar guru
yang diikuti oleh makin meningkatnya mutu pendidikan pada tataran sekolah.
Dari semua hal yang diungkapkan di atas, bukan pula pelatihan adalah satu-satunya
suatu obat yang mujarab, sebab akar persoalan guru, seperti yang tekah disebutkan
berkait
banya pula dengan kepala sekolah dan pengawas, dan hal-hal lain yang sangat berkaitkelindan
(signifikan). Untuk itu diperlukan suatu usaha bantuan yang
profesional, terpadu, menyeluruh
dan standard, melalui pendidikan dan pelatihan yang dilakukan secara bertahap dan berjenjang,
dengan tidak mengganggu kedudukan guru dalam proses belajar mengajar di kelas. Selain itu,
pelatihan yang sama
juga harus diberikan kepada semua orang yang terlibat baik secara
langsung atau tidak langsung di sekolah, dan diujung-ujungnya, harus ada perubahan terhadap
kedudukan (prestise) dan kesejahteraan guru.
Dengan otonomi pendidikan yang sedang begulir sekarang. Maka diharapkan usaha
perubahan
yang berorientasi dari bawah (bottom up) akan memberikan angin baru bagi
pembinaan profesional guru, karena dengan konsep SBM (School Based Management) atau
Manajemen Berbasis Sekolah peran serta sekolah sendiri sangat membantu pemecahan masalah.
Dalam konsep, MBS ada empat komponen utama menuju perbaikan, yaitu (1) kepemimpinan
yang kuat, (2) Kesediaan sumber dan sarana pembelajaran; (3) Komitmen masyarakat terhadap
sekolah, dan (4) fokus atau konsentrasi pada pembelajaran.
Kertas kerja ini hanya memfokuskan diri pada butir 4, yang dikhaskan pada pembinaan
profesional guru melalui pelatihan profesional – yang banyak diterapkan di negara-negara maju,
sehingga akar masalah bersumber dari guru dapat dipecahkan di mana guru itu berada. Sebab
apa yang senarnya terjadi di dalam kelas, hanya guru yang tahu, atau tidak tahu, demikian pula
apa yang sebenarnya terjadi dalam diri siswa ketika ia belajar, mungkin hanya siswa itu sendiri
yang tahu, atau juga tidak tahu, maka dengan pendekatan ini diharapkan akan mendekatkan
usaha perbaikan langsung ke lubuknya, yaitu di kelas.
Selain masalah kemanusiaan (pengelola, pengawas, guru dan siswa) masalah sarana
pendidikan juga menjadi persoalan yang tidak kecil, namun dari apa yang saya dengar dengan
otomoni pendidikan tidak ada lagi sekolah yang sarananya (fisiknya) rusak, yang menjadi
persoalan sekarang adalah isi yang ada di dalamnya, fasilitas belajar, karena ada sekolah yang
bangunannya bagus dan gurunya baik tapi pelaksanaan pendidikannya masih konvensional, atau
terlalu banyak verbalisme, artinya semua materi lebih banyak disampaikan dengan metode
ceramah, sehingga pembelajaran berpusat pada guru yang mengajar (teacher center) bukan pada
murid yang belajar (student senter). Padahal dengan perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi sekarang ini metode mengajar berubah dan bahan belajar menjadi terbuka. Apalagi
sudah diamanatkan di dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Pendidikan Nasional Tahun
2003 yang berbunyi:
.... ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat dan memunculkan tuntutan
baru dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam sistem pendidikan. Tuntutan
tersebut menyangkut pembaharuan sistem pendidikan, di antaranya pembaharuan
6
Makalah pada Seminar Strategi dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Kabupaten Siak, 6
Mei 2004, di Siak Sri Indrapura.
kurikulum, yaitu diversifikasi
kurikulum untuk melayani peserta didik dan
potensi daerah yang beragam, diversifikasi jenis pendidikan yang dilakukan
secara profesional, penyusunan standar kompetensi tamatan yang berlaku secara
nasional dan daerah menyesuaikan dengan kondisi setempat; penyusunan standar
kualifikasi pendidik yang sesuai dengan tuntutan
pelaksanaan tugas secara
profesional; penyusunan standar pendanaan pendidikan
untuk setiap satuan
pendidikan
sesuai
prinsip-prinsip
pemerataan
dan
keadilan;
pelaksanaan
manajemen pendidikan berbasis sekolah dan otonomi perguruan tinggi; serta
penyelenggaraan pendidikan dengan sistem terbuka dan multimakna.
B. Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Pembelajaran
Penyempurnaan kurikulum dilakukan sebagai respon terhadap tuntutan perkembangan
informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, tuntutan desentralisasi, dan hak asasi manusia.
Oleh karena itu, bahan kajian yang
harus dikuasai oleh siswa disesuaikan dengan tuntutan-
tuntutan tersebut. Selain itu, bukan hanya bahan kajian saja yang harus dikuasi oleh siswa tetapi
juga kompetensi untuk menggali, menyeleksi, mengolah dan menginformasikan bahan kajian
yang telah diperoleh meskipun telah menyelesaikan pendidikannya. Dengan demikian, siswa
memiliki bekal berupa potensi untuk belajar sepanjang hayat serta mampu memecahkan masalah
yang dihadapinya. Salah satu fasilitas untuk menunjang kompetensi tersebut siswa perlu
dikenalkan dengan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information
and Communication Technology (ICT)
yang
berfungsi baik sebagai alat maupun bahan
pembelajaran.
Mata pelajaran baru yang akan atau mungkin diterapkan di sekolah dari segala jenis dan
tingkat pendidikan ini belum ada kata sepakat, selain materinya baru juga oleh kesiapam SDM
(guru) dan sasana pendidikan di sekolah. Namun demikian, kita akan melihatnya dari sisi lain,
bukan dari sisi adan tidaknnya mata pelajaran tersebut tetapi, kemampuan sekolah dan guru
mengadopsi teknologi dalam pendidikan dan pembelajaran di kelas .
Alasan lain yang memperkuat adalah, mana mungkin memperkenalkan sebuah teknologi
dengan ceramah, dan mana mungkin labor lama dapat mengadaptasi penemuan-penemuan baru
dalam ilmu pengetahuan, apalagi sekeliling anak ada handphone, ada rental komputer, ada rental
internet dan ada macam-macam lagi.
Pembahasan secara komfrehensif mengenai perkembangan teknologi komunikasi dan
informasi serta dampak dan aplikasinya dalam pendidikan dan pembelajaran. Pembahasan
difokuskan pada pengembangan dan penerapan konsep belajar terbuka, termasuk belajar jarak
jauh, dan belajar berbasis aneka sumber (resource based learning). Pembahasan meliputi
perkembangan dari aspek kerekayasaan, aspek kemasyarakatan, serta aspek ekonimis, aspek
psikologis dam aspek pendidikan sendiri. Kegiatan belajar di sekolah adalah pemberian
pengalaman langsung (hands on experience) dalam memanfaatkan teknologi canggih dalam
proses pembelajaran.
Konsep belajar terbuka di sekolah atau berbasis aneka sumber (resource based learning)
akan mengubah fungsi guru dikelas – yang tidak hanya satu-satunya sumber belajar dan dapat
mengembangkan metode mengajar di kelas. Konsep belajar terbuka artinya guru tidak hanya
mempunyai suatu sumber belajar (buku) dan satu metode (ceramah) tetapi dapat melakukan
7
Makalah pada Seminar Strategi dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Kabupaten Siak, 6
Mei 2004, di Siak Sri Indrapura.
variasi dalam pembelajaran sehingga siswa menjadi aktif.
Sumber belajar terbuka bisa bersumber dari (1) internet, (2) Radio, (3) Televisi, (4) Tape
Recorder, (5) CD Player, (6) komputer, (6) laboratorium alam (masyarakat) dan sejenisnya.
Berikut ini akan diuraikan secara singkat masing-masing bagian.
1. Internet
Apa itu internet (international nelwork). Internet adalah kumpulan komputer antarsatu
wilayah dan wilayah lainnya yang terkait dan saling berkomunikasi, dimana keterkaitan dan
komunikasi ini diatur oleh protokol. (Gatot Subroto, 1999) Dengan kata lain, internet adalah
media komunikasi yang menggunakan sambungan seperti halnya telepon, yang tentunya
disambungkan dengan komputer serta modem. Namun, berbeda dengan telepon yang
komunikasinya harus dilakukan dengan oral dan dilaksanakan secara bersamaan atau simultan,
maka pada internet komunikasi yang dilakukan umumnya tertulis tanpa perlu dilakukan secara
bersamaan antara pengirim dan penerima berita tersebut.
Internet telah mengubah wajah komunikasi dunia yang sejak lama didominasi oleh
perangkat digital non komputer, seperti: telegram, telepon, fax, dan PBAX, menjadi komunikasi
komputer yang global. Dengan internet, maka di manapun kita berada dapat berhubungan satu
sama lainnya dengan perangkat komputer tanpa dibatasi lagi oleh ruang dan waktu. Hal inilah
yang mensyaratkan adanya sambungan kabel telepon.
Bersamaan dengan perkembangan pesat teknologi informasi sekarang ini, ada semacam
persiapan yang bisa ditempuh orang tua dalam membantu anak-anak mereka untuk tetap berjalan
seiring dalam era informasi ini. Beberapa langkah persiapan yang bisa ditempuh orang tua
adalah, pertama orang tua harus memastikan diri bahwa mereka mempunyai pengetahuan dan
kemampuan praktis tentang komputer pribadi. Alasannya sangat sederhana, bagaimana orang tua
bisa mengajarkan anak-anak mereka naik sepeda sedangkan mereka sendiri tidak bisa naik
sepeda. Namun demikian, orang tua tidak perlu menjadi seorang ahli dalam menggunakan
komputer supaya menjadi contoh positif bagi anak-anak mereka menggunakan teknologi ini.
Dapat dipertimbangkan untuk mengikuti pelajaran komputer di tempat anak bersekolah, atau
mempelajari melalui buku tentang komputer bagi pemula khususnya.
Kedua, mulai membiasakan anak-anak untuk menggunakan komputer. Ini seperti
layaknya mengendarai sepeda,
karena sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,
mengendarai sepeda menjadi sebuah pengalaman tersendiri. Langsung menggunakan komputer
juga dapat memberikan semacam pengalaman bagi anak-anak untuk merasakan nyaman dan
senang, sehingga dapat berkreasi dalam mengoperasikan teknologi canggih tersebut. Salah satu
kunci utama untuk mengatur apa yang boleh dan tidak boleh masuk ke dalam rumah dari media
adalah secara langsung mengamati anak-anak. Artinya orang tua harus berada dekat dengan
anak-anak pada saat mereka menjelajah jaringan Internet. Kalau memang khawatir, sebetulnya
komputer pribadi dapat dipindahkan ke ruang keluarga berkumpul atau tempat-tempat yang
terbuka dan mudah diawasi.
Bila di rumah anda belum terpasang jaringan internet, anda tidak perlu berkecil hati.
Sekarang sudah banyak wartel, warung telekomunikasi yang tidak hanya menyediakan jasa
fasilitas telepon saja, tapi juga internet. Kita bisa menggunakan (baca: sewa) selama kita mau
dan mampu. Hanya tinggal membayar sewanya, dan harga sewanya cukup terjangkau dengan
8
Makalah pada Seminar Strategi dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Kabupaten Siak, 6
Mei 2004, di Siak Sri Indrapura.
tarif rata-rata adalah Rp.10.000,- per jam.
Lebih jauh, sekarang pelayanan jasa internet sudah dikemas dengan lebih apik, nyaman,
dan menyenangkan. Di Jakarta, Gatot Subroto (1999) pernah menjumpainya di daerah Blok M
Plaza (lantai IV dan V) yaitu Smashnet dan X-Trac, adalah dua tempat gaul internet yang bisa
dikunjungi oleh semua orang (kebanyakan pada umumnya remaja). Di Citraland dan Roxy Mas,
juga ada fasilitas seperti ini, kalau hari Sabtu tempat ini penuh akan antrean remaja yang hobi
akan teknologi dan menjelajah atau melanglang buana di dunia maya. Satu lagi di Mall Taman
Anggrek, sebuah tempat bernama NetCafe yang mengkemas dan meramu pojok internetnya
lebih bersuasana café. Sedangkan internet untuk keperluan anak-anak, pada dasarnya tidak jauh
berbeda dengan servis internet yang digunakan untuk internet biasa secara umum, yang
menonjol di sini mengenai informasi dan isi pengetahuan yang ditampilkannya, khususnya yang
mendukung perkembangan anak. Namun, salah satu tantangan yang cukup besar di dunia
internet adalah masalah penggunaan bahasa Inggris, sehingga dibuatkan perbendaharaan kata
dan pemahaman bahasa Inggris yang memadai bagi mereka untuk menjelajahi jaringan Internet.
Hal ini sekaligus merupakan suatu sarana untuk melatih dan mempraktikan kemampuan
berbahasa Inggris.
Beberapa contoh aplikasi internet untuk pendidikan yang mungkin akan menarik untuk
anak kita akan diberikan di bawah ini. Misalkan situs www . safekids.com – yang didirikan tahun
1994. Lawrence Magid menulis "Child Safety on the Information Highway" dan melanjutkan
penelitiannya pada masalah ini serta menciptakan Safekids.com. Sebuah situs yang membantu
orang
tua guru, anak-anak dan remaja dalam mempelajari cara-cara
yang
aman dalam
menjelajahi dunia Internet. Letsfindout.com merupakan tempat yang
sangat baik untuk
menambah pengetahuan atau untuk anak-anak atau siapapun yang ingin tahu tentang berbagai
hal.
2. Televisi
Memang televisi semakin dekat dengan anak. Banyaknya pilihan acara yang disuguhkan
dari berbagai stasiun televisi, membuat anak semakin senang nongkrong di depan layar televisi.
Pihak stasiun televisi tidak sedikit menyediakan acara-acara khusus untuk dikonsumsi anak-
anak. Simak saja acara-acara Sabtu dan Minggu pagi hampir semua stasiun TV menyajikan
program anak-anak. Apalagi kini komunikasi antara orang tua dan anak cenderung berkurang
sebagai konsekuensi kesibukan para orang tua pada pekerjaaanya serta makin hilangnya budaya
dongeng orang tua saat pengantar tidur. Pendek kata, televisi sudah merupakan teman akrab
mereka yang setiap saat mereka bisa menyaksikannya. Tulisan ini akan mencoba menganalisis
bagaimana potensi media televisi dan dampaknya terhadap perilaku anak serta konstribusi faktor
keluarga dalam menagkal gencarnya siaran televisi tersebut.
Mengapa televisi diduga bisa menyulap sikap dan perilaku masyarakat, terutama pada
anak-anak. Menurut Skomis, dibandingkan dengan media massa lainnya (radio, surat kabar,
majalah, buku, dan lain sebagainya), televisi tampaknya mempunyai sifat istimewa. Televisi
merupakan gabungan dari media dengar dan gambar hidup (gerak/live) yang bisa bersifat politis,
bisa, informatif, hiburan, pendidikan, atau bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut. Ekspresi
korban kerusuhan di Ambon misalnya, hanya terungkap dengan baik lewat siaran televisi, tidak
lewat koran ataupun majalah. Ratapan orang kelaparan di Ethiophia, gemuruhnya tepuk tangan
9
Makalah pada Seminar Strategi dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Kabupaten Siak, 6
Mei 2004, di Siak Sri Indrapura.
penonton sepak bola di lapangan hijau, hiruk pikuknya suasana kampanye di bunderan Hotel
Indonesia, tampak hidup di layar televisi.
Sebagai media informasi, televisi memiliki kekuatan yang ampuh (powerful) untuk
menyampaikan pesan. Karena media ini dapat menghadirkan pengalaman yang seolah-olah
dialami sendiri dengan jangkauan yang
luas (broadcast) dalam waktu yang bersamaan.
Penyampaian isi pesan seolah-olah langsung antara komunikator dan komunikan. Melalui
stasiun televisi, kerusuhan di Ambon dapat diterima di Banda Aceh dan di Jayapura dalam waktu
bersamaan. Begitu pula acara pertandingan AC Milan melawan Juventus di Italia dapat langsung
dinikmati pemirsa RCTI di Indonesia. Sungguh luar biasa, infomasi/kejadian di belahan bumi
sana bisa diterima langsung di rumah. Televisi bisa menciptakan suasana tertentu, yaitu para
penonton dapat melihat sambul duduk santai tanpa kesengajaan untuk menyaksikannya Memang
televisi akrab dengan suasana rumah dan kegiatan penonton sehari-hari.
Televisi dapat pula berfungsi sebagai media pendidikan. Pesan-pesan edukatif baik dalam
aspek kognetif, apektif, ataupun psikomotor bisa dikemas dalam bentuk program televisi. Secara
lebih khusus televisi dapat dirancang/dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Pesan-pesan
instruksional, seperti percobaan di laboratorium dapat diperlihatkan melalui tayangan televisi.
Televisi juga dapat menghadirkan objek-objek yang berbahaya seperti reaksi nuklir, objek yang
jauh, objek yang kecil seperti amuba, dan objek yang besar secara nyata ke dalam kelas.
Keuntungan lain, televisi bisa memberikan penekanan terhadap pesan-pesan khusus pada peserta
didik, misalnya melalui teknik close up, penggunaan grafis/animasi, sudut pengambilan gambar,
teknik editing, serta trik-trik lainnya yang menimbulkan kesan tertentu pada sasaran sesuai
dengan tujuan yang dikehendaki.
Memang kekuatan televisi menurut Kathleen Hall Jamieson sebagai dramatisasi dan
sensasionalisasi isi pesan. Begitu pula menurut pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat (1991),
gambaran dunia dalam televisi sebetulnya gambaran dunia yang sudah diolah. Dalam hal ini
Jalaludin Rakhmat menyebutnya sebagai Tangan-tangan Usil. Tangan pertama yang usil adalah
kamera (camera), gerak (motions), ambilan (shots), dan sudut kamera (angles) menentukan
kesan pada diri pemirsa.
Tangan kedua adalah proses penyuntingan. Dua gambar atau lebih dapat dipadukan untuk
menimbulkan kesan yang dikehendaki. Sinetron Jin dan Jun di RCTI misalnya, seolah-olah
mereka bisa masuk ke dalam tembok, berjalan di angkasa, berlari-lari di atas air, atau bisa
menghilang. Adegan memenggal kepala orang, bertarung di angkasa dan bentuk adegan lainnya
yang tidak lazim dilakukan dalam kehidupan, merupakan hasil ulah editor dalam proses
penyuntingan.
Tangan ketiga adalah ketika gambar muncul dalam layat televisi kita. Layar televisi
mengubah persepsi kita tentang ruang dan waktu. Televisi juga bisa mengakrabkan objek yang
jauh dengan penonton. Seorang penonton sepak bola di rumahnya berteriak kegirangan ketiga
Ronaldo (Inter Milan) memasukan bola ke gawang Juventus. Memang televisi bisa menjadikan
komunikasi interpersonal antara penonton dengan objek yang ditonton. Perasaan gembira, sedih,
simpatik, bahkan cinta bisa terjalin tanpa terhalang oleh letak geografis nan jauh di sana. Tangan
keempat adalah perilaku para
penyair televisi. Mereka dapat menggarisbawahi berita,
memberikan makna yang lain, atau sebaliknya meremehkannya.. Mereka mempunyai posisi
stategis dalam menyampaikan pesan pada khalayak.
Besarnya potensi media televisi terhadap perubahan masyarakat menimbulkan pro dan
10
Makalah pada Seminar Strategi dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Kabupaten Siak, 6
Mei 2004, di Siak Sri Indrapura.
kotra. Pandangan pro melihat televisi merupakan wahana pendidikan dan sosialisasi nilai-nilai
positif masyatrakat. Sebaliknya pandangan kontra melihat televisi sebagai ancaman yang dapat
merusak moral dan perilaku desktruktif lainnya. Secara umum kontraversial tersebut dapat
digolongkan dalam tiga katagori, yaitu pertama, tayangan televisi dapat mengancam tatanan nilai
masyarakat yang telah ada, kedua televisi dapat menguatkan tatanan nilai yang telah ada, dan
ketiga televisi dapat membentuk tatanan nilai baru masyarakat termasuk lingkungan anak.
3. Radio
Dewasa ini terdapat 1069 stasiun radio dari berbagai jenis di berbagai daerah di seluruh
Indonesia, belum termasuk stasiun radio yang baru memperoleh izin sejak bulan Mei 1998.
Wilayah jangkauannya secara geografis mencakup segenap daratan dan sebagian besar lautan
Nusantara -meskipun karena kendala teknis dan topografis tidak akan dapat mencakup setiap
desa dari 66.545 kelurahan yang ada. Lebih dari itu, radio tidak memerlukan persyaratan khusus
yang diperlukan khalayak media massa lain, seperti kemampuan ekonomi atau keterampilan
membaca. Menurut hasil Suscnas, pada tahun 1991 saja sudah lebih dari 69% penduduk yang
berusia 10 tahun ke atas mendengarkan radio ‘seminggu yang lalu, angka ini diperkirakan telah
meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Pemilikan pesawat radio oleh masyarakat sudah begitu
merata dan banyak, sehingga statistik mengenai hal itu tidak lagi dapat diperoleh. Lihat:
Direktorat Jenderal RTF (1998), BPS (1991). Jumlah Dati II, kecamatan dan kelurahan adalah
data 1997 menurut catatan Pusat Informasi Nasional.
Di negara liberal Barat, khususnya Amerika Utara, terdapat dua arah perkembangan. Di
dalam negeri radio sejak awal sudah berkembang sebagai industri non pemerintah penunjang
kehidupan ekonomi dan politik. Tetapi terhadap dunia internasional, radio dikembangkan
sebagai institusi komunikasi politik dari pemerintah dan negara; perhatikan misalnya Voice of
America, Radio Free Europe, dsb. Di Eropa, media massa radio untuk komunikasi politik dalam
negeri sampai sekarang masih ada yang merupakan institusi pemerintah walaupun dengan sifat
yang independen, umpamanya BBC. (Untuk informasi mengenai perkembangan radio sebagai
institusi, lihat: Hiebert, 1991 dan Dominick, 1990)
Dengan
teknologi MPE baru, stasiun dengan warna lokal yang khas mulai pula
berkembang sebagai radio global melalui jaringan internet. Setidaknya ratusan stasiun radio
lokal dari segenap penjuru dunia seperti itu sekarangpun sudah dapat diakses secara online.
4. Tape Recorder, CD Player dan Televisi
Ketika jenis benda elektrokik ini sudah dikenal umum, Tape recorder adalah untuk
merekam dan memutar kaset, sedangkan CD Player adalah untuk memutar CD Rom, di mana
televisi selain sebagai wadah tontonan adalah sebagai media pelengkap CD|rom.
5. Komputer
Komputer yang digunakan sebagai basis dalam kegiatan pembelajaran pada dasamya
menerapkan konsep efektivitas dalam kegiatan pengajaran dan pengelolaan. Pada fase I,
11
Makalah pada Seminar Strategi dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Kabupaten Siak, 6
Mei 2004, di Siak Sri Indrapura.
komputer memainkan peran sebagai alat bantu yang dikenal dengan sebutan Computer-asisted
instruction (CAI), Computer based instruction (CBI), Computer-enriched instruction (CEI), dan
Computer-managed instruction (CMI). Namun memasuki fase II komputer telah memainkan
peran dalam bentuk CMC (Computer mediated communication). Pemunculan CMC menggeser
peran komputer dalam kegiatan pembelajaran dari alat bantu menjadi sumber belajar. Namun
tidak mengurangi arti sebagai alat bantu guru dalam mengajar materi yang sulit (bahaya) dan
berulang dan yang
kurang dikuasainya. Misalnya tentang
gerak, pertumbuhan, ledakan,
pembedahan, pewarnaan, desain, audio dan video dan sebagainya. Karena itu komputer bisa
merangsang inovasi, kreatifitas, dan produkifitas guru dan siswa.
Berbagai software telah diciptakan untuk mendesain pembelajaran dengan komputer, di
mana dikenal istilah program interaktif, yaitu suatu desain pembelajaran, di mana pemakainya
seperti sedang melakukan interaksi dengan seseorang, layaknya sebuah game, sehingga tidak
membosankan, selain itu dilengkapi dengan berbagai ilustrasi yang menarik dan hidup dan
merangsang belajar.
Pada fase II memungkinkan komputer membantu lebih luas, karena CMC telah ditopang
dengan berbagai media (multimedia) untuk menyampaikan informasi atau pengetahuan dalam
upaya meningkatkan kegiatan pembelajaran secara efektif. Melalui media ini unsur-unsur dasar
kegiatan pembelajaran memungkinkan untuk tercapai secara optimal. Unsur-unsur itu antara lain
terjadinya interaksi antar individu - baik guru-siswa, antarsiswa, siswa dengan orang lain
(pakar), dan/atau masyarakat sosial lainnya.
Pergeseran pemakaian sistem komputer ini bukan tanpa dasar, pergeseran ini merupakan
perwujudan pergeseran konsep belajar dari prinsip-prinsip yang cenderung behavioristik ke
prinsip-prinsip belajar kognitivistik, dari pola preskriptif ke deskriptif, dari yang menekankan
pada proses pengulangan (drill) ke pola-pola pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Di sisi lain, perubahan prinsip belajar berbasis komputer ini juga memberikan dampak pada
profesionalitas guru. Dalam hal ini, guru sudah harus menambah pengetahuan dan keterampilan
dalam profesi yang baru dalam upaya meningkatkan prestasi akademik dan mencapai tujuan
belajar.
Dengan pergeseran sistem pembelajaran yang berbasis komputer, dari alat bantu menjadi
sumber belajar ini, khasanah pengetahuan terbuka luas. Belajar tidak lagi terkukung dalam ruang
kelas semata, melainkan telah mampu menjelajah ke dunia lain baik dalam intranet maupun
secara global internet. Guru dan siswa hampir tanpa batas waktu dan ruang untuk berinteraksi,
begitu juga antara siswa dengan para pakar. Semua terpampang di depan mata. Dalam hal ini,
kemampuan mengorganisir, menganalisis dan menyeleksi informasi-informasi yang paling tepat
sangat penting artinya. Dengan kata lain ruang ini telah kebanjiran data atau informasi untuk
senantiasa dicermati oleh berbagai pihak, temasuk siswa-siswa dan para pendidik. Dari luapan
informasi itu mungkin saja sebagian besar informasi itu tidak perlu, dan tidak dibutuhkan oleh
siswa atau pendidik. Begitu juga dalam upaya mengambil kebijakan, tidak semua informasi
memberikan dukungan terhadap kebijakan.
C. Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Teknologi Pembelajaran
Uraian berikut bukan bermakud suatu keharusan sebuah sekolah memiliki atau membeli
semua perankat yang disebutkan karena selain harga yang mahal, juga teknis pemakaian,
12
Makalah pada Seminar Strategi dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Kabupaten Siak, 6
Mei 2004, di Siak Sri Indrapura.
perawatannya yang sulit, juga sulit mencarinya,
tetapi uraian ini bermaksud memberikan
gambaran ideal bila sekolah mampu memilikinya sendiri, jika tidak sekolah bisa memanfaatkan
dengan sistem kerja sama atau bagi hasil dengan pihak luar.
Hardware (perangkat keras) yang harus dipunyai oleh sekolah adalah: (a) Radio, (b)
televisi, (c) Tape recorder (d) CD Player, (e) Camera tustel, (f) Kamera video, (g) CCTV, (h)
Handy Talky, (i) Proyektor, dan sejenisnya, sementara software yang harus dimiliki adalah (1)
Identifikasi Program, (2) Kaset pembelajaran (3) Video Pembelajaran, (4) Internet.
Bagaimanakah teknis atau strategi pembelajaran mengunakan alat dan sumber ini, hal ini
akan dibicara pada kesempatan lain.
D. Starategi Penerapan
Setiap sekolah, setiap daerah desa, kecamatan dan kabupaten di mana saja berbeda.
Makin sederhana suatu sekolah, desa, kecamatan dan kabupaten, makan semakin sederhana
perubahan/ pembaharuan yang dapat dilakukan tetapi semakin maju suatu sekolah, desa,
kecamatan dan kabupaten maka semakin kompleks pula perubahan yang dapat dilakukan, atinya,
perubahan/ penbaharuan membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang besar dan banyak.
Berdasarkan pemikiran ini, maka pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran tergantung
dengan karakteristik sekolah, desa, kecamatan dan kabupaten yang bersangkutan, artinya makin
sederhana sekolahnya makin sederhana teknologi yang diterapkan dan semakin maju sekolah itu
maka semakin kopmpleks teknologi yang dapat diterapkan.
Namun, betapun kesimpulan ini sederhana, kita tidak boleh mengatakan nanti, kalau bisa
dilakukan hari mengapa harus esok, karena hari esok kita sudah dibelakang lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Said Suhil, dkk. (2000). Studi Gugus Perairan di Kabupaten Kepulauan Riau.
Penelitian. Pekanbaru, Lembaga Penelitian Universitas Riau.
Ahmad, Said Suhil. (2003). Model Pelatihan Profesional Guru, Makalah disampaikan pada
Rapat Lintas Sektoral Bidang Pendidikan, 4 Januari 2003 di Pekanbaru
Arifin, M, H. (1994). Ilmu Perbandingan Pendididikan. Jakarta: Golden Trayon Press
Adningsih, Utami. (1999). Kualitas dan Profesionalisme Guru. Internet.
Anwas, M. Oos, (2004) Antara Televisi, Anak, dan Keluarga (Sebuah Analisis). Jurnal
Pustekkom Depdiknas.
Balitbang,Biro Humas dan Hukum. (Kompas, 2 Juli 2002) Kurikulum Berbasis Kompetensi
Baru Diimplementasi Tahun 2004.
Belawati, Tian. (2000). Prinsip-Prinsip Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. Jakarta:
Depdiknas.
Dahlan Alwi, M. (1999). Radio sebagai Media Pendidikan dan Komunikasi Politik. Prasaran
pada Diskusi Peran Strategis Radio dalam Rangka Membangun Indonesia Baru.
Diselenggarakan oleh Direktorat Radio, Direktorat Jenderal Radio Televisi dan Film.
Departemen Penerangan RI, di Jakarta, 16 Meret 1999.
Debdikbud. (1996-1997). Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah. Jakarta: Depdikbud
____________. (1997-1998). Pedoman Pelaksanaan Sistem Pembinaan Profesional Guru
Sekolah Dasar Melalui Gugus Sekolah. Jakarta: Depdikbud.
13
Makalah pada Seminar Strategi dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Kabupaten Siak, 6
Mei 2004, di Siak Sri Indrapura.
Darmaningtyas. (1999). Pendidikan pada dan Selepas Kriris: Evaluasi Pendidikan di Masa
Krisis. Yokyakarta: Pustaka Pelajar
Duta Hari Murthi Consultants, PT. (2002). Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Duta Hari
Murthi Consultants, PT.
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat. (2001). Modul Manajemen Berbasis Sekolah. Badung.
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat.
Kuntjaraningrat. (1982) Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Mulyasa. (2002). Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung. Remadja Rosdakarya.
Nurholis. (1991). Hakekat Desenteralisasi Model MBS. Pendidikan Networ: internet.
Puspitasari, Ambar, Kristanti. (2002). Layanan Bantuan Belajar Dalam Sistem Pendidikan
Terbuka dan Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas.
Padmo, Dewi. (2001). Ragam dan Pemilihan Media Dalam Sistem Pendidikan Terbuka dan
Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas
Saifullah, Ali. (1982). Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan. Suarabaya: Usaha Nasional.
Saepudin Asep. (2000). Potret Pendidikan dalam Alih Ilmu dan Teknologi, internet.
Sidi, Indra Djati. (2001). Menuju Masyakarat Belajar. Jakarta: Paramadia.
Supriadi, Dedi. (1999). Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Edisi kedua. Yokyakarta: Mitra
Gama Widyaa.
Sindhunata. (2000, editor). Menggas Paradigma Baru Pendidikan. Jakarta: Kanisius.
Suparman, Atwi. (1996). Pendidian Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas.
Tilar. (1999). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional. Magelang: Indonesia Tera.
Undang-Undang RI, Nomor 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional.
DATA PEMAKALAH
Nama
:
Drs. Said Suhil Achmad, M, Pd
Tempat/Tgl Lahir
:
Alai Kecamatan Kundur Kepulauan Riau, 6 Nopember 1958.
Alamat
:
Jalan Datuk Laksamana Gg. IV/21 A Kecamatan Sail, Gobah Pekanbaru
Telp. Rumah 0761- 28507 – HP 08127531239
Nama Istri
:
R. Arbaiyah, S.Pd, Guru SMP 16 Pekanbaru
Anak
:
Syarifah Masitah, Siswa Kelas 1 MAN 2 Pekanbaru
Said Iqrak Pahlevi, siswa kelas 2 SDN 003 Sail Pekanbaru.
Pekerjaan
:
Dosen pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas
Riau Pekanbaru (1986 - sekarang)
Dosen Pascasarjana Magsister Manajemen Pendidikan Universitas Riau
(2002- sekarang)
Pendidikan dan Pelatihan
Sekolah Dasar (SD) di SDN Negeri 04 Kecamatan Kundur (1971).
PGA Daerah 4 Tahun Tanjungbatu Kundur (1975).
PGA Daerah 6 Tahun Tanjungbatu Kundur (1977).
Sarjana Muda (BA) Bimbingan dan Penyuluhan pada FIP Universitas Riau (1982).
Sarjana Administrasi Pendidikan FKIP Universitas Riau (1985).
Magister Pendidikan Jurusan Administrasi Pendidikan Pascasarjana IKIP Jakarta KPK Padang (1996).
Kursus SBM di SFU Vancouver, Canada, September - Oktober 2002
Kursus Digital Studio, Mei 2003 di Jakarta
Pelatihan Menulisan Naskah Program TV dan Video Instruksional, di ITB Bogor, 7-11 Juli 2003
Pelatihan Sistem Pendidikan Jarak Jauh Pustikom, Bogor, 22-26 Oktober 2003.
Pelatihan Sistem Pendidikan Jarak Jauh Pustikom, Padang , 08 - 15 Maret 2003.
14
Makalah pada Seminar Strategi dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Kabupaten Siak, 6
Mei 2004, di Siak Sri Indrapura.
Langganan:
Postingan (Atom)
